PENGEMBANGAN ANALISIS DISKRIMINAN DALAM MEMPREDIKSI KEBANGKRUTAN PADA SEKTOR PERBANKAN DI INDONESIA TAHUN 1994-1997
GUSTINA ERMAWATI (Adv : DR. Indra Wijaya Kusuma, MBA), DR. Indra Wijaya Kusuma, MBA
Di dalam literature keuangan, nama Edward I. Altman memiliki kedudukan yang terhormat. Melalui model yang diciptakannya yang terkenal dengan "Analisis Diskriminan Altman" telah menarik perhatian para ahli. Model tersebut diterapkan pada perusahaan manufaktur di Amerika. Daya tarik model Altman ada dua, yaitu (1) kesederhanaan modelnya yang berbentuk fungsi linear ; dan (2) manfaat model tersebut yang bias digunakan untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan.
Dengan kemampuan model tersebut dalam memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan, diharapkan hasil yang diperoleh dari model tersebut bias memberikan informasi yang penting bagi pemilik perusahaan, investor, pengguna jasa keuangan, dan masyarakat pada umumnya, guna mengambil langkah perbaikan yang diperlukan.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kesahihan (validitas) model Altman apabila diterapkan pada lingkungan usaha dan kondisi geografis yang berbeda dengan didasarkan pada beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan standar dan teknik pelaporan keuangan perbankan di Indonesia.
Metode yang digunakan adalah (1) menghitung variabel-variabel yang akan digunakan dengan uji statistic diskriminan untuk menyusun suatu fungsi yang baru, (2) menghitung nilai Z dari tahun ketahun, dan (3) menghitung rata-rata nilai Z untuk setiap bank berdasarkan laporan keuangan tahun 1994-1997. Dengan mengetahui nilai Z setiap bank dan menentukan nilai tengahnya, maka kita bias mengetahui pengelompokkan bank berdasar kategori masing-masing. Selain itu kita bias melihat kinerja dan masa depan bank tersebut.
Dari hasil statistic uji diskriminan fungsi baru yang terbentuk, yaitu:
Z = 42,245 — 3,004 V2 — 71,607 V7 + 83,757 V10 + 81,385 V26 — 0,004 V27
-1,349 V30 — 36,737 T2b — 55,859 T7b — 48,470 T10b — 0,10 T25b + 71,633 T30b
Dan sebelas variabel, dua variable yaitu V2 dan T2b digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan. VariabelV7, V26, V30, Tb, dan T30b, kesemuanya mengukur kerentanan dari suatu perusahaan dalam hal insolvency dan kekurangan modal. Modal yang relative rendah dibandingkan total asset, saldo laba ditahan yang rendah, dan kecenderungan untuk meminjam dan apa ada pihak ketiga gun membiayai operasional perusahaan merupakan tanda-tanda munculnya masalah yang serius dalam suatu perusahaan.
Dari hasil perhitungan nilai Z dapat diketahui bahwa analisis diskriminan ini bias diterapkan pada perbankan di Indonesia dengan beberapa modifikasinya.
Meskipun dari basil yang diperoleh ada beberapa kesalahan pengklasifikasian pengelompokkan kategori bank dan ada beberapa fakta yang berbeda, yaitu yang terjadi pada Bank Panin.
Kata Kunci : Perbankan, Indonesia, kebangkrutan