Perencanaan Pengembangan Sektor Pertanian Sub Sektor Tanaman Pangan di Kabupaten Kulon Progo: pendekatan Sift Share Location Quotion dan Indeks Sentralitas
Fafurida, Dr. Samsubar Saleh, M.Soc.Sc
2008 | Tesis | S2 EconomicsTujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat perencanaan dalam upaya pengembangan sektor pertanian khususnya tanaman pangan demi peningkatan perekonomian daerah. Alat analisis yang digunakan adalah dengan analisis Shift Share, Location Quotient (LQ) dan analisis Indeks Sentralitas. Analisis Shift Share digunakan untuk mengetahui komoditas-komoditas tanaman pangan yang memiliki keunggulan kompetitif di tiap kecamatan. Sedangkan dari hasil analisis Location Quotient (LQ) dapat diketahui komoditas-komoditas tanaman pangan yang memiliki keunggulan komparatif di tiap kecamatan. Dari hasil analisis Shift Share dan Location Quotient (LQ) akan diketahui komoditas-komoditas tanaman pangan yang dapat dikembangkan di tiap kecamatan. Komoditas tanaman pangan yang dapat dikembangkan di tiap kecamatan adalah komoditas tanaman pangan yang memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif atau salah satunya. Pengembangan komoditas tanaman pangan unggulan dilakukan dengan pembangunan industri pengolahan dan sentra produksi. Pemilihan lokasi industri pengolahan tanaman pangan berdasarkan asumsi bahwa investor akan masuk ke suatu daerah apabila: 1) Infrastruktur di daerah tersebut baik, hal ini diukur dari besarnya nilai indeks sentralitas, 2) Daya beli masyarakat baik, hal ini diukur dari nilai PDRB per kapita. Dengan melihat komoditas tanaman unggulan, nilai indeks sentralitas dan PDRB per kapita akan ditentukan arah pengembangan masing-masing komoditas tanaman pangan yaitu dengan menentukan wilayah sentra produksi dan industri pengolahan. Sentra produksi padi direkomendasikan di kecamatan Temon, Panjatan, Galur, Lendah, Kokap, Girimulyo, Nanggulan dan Samigaluh, sedangkan industri penggilingan padi dibangun di Kecamatan Wates dan Pengasih. Untuk komoditas jagung, pembangunan industri pengolahan di Kecamatan Sentolo dan Pengasih, sedangkan sentra produksinya di Kecamatan Temon, Lendah, Kokap, Kalibawang dan Samigaluh. Komoditas tanaman ketela pohon, sentra produksinya terdapat di Kecamatan Temon, Kokap, Girimulyo, Kalibawang dan Samigaluh, sedangkan industri pengolahan ketela pohon didirikan di Kecamatan Sentolo dan Pengasih. Sentra produksi ketela rambat adalah di Kecamatan Panjatan, Pengasih, Kokap dan Girimulyo, sedangkan industri pengolahannya terdapat di Kecamatan Wates. Untuk komoditas tanaman kacang tanah, industri pengolahannya didirikan di Kecamatan Wates dan Pengasih dengan sentra produksi di Kecamatan Temon, Lendah, Kokap Girimulyo dan Samigaluh. Sentra produksi komoditas tanaman kedelai terdapat di Kecamatan Temon, Galur, Lendah, Nanggulan dan Kalibawang, sedangkan industri pengolahannya terdapat di Kecamatan Sentolo dan Pengasih. Kecamatan Temon, Sentolo dan Pengasih merupakan sentra produksi tanaman kacang hijau dengan industri pengolahan di Kecamatan Wates. Kata Kunci : Pengembangan, Tanaman Pangan dan Komoditas Unggulan
The objective of this research is to make planning in the development of agricultural sector especially food crops for the economic area improvement. The tools of analysis applied are shift share, Location Quotient (LQ) and central index analysis. Shift share analysis is applied to know such superb competitive food crops commodities in each sub-district. From the result of shift share and Location Quotient (LQ), it can be recognized kinds of food crops commodities which can be developed in each sub-district. Food crops commodities which can be developed in each sub-district are those with a superb competitive and comparative, or both. The development of the superb food crops is conducted with the development of processing and central industry. The choosing of the food crops industrial processing location is based on an assumption that investor will be interested if 1) there is an available infrastructure, this can be measured from the level of central index value, 2) society purchasing power is fine, this can be measured from the level of PDRB per capita. By observing the superb crops commodity, central index value, and PRDB per capita, it can be determined the development direction of each food crops commodities, that is by specifying central production area and processing industry. Paddy central production is recommended in Temon, Panjatan, Galur, Lendah, Kokap, Girimulyo, Nanggulan and Samigaluh sub-districts, and rice mill is developed in Wates and Pengasih sub-districts. For Maize commodity, the development of processing industry is conducted in Sentolo and Pengasih sub-districts and its central production is in Temon, Lendah, Kokap, Kalibawang and Samigaluh sub-districts. For cassava crops commodity, the central production is in Temon, Kokap, Girimulyo, Kalibawang and Samigaluh sub-districts, and its processing industry is founded in Sentolo and Pengasih sub-districts. Central production of sweet potatoes is in Panjatan, Pengasih, and Girimulyo subdistricts, and its processing industry is in Wates sub-district. For peanuts commodity, the processing industry is founded in Wates and Pengasih sub-districts, and its central production is in Temon, Lendah, Kokap, Girimulyo and Samigaluh sub-districts. Central production of soybeans crops commodity is located in Temon, Galur, Lendah, Nanggulan and Kalibawang sub-districts and its processing industry is in Sentolo and Pengasih sub-districts. Temon, Sentolo, and Pengasih sub-districts are the central production for the green beans crops with processing industry in Wates sub-district. Keywords: Development-Food Crops-Superb Commodity
Kata Kunci : Perencanaan Pengembangan; Pertanian; Tanaman Pangan; Sift Share Location; Indeks Sentralitas