Laporkan Masalah

Iklim Komunikasi Organisasi dan Potensi Konflik : Studi Pada Kantor Pelayanan PBB Kudus

ERVANDI, MOHAMAD (Pembimbing : Drs. Gugup Kismono, MBA), Drs. Gugup Kismono, MBA

2002 | Skripsi | S1 Extention - Management

Kantor Pelayanan PBB Kudus sebagai instansi pemerintah di bidang perpajakan, pola interaksi dan komunikasi organisasinya banyak dipengaruhi oleh peraturan. Komunikasi birokrasi yang dijalankan oleh atasan terhadap bawahan membentuk iklim komunikasi tertentu pad a organisasi. Ditengarai terdapat dua iklim komunikasi dalam organisasi, yaitu iklim defensif dan iklim suportif. Perilaku defensif terjadi ketika individu merasa terancam atau mengantisipasi ancaman dalam kelompok. Sedangkan perilaku suportif adalah perilaku yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Iklim defensif berdampak buruk bagi organisasi, sedangkan iklim suportif sangat membantu dalam keharmonisan hubungan kerja.

Penelitian ini berusaha mengetahui persepsi bawahan terhadap iklim komunikasi organisasi, potensi konflik, hubungan iklim komunikasi dan potensi konflil<, serta penqaruh perbedaan atribut gender den golongan pangkat (status) bawahan terhadap persepsi tersebut. Persepsi iklim komunikasi organisasi diukur dengan menggunakan Inventori Iklim Komunikasi yang dikembangkan oleh Jack R. Gibb (1976), berupa 36 item pernyataan yang menjelaskan 12 karakter, yaitu: enam karakter iklim defensif dan enam karakter iklim suportif. Inventori ini menggunakan pendekatan iklim komunikasi organisasi yang melihat pad a hubungan atasan dan bawahan. Enam item pernyataan Lembar Hubungan Kerja digunakan untuk mengetahui potensi konflik suasana kerja.

Dari populasi 61 bawahan pad a KP PBB Kudus diperoleh 41 responden (67,21 %). Penelitian ini secara signifikan menunjukkan bahwa iklim komunikasi yang berkembang pad a KP PBB kudus cenderung suportif daripada defensif, serta tidak adanya konflik serius pada suasana kerja KP PBB Kudus. Diketahui pula bahwa iklim komunikasi defensif berhubungan negatif secara signifikan dengan potensi konflik, pada tingkat hubungan sedang; sedangkan iklim komunikasi suportif tidak berkorelasi secara slqniflkan dengan potensi konflik. Diketahui pula bahwa: perbedaan gender berpengaruh pad a persepsi iklim komunikasi defensif, serta potensi konflik; dan tidak berpengaruh pada persepsi iklim komunikasi suportif.Sedangkan golongan pangkat (status) bawahan berpengaruh pada persepsi iklim komunikasi suportif; serta tidak berpengaruh pada persepst. iklim komunikasi defensif, dan potensi konflik.

Artinya, dalam berperilaku defensif atasan lebih memperhatikan gender daripada golongan pangkat, dan pada gilirannya hat ini mempengaruhi persepsi bawahan terhadap potensi konflik yang terjadi. Sedangkan dalam berperilaku suportif atasan lebih memperhatikan pad a golongan pangkat (status) daripada gender bawahan, yaitu dengan menerapkan hirarki status informal karyawan dalam berperilaku suportif.

Penelitian menyarankan organisasi agar mengurangi perilaku defensif dan mempertahankan serta meningkatkan perilaku suportif, dikarenakan iklim defensif mempunyai korelasi serta memberi pengaruh yang signifikan terhadap potensi konflik organisasi.

Kata Kunci : KP PBB, komunikasi, iklim komunikasi, organisasi, komunikasi orqanisasi, komunikasi defensif, komunikasi suportif, konflik, gender, golongan pangkat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.