Laporkan Masalah

ANALISIS KONSENTRASI INDUSTRI MANUFAKTUR DAN HUBUNGANNYA DENGAN URBANISASI DI JAWA (STUDI TAHUN 1996 dan 2000)

Eko Yuli Susanto (Adv: Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc.), Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc.

2004 | Skripsi | S1 Economics

Skripsi ini menganalisis pola konsentrasi industri manufaktur besar dan menengah (IBM) di Jawa antara tahun 1996 dan 2000 serta dampak dad pola konsentrasi industry terhadap pembentukan daerah metropolitan. Alat analisis yang digunakan dalam studi ini adalah: GIS (Geographic Information System), analisis diskriminan dan analisis korelasi.

Dengan menggunakan data tenaga kerja dan nilai tambah dari CD Data BPS tahun 1996 dan 2000 akan diperoleh klasifikasi daerah berdasarkan jumlah tenaga kerja dan nilai tambah yang timpang. Ketimpangan ini bisa dilihat dari jumlah kabupaten/kotamadya yang sedikit tetapi memiliki konsentrasi industri yang padat (dilihat dari jumlah tenaga kerja dan nilai tambah). Sementara daerah-daerah lainnya memiliki konsentrasi yang kurang padat. Dengan menggunakan tiga kelas klasifikasi daerah industri yaitu tinggi, menengah dan rendah daerah dengan konsentrasi tinggi adalah daerah yang termasuk ke dalam kelas tinggi. Sementara daerah yang kurang dalam jumlah tenaga kerja dan nilai tambah diklasifikasikan ke dalam kelas menengah dan rendah.

Pola konsentrasi industri ini bila dibandingkan dengan hasil analisis Firman (2003)

mengenai pembentukan daerah metropolitan (Extended Metropolitan Region) menunujukkan pola yang serupa. Pertanyaan yang akan dicari jawabannya adalah apakah pola konsentrasi daerah berdasarkan kepadatan industri berkorelasi kuat dengan pembentukan daerah metropolitan di Jawa? Atau bisa dikatakan bahwa apakah industrialisasi berhubungan kuat dengan urbanisasi di Jawa?

Dari hasil analisis klasifikasi serta analisis dengan GIS bisa diketahui pola konsentrasi industri di Jawa tahun 1996 dan 2000. Secara umum pola konsentrasi industry antara tahun 1996 maupun 2000 tidak banyak mengalami perubahan atau perluasan yang berarti. Konsentrasi industri (baik dilihat dari tenaga kerja maupun nilai tambah) masih berlokasi di sekitar Jabotabek, Bandung EIA (Extended Industrial Area), Semarang EIA, Surakarta dan Surabaya EIA.

Hasil analisis diskriminan menunjukkan bahwa memang terdapat perbedaan yang signifikan untuk ketiga daerah klasifikasi tersebut (rendah, menengah dan tinggi). Ini bisa dilihat dari classification results sebesar 92,9 % untuk tahun 1996 dan sebesar 93,1 % untuk tahun 2000, yang berarti pengelompokkan ketiga daerah tersebut memiliki ketepatan yang tinggi. Semua variabel penjelas (tenaga kerja, nilai tambah, upah, orientasi ekspor dan populasi) berpengaruh terhadap pengelompokkan ketiga daerah tersebut.

Hasil analisis dengan menggunakan korelasi Spearman menunjukkan bahwa terjadi korelasi yang kuat antara konsentrasi industri dengan pembentukan daerah metropolitan di Jawa tahun 1996 dan 2000. Kondisi ini bisa dilihat dari nilai Spearman's rho yang lebih besar dari 0,5 untuk kedua proxy industrialisasi (tenaga kerja dan nilai tambah). Pada tahun 1996 nilai Spearman's rho untuk tenaga kerja dengan populasi adalah sebesar 0,756 dan untuk nilai tambah dengan populasi adalah sebesar 0,671. Sedangkan pada tahun 2000 nilai Spearman's rho untuk tenaga kerja dengan populasi adalah sebesar 0,746 dan antara nilai tambah dengan populasi adalah sebesar 0,682. Dari hasil ini bisa disimpulkan bahwa industrialisasi berhubungan kuat dengan urbanisasi di Jawa.

Kata Kunci : konsentras ndustri, urbanisasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.