Laporkan Masalah

Optimalisasi Pengelolaan Hutan Produksi Kabupaten Grobogan

Ekoningtyas Margu Wardani (adv. Prof. Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc), Prof. Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc

2004 | Tesis | S2 Economics

Salah satu sumber daya alam yang potensial adalah hutan. Karena memiliki fungsi ekonomi sekaligus lingkungan. Pengelolaan sumber daya hutan untuk skala loka! berpengaruh positif terhadap keberlanjutan hutan pada masa yang akan datang. Hutan di Indonesia sedang mengalami ancaman yang serius. Kapasitas pengolahan kayu yang berlebihan, komitmen produksi yang berlebihan dengan mengorbankan konservasi, dan lemahnya hak akses pada hutan di tingkat loka! merupakan isu-isu kebijakan yang utama. Terjadi suatu rergeseran kebijakan dari yang semula sentralistik menuju ke arah desentralistik. Pergeseran ini mendesak remerintah dan organisasi non remerintah untuk memulihkan kembali fungsi mereka untuk memegang kendall manajemen.


Kabupaten Grobogan adalah salah satu daerah di Propinsi Jawa Tengah yang mempunyai luas 1.975,86 Km2, dengan penduduk sebanyak 1.346.225 jiwa (Grobogan dalam Angka, 2002). Secara topografis, merupakan lembah yang diapit oleh dua pegunungan kapur, yaitu Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Kapur Utara. Dua Pegunungan tersebut merupakan daerah hutan dengan tanaman utama Jati dan Mahoni, serta beberapa areal dipergunakan untuk perkebunan Minyak Kayu Putih. Kabupaten Grobogan termasuk salah satu penyangga beras nasional. Bahkan sector pertanian memberikan sumbangan yang paling besar dalam PDRB, yaitu sekitar 40 persen. Sampai saat ini Kabupaten Grobogan merupakan wilayah yang agraris, dimana banyak penduduknya yang menggandalkan sector pertanian dalam mata pencahariannya.


Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat optimalisasi pengelolaan sumber daya hutan di Kabupaten Grobogan sebelum dan sesudah berlakunya otonomi daerah. Serta untuk mengetahui kebijakan pengelolaan sumber daya hutan yang tepat dengan melibatkan sektor rumah tangga (petani penggarap di kawasan hutan negara) dan perusahaan (Perum Perhutani) di Kabupaten Grobogan. Penelitian ini menggunakan alat analisis Goal Programming dalam menentukan tingkat optimalitasnya.


Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi pengelolaan sumber daya hutan di Kabupaten Grobogan justru terjadi pada tahun 2000. Pada tahun 1997 dan 2000 menunjukkan bahwa program tumpangsari yang ditawarkan oleh Perhutani dalam rangka mengikutsertakan masyarakat untuk andil di dalamnya justru mengakibatkan inefisiensi. Hal ini ditunjukkan dengan basil analisis pada sektor tenaga kerja dan output maksimal yang dapat diperoleh.

Forest is one of the most important natural resources, because of the economic and environmental functions it has. The management of forest resources at the local level has a positive influence on the sustainability of forests in future. Forests face a serious threat in Indonesia today. Over exploitation of timber, production that doesn't take into account conservation issues, and the little access of the local population to forest resources constitute of the major policy issues. A shift in policy orientation is underway from the hitherto centralized to a decentralized one. The shift is compelling governments and Non government organizations to regain the control over management.


Grobogan regency is located in central Java, covering an area 1,975.86 Krn2, with a population of 1,346,225 (Grobogan in Numbers). The topography constitutes of valley that lies between two limestone (Karst) mountains, namely Kendeng and North Kapur mountains.The two mountains are forest areas with Jati and Manohi as the main trees species, along with some areas serving as Minyak Kayu putih plantation. Grobogan is one of the main rice growing regions in Indonesia, and the agricultural sector contributes about 40 percent to the regional domestic product, making it the largest sector in the economy of the regency. Agriculture is the mainstay of people in Grobogan regency.


The objective of this research was to identify the level of optimization attained in the management of forest resources in Grobogan regency prior to and after the implementation of regional autonomy policy, and to identify the most appropriate policy to manage forest resources that involves the participation of households drawn from the local people (tenants of the state owned forests) and companies (Perum Perhutani) in Grobogan regency. The research used goal programming analysis to determine the level of optimality.


The conclusion made from research findings indicated that forest management efficiency of forest resource in Grobogan regency was reached in 2000. On the contrary, it was found out that the program of multi-cropping which was initiated by Perhutani as a means of involving the local population led to inefficiency. Proof of this is shown by analysis results of the labor force sector and the maximum output that can be achieved.

Kata Kunci : hutan produksi, pengelolaan, Kabupaten Grobogan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.