Laporkan Masalah

kemampuan lembaga keuangan Mikro Dalam Memenuhi Kebutuhan Kredit The Non-Bankable dan Mencapai Tingkat Pengembalian Pinjaman Tinggi (studi Kasus LKM Binangun Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo, DIY)

DJANEGARA, R. RAHADIAN M.S. (Pembimbing: Agus Setiawan, Dr., M.Soc.Sc.), Agus Setiawan, Dr., M.Soc.Sc.

2011 | Skripsi | S1 Management

Masyarakat miskin tidak memiliki akses kepada layanan keuangan yang diberikan bank-bank konvensional karena mereka dianggap tidak layak bank atau non-bankable. Lembaga keuangan mikro (LKM) lahir sebagai penyedia layanan keuangan bagi masyarakat miskin.

Indikator kinerja LKM terpenting adalah tingkat pengembalian pinjaman dan jangkauan. LKM sukses seperti Grameen Bank di Bangladesh telah dapat memenuhi kebutuhan kredit the non-bankable, yang ditunjukkan melalui jangkauan yang baik, dan mencapai tingkat pengembalian pinjaman yang tinggi.

LKM Binangun Banjaroya, LKM dengan dana terbesar di kabupaten Kulon Progo, dalam dua tahun pertamanya, memiliki jangkauan yang terus meningkat yang ditunjukkan oleh jumlah peminjam aktif yang terus bertambah. Namun, tingkat pengembalian pinjamannya terus menurun. LKM Binangun Banjaroya juga belum dapat menghimpun dana tabungan yang signifikan dan praktis hanya menyalurkan kredit. Kredit yang disalurkan berupa kredit umum dan kredit sebrakan yang memiliki jangka waktu pendek dan bunga lebih tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jangkauan dan proporsi kredit sebrakan dalam portofolio terhadap tingkat pengembalian pinjaman dan pengaruh tingkat pengembalian pinjaman terhadap nilai nominal pencairan kredit. Data yang digunakan adalah data primer yang dihitung per bulan berdasarkan register pencairan kredit dan tanda bukti pembayaran angsuran kredit LKM Binangun Banjaroya periode Januari 2008-Desember 2009 dan diolah menggunakan metode ordinary least squares.

Hasil analisis menyimpulkan bahwa jangkauan, berdasarkan skala jangkauan pinjaman dengan indikator jumlah peminjam aktif, berpengaruh negatif terhadap tingkat pengembalian pinjaman. Sementara jangkauan berdasarkan kedalaman jangkauan pinjaman dengan indikator rata-rata pinjaman berjalan tiap peminjam dan proporsi kredit sebrakan dalam portofolio tidak berpengaruh terhadap tingkat pengembalian pinjaman. Tingkat pengembalian pinjaman juga tidak berpengaruh terhadap nilai nominal pencairan kredit.

Poor people have no access to the financial services provided by conventional banks, they are regarded as non-bankable. Microfinance institution (MFI) was established with the sole purpose of providing the poor people with financial services.

The two most important performance indicators of MFI are repayment rate and outreach. Successful MFI such as the Grameen Bank in Bangladesh has been able to fulfill the credit needs of the non-bankable, which is shown by the fine outreach, and achieve high repayment rate.

LKM Binangun Banjaroya, MFI with the largest fund in the district of Kulon Progo, had shown a constantly increasing outreach, which was indicated by the constantly rising number of active borrowers, in its first two years of operation. But, its repayment rate had been in a completely reversal trend. Another weak point of LKM Binangun Banjaroya was its inability to gather a significant amount of savings which had made it, practically, a credit institution. The types of credit offered were regular credit and sebrakan which was a credit with a very short term and a high interest rate.

This study aims to analyze the influence of outreach and proportion of sebrakan in portfolio on repayment rate and the influence of repayment rate on the amount of credit disbursed. The analysis uses primary data calculated on a monthly basis based on the credit register and the installment payment notes of LKM Binangun Banjaroya for the period January 2008-December 2009. Ordinary least squares method is used for the analysis.

The results of the analysis conclude that outreach, based on scale of loan outreach indicated by the number of active borrowers, has a negative influence on repayment rate. While outreach based on depth of loan outreach indicated by average outstanding loan size and proportion of sebrakan in portfolio have no influence on repayment rate. Repayment rate is also concluded to have no influence on the amount of credit disbursed.

Kata Kunci : financial services, Microfinance institution, repayment rate, layanan keuangan, non-bankable, Lembaga keuangan mikro, pengembalian pinjaman


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.