SEBUAH ANALISIS PERBANDINGAN TENTANG PRAKTEK PERATAAN LABA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA ANTARA PERUSAHAAN PUBLIK YANG TERDAFTAR DI INDONESIA DAN FILIPINA
DIMARESTI, SHINTA (Adv.: Wiwin Rahmanti, S.E., M.Com.), Wiwin Rahmanti, S.E., M.Com.
Perataan laba merupakan salah satu bentuk kegiatan manajemen laba yang merupakan aksi pengurangan fluktuasi yang sengaja dilakukan terhadap tingkat pendapatan perusahaan hingga dianggap normal. Perataan laba merupakan isu yag terus-menerus dipermasalahkan dalam tindakan pelaporan perusahaan karena dapat menyebabkan laporan tidak representationally faithfulness lagi namun tidak melanggar standar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah praktek perataan laba hadir dalam kegiatan pelaporan keuangan antara perusahaan publik di Indonesia dan Filipina dan di negara mana jumlah praktek tersebut ditemukan lebih tinggi. Kedua negara dipilih sebagai karena memiliki GDP (Gross Domestic Products) tumbuh di tingkat yang hampir sama dari waktu ke waktu. Lebih menarik lagi, mereka menggunakan standar akuntansi yang berbeda. Indonesia menerapkan PSAK Indonesia (Peraturan Standar Akuntansi Keuangan), sementara Filipina mengimplementasikan PFRS (Philippines Financial Reporting Standards) di mana beberapa bagian darinya cukup bertolak belakang. Indeks Eckel digunakan untuk menentukan perusahaan mana saja yang terlibat dalam aksi perataan laba. Perusahaan-perusahaan diklasifikasikan menjadi perata dan bukan perata dengan variable dummy. Setelah itu, persentase tindakan perataan di kedua negara dibandingkan.
Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perataan laba tersebut. Dengan menggunakan regresi logistik binari, hubungan antara masing-masing empat variabel independen, ukuran perusahaan (kapitalisasi pasar), profitabilitas (Net Profit Margin), sektor industri (perbankan dan lembaga keuangan / perusahaan non-keuangan), dan reputasi auditor (diaudit oleh the big four atau tidak) terhadap perataan laba diselidiki. Kedua negara menggunakan model yang sama. Regresi logistik digunakan karena variabel terikat adalah dummy.
Periode observasi penelitian ini adalah empat tahun yaitu dari 2007 sampai 2010. Sampel penelitian terdiri atas 157 dan 115 perusahaan yang secara berurutan merupakan perusahaan public yang terdaftar di Indonesia dan Filipina dan diperoleh melalui metode purposive judgment sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perataan laba hadir di kedua negara dan prakteknya lebih tinggi di Filipina. Di Indonesia, variable ukuran perusahaan, profitabilitas, sektor industri, dan reputasi auditor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perataan laba. Sedangkan di Filipina, hanya ukuran perusahaan dan profitabilitas yang memiliki dampak signifikan terhadap perataan laba.
Income smoothing is a type of earnings management activities that is a deliberate dampening of fluctuations about some level of earnings considered to be normal for the firm (Barnea et al., 1976). Income smoothing is an ongoing issue in companyÂ’s reporting actions since it may cause the reports not representationally faithfulness anymore but does not actually violate the standards. The purpose of this research is to investigate whether income smoothing practices present in financial reporting activities among publicly listed companies in Indonesia and Philippines and in which country the number is found higher. Those two countries are chosen as their GDP (gross domestic products) grows in the similar level from time to time. More interestingly, the accounting standards used by each country are different. Indonesia implements Indonesian GAAP (Generally Accepted Accounting Standards), while Philippines implements PFRS (Philippines Financial Reporting Standards) in which some parts of them quite in the opposite. Index Eckel is employed to determine which companies engage in income smoothing conducts. The companies are classified into smoother and non-smoother in a dummy variable. Afterward, the percentages of smoothing actions in both countries are compared.
Besides, this research also aims to examine the factors that influence the income smoothing manners. Using binary logistic regression, the relationship between each of four independent variables, firm size (market capitalization), profitability (net profit margin), industrial sectors (banking and financial institutions/ non-financial companies), and auditor reputation (audited by the big four or not) toward income smoothing are investigated. Both countries apply same models. The logistic regression is utilized because the dependent variable is dummy.
The observation period of this research is four years from 2007 until 2010. The samples consist of 157 and 115 respectively Indonesian and Philippines listed companies obtained through purposive judgment sampling method. The results show that the smoothing conducts are found present in both countries and higher in Philippines. In Indonesia, none of firm size, profitability, industrial sectors, and auditor reputation significantly affect income smoothing. In Philippines, only firm size and profitability that have significant impact on income smoothing.
Kata Kunci : Perataan laba, manajemen laba, ukuran perusahaan, profitabilitas, sektor industri, reputasi auditor, Income smoothing, earnings management, firm size, profitability, industrial sector, auditor reputation