Penanaman modal asing langsung dan efisiensi kebijakan fiskal daerah di Indonesia, 1999 - 2002
Br Sebayang, Asnita Frida (Adv.: Drs. Akhmad Makhfatih, MA), Drs. Akhmad Makhfatih, MA
Penelitian ini bertujuan mengukur dan mengidentifikasi efisiensi kebijakan fiskal di daerah yang ditinjau dari kinerja pungutan yang dilakukan di daerah dan melihat pengaruhnya terhadap penyerapan Penanaman Modal Asing langsung (PMA). Selain itu, digunakan pula variabel kontrol yang lain yakni; PDRB dan Keamanan. Hipotesis yang diajukan adalah: (1) Efisiensi kebijakan fiskal berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMA; (2) PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMA; (3) Jumlah kasus kejahatan di daerah (keamanan) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA.
Penelitian ini mencakup 26 Propinsi di Indonesia dalam kurun waktu 1999-2002 (setelah krisis). Teknik yang digunakan adalah; Data Envelopment Analysis (DEA) guna pengukuran kinerja dan metode regresi data panel untuk analisis ekonometrika.
Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua wilayah yang mencapai efisiensi terbaik yaitu DKI Jakarta dan Jawa Timur dan terdapat kecenderungan dari daerah membentuk pola efisiensi sendiri pada periode setelah krisis. Temuan lain menunjukkan bahwa semakin efisien sebuah daerah dalam pungutan pajak dan retribusi maka PMA cenderung menurun. Semakin tinggi pajak dan retribusi, PMA akan semakin rendah dan terdapat kecenderungan capital outflow yang lebih tinggi.
Varia bel PDRB signifikan mempengaruhi keputusan PMA dengan arah positif sementara keamanan tidak signifikan mempengaruhi keputusan PMA. Temuan ini mengindikasikan bahwa keputusan PMA lebih banyak didasarkan pada pencarian pangsa pasar. Skema simulasi yang dilakukan pada model tidak menyebabkan perubahan hasil yang signifikan.
FDI in last four years has been decreasing. There are two key factors that can influence FDI behavior. The first one is from the home country and the second one is from host country. Some factors that have been defined are policy performance (fiscal policy), Gross Regional Domestic Product (GRDP), and regional risk (total crime).
In 1999-2002, most of regions have a specific pattern in efficiency. This specific depends on characteristics of the regions. Each region has to solve his inefficiency in different way to the others.
Panel method found that efficiency of regional fiscal policy influenced FDI significantly. The more efficient in regional tax and user charge, the fewer FDI will be reached. Other variable used as control variable, GRDP, influence FDI significantly. On the other hand, regional risk does not influence the FDI significantly in those periods.
Kata Kunci : efficiency, fiscal policy, FDI behavior, efisiensi, kebijakan fiskal, perilaku PMA