Analisis Produksi Usaha Tani Kentang Di Desa Wukirsari, Cangkringan
BARIK LANA (Pembimbing): Dra. CH. Suparmi, S.U., Dra. CH. Suparmi, S.U.
ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fal tor-faktor produksi seperti luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk kimia, jumlah puptik kandang, jumlah ooat-obatan dan jumlah tenaga kerja yang digunakan terhadap jumlah produksi kentang di Desa Wukirsari, Cangkringan dan menghitung besarnya laba bersih yang diterima petani. Metodc yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey (survai) dan menggunakan purposive sampling methods untuk menentukan sampel daerah penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, penyebaran kuesioner, dan pencatatan. Untuk menetapkan sampel penelitian maka dilakukan secara satur,,,,ion sampling dengan jumlah populasi petani yang menanam kentang di desa Wukirsari sebanyak 36 orang maka petani yang dijadikan sampel juga sebanyak 36 orang. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Faktor-faktor nroduksi (luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk kimia, jumlah pupuk kandang, jumlah obat-obatan, dan jumlah tenaga kerja) berpengaruh dan secara signifikan terhadap jumlah produksi kentang. 2) Usaha tani kentang menguntungkan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Selanjutnya analisis regresi dapat digunakan untuk rnembentuk suatu model lungsi produksi. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi yang digunakan terhadap produksi kentang maka digunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dengan motode OLS (Ordinary Least Square) dalam analisis regresi linier maka fungsi tersebut ditransformasikan dalam bentuk logaritma natural: Ln Y= In a + bilnXi + b2InX2+ b3InX3 + b4InX4 + b5InX5+ b6InX6+ U Y=jumlah produksi kentang (kg), a=intersep, X1 — luas lahan (m2), X2= jumlah benih yang digunakan (kg), X3= jumlah pupuk kimia yang digunakan (kg), X4= jumlah pupuk kandang yang digunakan (kg), X5= jumlah obat-obatan yang digunakan (liter), X6=jumlah tenaga kerja (HOK), bi= koefisien regresi ( i = 1 s/d 6), ix U= error term. Untuk mengetahui ketepatan model regresi yang digunakan dalam penelitian maka dilakukan pengujian statistik yang terdiri dari uji koefisien determinasi (R2), uji F statistik, uji t statistik. Untuk mengetahui apakah model yang diestimasi tidak bias dan dapat mencerminkan keadaan yang sebenarnya maka model tersebut diuji terlebih dahulu terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran asumsi klasik. Uji yang digunakan meliputi uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolinieritas. Untuk menguji hipotesis ke dua yang menyatakan bahwa usaha tani kentang menguntungkan maka dilakukan pengujian terhadap laba bersih rata-rata. Perhitungannya terdiri dari jumlah laba bersih rata-rata per petani (m2) dan laba bersih rata-rata per hektar serta melakukan pengujian terhadap laba bersih tersebut (menentukan Z statistik dan Za). Untuk mengestimasi persamaan regresi linier berganda dilakukan melalui analisis data dengan software komputer SPSS 11.05. Selanjutnya dari koefisien regresi dapat dibentuk suatu persamaan regresi sebagai berikut: In Y = 1,592 + 0,310 In X1 + 0,210 In X2 — 0,109 In X3 + 0,06296 In X4 +0,1481n X5 + 0,600 In X6 Nilai koefisien regresi yang merupakan nilai elastisitas produksi masingmasing factor produksi apabila dijumlahkan diperoleh angka sebesar 1,159 (b1+b2+....+b6 > 1). Hal ini menunjukkan bahwa usaha tani kentang berada pada kondisi Increasing Return to Scale, artinya apabila input ditambah pada proporsi tertentu akan mengakibatkan penambahan produksi kentang pada proporsi yang lebih besar. Nilai koefisien regresi variabel X1, X2, X4, X5, X6 bertanda positif menunjukkan bahwa variabel tersebut berpengaruh positif terhadap variabel Y (jumlah produksi kentang). Sedangkan nilai koefisien regresi variabel X3 bertanda negatif yang men tnjukkan bahwa variabel tersebut berpengaruh negatif terhadap variabel Y (jumlah produksi kentang). Nilai koefisien determinasi (R2) dari hasil analisis regresi sebesar 0,954, menunjukkan bahwa variasi dari faktor-faktor produksi (luas lahan, benih, pupuk kimia, pupuk kandang, obat-obatan dan tenaga kerja) yang digunakan mampu menjelaskan 95,4 % variasi jumlah produksi kentang. Berdasarkan tabel distribusi normal pada derajat kepercayaan a = 0,05 n = 36, k = 6, diperoleh F tabel sebesar 4,18. Dari hasil regresi dapat diketahui nilai F hitung sebesar 101,209. Maka dapat diketahui bahwa nilai F hitung lebih besar dari F table (Fhitung > Ftabel), maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya bahwa faktor produksi luas lahan (X1 ), jumlah benih (X2), jumlah pupuk kimia (X3), jumlah pupuk kandang (X4), jumlah obat-obatan (X5) dan jumlah tenaga kerja P( ) secara simultan
b2rpengaruh secara signifikan terhadap jumlah produksi kentang (Y). Pada derajat kepercayaan a = 0,05, n = 36, k = 6, df = 29 diperoleh t table sebesar 2,045. Nilai t hitung masing-masing variabel independen: luas lahan (X1 )=2,395, jumlah benih (X2)=1,687, jumlah pupuk kimia (X3)=-1,094, jumlah pupuk kandang (X4)=0,388, jumlah obat-obatan (X5)=0,868, dan jumlah tenaga kerja (X6)=5,489. Berdasarkan uji t statistik maka dapat disimpulkan: 1) Secara individual variabel luas lahan (Xi ) dan jumlah tenaga kerja (X6) berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah produksi kentang. 2) Secara individual variabel jumlah benih (X2), jumlah pupuk kimia (X3), jumlah pupuk kandang (X4), dan jumlah obat-obatan (X5) tidak berpengaruh secara signifikan terl-,adap jumlah produksi kentang. Hasil per.Lujian asumsi klasik yang terdiri dari uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas uji multikolinieritas mengahsilkan kesimpulan sebagai beriiatt: 1) Uji autokorelasi dengan Durbin Watson Test menunjukkan bahwa nila DW hitung sebesar 1,942 berada di antara nilai du = 1,877 dan (4-du)=2,123 sehingga dapat dikatakan bahwa model vang digunakan tidak mengandung gejala autokorelasi baik autokorelasi positif maupun negate 2) Uji heteroskedastisitas dengan White Test, menunjukan nilai (.12, 1,h itung < (X2)'abel (19,08 < 43,733) maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan terbebas dari masalah heteroskedastisitas. Xi 3) Uji multikolinieritas dengan melihat matriks korelasi menunjukkan bahwa tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen. Selain itu nilai VIF yang berada di bawah angka 10 dan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,10 menunjukkan bahwa semua variabel independen pada model regresi tidak mengandung gejala multikolinieritas yang serius (multikolinieritas rendah). Dengan menghitung besarnya laba bersih yang diterima petani maka dapat diketahui bahwa saha tani kentang menguntungkan dengan perincian sebagai berikut: a) Dengan luas lahan rata-rata. 1420 m2 diperoleh produksi rata-rata sebesar 2621,89 kg/m2 dengan TR (Total Revenue) rata-rata sebesar Rp 5.561.304 sedangkan TC (Total Cost) rata-rata sebesar Rp 3.439.797 maka diperoleh laba bersih rata-rata per petani sebesar Rp 2.093.752. b) Dengan luas lahan rata-rata per hektar diperoleh produksi rata-rata sebesar 18518,03 kg/ha dengan TR rata-rata per hektar sebesar Rp 39.365.615 sedangkan TC rata-rata per hektar Rp 22.448.442 maka diperoleh laba bersih rata-rata per hektar sebesar Rp 16.361.831. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: Pada derajat kepercayaan a=0,05, faktor produksi luas lahan (X1 ) dan jumlah tenaga kerja (X, i) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap jumlah produksi kentang (Y). Faktor produksi pupuk kimia (X3) berpengaruh negatif dan tidak secara signifikan terhadap jumlah produksi kentang (Y). Sedangkan, faktor produksi jumlah benih (X2), jumlah pupuk kandmig (X4), dan jumlah obat-obatan (X5) berpengaruh positif namun tidak secara signifikan terhadap jumlah produksi kentang (Y). Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka petani disarankan agar menambah penggunaan faktor produksi luas lahan dan tenaga kerja untuk meningkatkan jumlah produksi kentang.
Kata Kunci : Alat Analisis, Perhitungan Laba Bersih (Profit)