Laporkan Masalah

Analisis Dampak Krisis Moneter Terhadap Tingkat Efisiensi Bank Umum di Indonesia

BAMBANG SUTOPO, Prof. Dr. Nopirin, MA.

2010 | Tesis | S2 Economics

Lembaga Keuangan Bank sebagai salah satu sumber dana mempunyai peranan yang besar dalam upaya meningkatkan laju pembangunan ekonomi di Indonesia. Maka dari itu, perkembangan lembaga keuangan bank mempunyai korelasi yang terhadap pertumbuhan ekonomi.

Terjadinya gejolak krisis moneter, yang pada akhirnya menghantam sub sektor perbankan telah berakibat terpuruknya kinerja perbankan di Indonesia. Krisis moneter yang berdampak pada krisis kepercayaan terhadap lembaga perbankan menjadikan lembaga perbankan berada pada ujung kebangkrutan.

Pada penelitian ini, mencoba untuk menganalisis tentang bagaimana tingkat efisiensi lembaga keuangan Bank Umum di Indonesia dengan melihat kondisi sebelum krisis yaitu 1 Januari 1992 sampai dengan 31 Desember 1995 dengan kondisi krisis yaitu 1 Januari 1996 sampai 31 Desember 1999.

Dengan menggunakan model analisis transformasi logaritma dan alat analisis MLE (Maximum Likelihood Estimation) dapat terlihat krisis moneter tersebut berpengaruh terhadap tingkat efisiensi lembaga keuangan bank umum di Indonesia. Berdasarkan aspek mikro, penurunan tingkat efisiensi bank umum disebabkan oleh kenaikan tingkat bunga yang relatif tinggi sehingga berdampak pada kenaikan biaya operasional. Selain itu, besarnya kredit macet yang dihadapi bank umum menyebabkan menurunnya tingkat pendapatan yang berasal dari kredit (interest income).

Jika dilihat dari aspek Makro, penurunan tingkat efisiensi pada kondisi krisis disebabkan oleh kenaikan yang sangat tinggi dari jasa giro dan biaya tenaga kerja. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah variabel output (volume kredit) merupakan variabel yang dominan dalam mempengaruhi tingkat efisiensi lembaga keuangan bank. Besarnya kredit bermasalah (problem loan) merupakan faktor yang potensial dalam menurunkan tingkat efisiensi.

Adapun saran yang bias dikemukakan dalam penelitian ini adalah hendaknya faktor prinsip kehati-hatian bank hendaknya masih dipergunakan sebagai pertimbangan dalam keputusan kredit. Selain itu, lembaga keuangan bank hendaknya jangan terjebak dalam permainan tingkat bunga yang tinggi dalam upaya penghimpun dana dari masyarakat.

ank as a financial institution is one of the fund mobilizatition institution which has a great role in an effort of increasing the growth of economy in Indonesia. Thus, its development has strong correlation toward the growth of the economy.


However, with the monetary crisis which has happened recently and caused the banks to be in the plight, it has made them suffer from bankrupty. This also has caused the society loose their trust on the banks. As a consequence, the performance of the banks need to be seriously paid attention both in the efficiency and effectiveness side.

This research attempts to analyze how the degree of efficiency of the banks in Indonesia (commercial banks), is by looking at the previous condition and after the monetary crisis, before and after June 1996.


By using analysis model of logarithm transformation and MLE analysis (Maximum Likelihood Estimation) it can be seen that the turbulent of monetary crisis has an influence toward the decline of degree of efficiency in the banking institution. Based on the micro aspect, the decline of the efficiency is due to the increase of the interest rate, which causes the increase of the operation cost. Beside that, the amount of the problem loan (bad debt) causes decrease of the interest income, thus commercial bank undergo losses. On the other hand, when we base it on the macro aspect, the decrease of the efficiency is caused by the increase of the demand deposit service and the increase related to fixed asset cost.


The high degree of difference between actual operation cost variable(Ca) influenced by the variables of output, demand deposit, saving deposit, time deposit and fixed asset, with expected operation cost variable(Ce) influenced by the variables of expected output, expected demand deposit, expected saving deposit, expected time deposit, and expected fixed asset, before and after the monetary crisis, causes the difference of efficiency no significantly between the period before 1996 and that after 1996.

Kata Kunci : Krisis moneter, Perbankan, Financial Institution


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.