APAKAH PEMBANGUNAN EKONOMI DI JAWA TIMUR BIAS KE KAWASAN PERKOTAAN? 1995-2000
Bambang Indarto (Pembimbing: Mudrajad Kuncoro, Dr., M.Soc.,Sc.), Mudrajad Kuncoro, Dr., M.Soc.,Sc.
Dengan menggunakan kabupaten/kota sebagai unit analisis, penelitian ini akan membuktikan sejauh mana pembangunan ekonomi bias ke kawasan perkotaan. Selanjutnya, ingin diketahui pengaruh urbanisasi dan faktor-faktor lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebelumnya, dilakukan identifikasi lokasi pusat pertumbuhan ekonomi guna mengetahui daerah-daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi. Penelitian ini menggunakan alat analisis sistem informasi geografis, regresi logistik, dan regresi dengan data panel.
Hasil analisis SIG menunjukkan bahwa terdapat perbedaan lokasi pusat pertumbuhan ekonomi antara tahun 1995 dan tahun 2000. Pada tahun 1995, pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Timur berada di Kota Kediri, Kota Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2000, pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Timur berada di Kota Kediri, Kota Mojokerto, Kota Blitar, Kota Pasuruan, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Tuban, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Banyuwangi.
Hasil analisis regresi • logistik menunjukkan bahwa kecenderungan pembangunan ekonomi pada kawasan perkotaan ditunjukkan oleh tingginya PDRB per kapita dan indeks pembangunan manusia serta rendahnya pertumbuhan PDRB, di mana rendahnya pertumbuhan menandakan bahwa dampak krisis ekonomi lebih terasa di kawasan perkotaan. Hasil ini sekaligus memperlihatkan bahwa selama periode penelitian pembangunan ekonomi di Jawa Timur bias ke kawasan perkotaan.
Sementara, hasil analisis regresi dengan data panel menunjukkan bahwa tingkat urbanisasi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, artinya setiap kenaikan tingkat urbanisasi akan berdampak pada kenaikan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pengaruh positif juga ditunjukkan oleh kontribusi PDRB industri dan kontribusi PDRB pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara tenaga kerja terdidik menunjukkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
With using regency/city at the unit of analysis, this research will prove how far the economic development to urban area biased. Furthermore, it would like to be seen the effect of urbanization and others factor toward economic growth. Before, it is done by identification economic growth pole location to find out the regions that have high economic growth. This research use analysis tool geography information system, logistic regression, and pooling data with regression.
SIG analysis result shows the different of economic growth pole location between 1995 year and 2000 year. In 1995, the highest economic growth at east java in Kediri city, Surabaya city, Sidoarjo regency, Gresik regency, Jember regency, and Banyuwangi regency. In 2000, the highest economy growth at east java in Kediri city, Mojokerto city, Blitar city, and Pasuruan city, Tulungagung regency, Tuban regency, Bangkalan regency, Pamekasan regency, Sumenep regency, Pasuruan regency, and Banyuwangi regency.
Logistic regression analysis result show the tendency of economy development at urban area is showed by the high of PDRB per capita and human development index and also the low of PDRB growth, where the low of economy growth indicated that economy crisis effect this more felt in urban area. Also this result show along research period of economy development in east java biased to urban area.
For a while, regression analysis result with pooling data show urbanization rate have positive effect to economic growth, it means every increasing of urbanization rate will effect to increasing economy growth of one region. Also positive effect is shown by the contribution of industry PDRB, contribution of agriculture PDRB toward economic growth, for a while educated labour show negative effect toward economy growth.
Kata Kunci : tingkat urbanisasi, pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, kawasan perkotaan