Laporkan Masalah

Analisis Kelayakan Optimum Currency Area (OCA)di ASEAN 5+3, 1999:1-2009:4

ASTUTI, ISMADIYANTI PURWANING (Adv.: Muhammad Edhie Purnawan, Dr., MA.), Muhammad Edhie Purnawan, Dr., MA.

2012 | Tesis | S2 Economics

Ide integrasi ASEAN5+3 dimulai sejak terbentuknya Asean Economic Community (AEC) dan Asean Free Trade Area (AFTA). Dua komunitas tersebut menawarkan ekonomi ASEAN5+3 yang stabil, sejahtera dan kompetitif. Hal tersebut menimbulkan ide untuk membentuk suatu kawasan dengan mata uang bersama yang disebut Optimum Currency Area (OCA) yang akan dimulai pada tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan OCA dan variabel apa saja yang mempengaruhinya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series kuartalan tahun 1999:1-2009:4 dan data cross section 8 negara ASEAN5+3. Variabel yang digunakan adalah volatilitas nilai tukar, sinkronisasi siklus bisnis, tingkat pertumbuhan keuangan, perbedaan inflasi, ukuran perekonomian, keterbukaan perdagangan dan neraca pembayaran. Alat analisis yang digunakan adalah perhitungan indek OCA dan regresi panel data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ASEAN5+3 tidak layak untuk dibentuk OCA karena hanya empat negara seperti China, Malaysia, Singapura dan Filipina yang mempunyai indek OCA dibawah rata-rata. Hasil panel data menunjukkan variabel tingkat pertumbuhan keuangan dan neraca pembayaran yang berpengaruh signifikan terhadap volatilitas nilai tukar.

The idea of integration ASEAN5+3 is started since the establish of Asean Economic Community (AEC) and Asean Free Trade Area (AFTA). The two ASEAN5+3 economic community offer stability, prosperously and competitively. That raise the idea to establish a region with common currency is called Optimum Currency Area (OCA) in 2015. The aims of study to analyze the feasibility of OCA dan the variables influence it. This study used the time series with quarterly data in 1999:1-2009:4 and the cross section 8 countries in ASEAN+3. The variable used was exchange rate volatility, business cycle sinchronization, financial growth, inflation, economic size, trade openess and balance of payment. The analysis used was the calculation OCA index and regression panel data. The result showed that ASEAN5+3 unfit to be establish OCA because only four countries such as China, Malaysia, Singapore and Philippines which have OCA index below the average. The result of panel data showed that financial growth and balance of payment have significantly influence to exchange rate volatility.

Kata Kunci : Optimum Currency Area (OCA), Currency Union, Exchange Rate Volatility,


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.