Analisis Kinerja Surat Berharga Setelah Penawaran Perdana (IPO) di Indonesia
Arum Prastiwi (Adv.Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA), Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA
2000 | Tesis | S2 Accounting
Penelitian tentang kinerja surat berharga dari perusahaan yang melakukan penawaran perdana telah banyak dilakukan di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan terjadinya tiga anomali, yang pertama adalah fenomena underpricing dalam jangka pendek, kedua munculnya fenomena "hot issue" dan yang ketiga adalah terjadinya penentuan harga yang terlalu tinggi (overpriced) dalam jangka panjang. Fenomena underpricing terjadi pada seluruh pasar modal di dunia termasuk Indonesia akan tetapi pengaruh yang menyebabkan hal tersebut masih menimbulkan pertanyaan, karena hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan ketidak konsistenan. Dalam jangka panjang kinerja surat berharga menunjukkan terjadinya underperformance (kecuali Malaysia).Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja surat berharga setelah penawaran perdana di Indonesia. Kinerja diketahui dengan menghitung abnormal return secara bulanan yang dihitung dengan Market-Adjusted Model untuk periode jangka pendek 3 bulan dan jangka panjang 24 bulan untuk 78 perusahaan yang IPO tahun 1994-1997. Hasil uji dengan statistik parametrik one sample I-test dan paired comparison t test menunjukkan bahwa pada jangka pendek terdapat rata-rata abnormal return positif yang cukup besar dan median ekses return positif secara berturut-turut sebesar 39,07% dan 21,04%. Dalam jangka panjang kinerja surat berharga mengalami underperformed sebesar -238,83% dan -243,22% masing-masing untuk saham yang dibeli pada harga perdana danpada harga penutupan hari pertama secara signifikan pada 5%, ini konsisten dengan penelitian di negara lain bahwa kinerja jangka panjang mengalami underperformed. Hasil uji perbedaan kinerja jangka pendek dan jangka panjang juga menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kinerjanya jauh lebih buruk dari kinerja jangka pendek signifikan pada level 5%. Dengan adanya rata-rata abnormal return pada bulan pertama sebesar 4,53% dan 9,79% untuk bulan kedua dari saham yang dibeli pada harga penutupan hari pertama tetapi tidak signifikan pada level 5%, menunjukkan bahwa pasar setelah penutupan (aftermarket) di pasar modal Indonesia cukup efisien.
Numerous studies examining the performance of initial public offerings in some countries. The studies documented three anomalies, first the short-run underpricing, second the 'hot issue' market phenomenon and third is overpriced in the long-run. Underpricing phenomenon already had done in all of capital market include Indonesia, but the influence that caused is not known exactly, because in some research the result was inconsistent. In the long-run the performance was underperformed (exclude Malaysia). This research purposed to find out stocks performance after Initial Public Offerings in Indonesia. Monthly abnormal return was proxi for performance that count with Market-Adjusted Model 3 months for short term, 24 months for long term period and the samples are 78 company that IPO in 1994 - 1997. Result from one sample t-test show that in the short run there are large positive mean and median excess returns of 39.07% and 21.04% respectively. The long run mean abnormal return was dropped until -238.83% and -243.22% respectively for stocks that buy in the offering price and in the aftermarket, significantly at 5%, concistent with another countries in the long run the performance was underperformed. Result from paired comparison t-test show that in the long run the performance was more bad (underperformed) than in the short run significantly at 5%. Mean abnormal return 4.53% and 9.79% respectively for months 1 and 2 insignificantly different from zero at 5% implies that the aftermarket is quite efficient.
Kata Kunci : Kinerja, underpricing, underperformance, efisiensi pasar.