Laporkan Masalah

Evaluasi pengendalian kualitas produk: studi pada PT Prissima Yogyakarta

Aruminingsih, Ambar (Adv.: Drs. Wakhid S. Ciptono, MBA.,MPM), Drs. Wakhid S. Ciptono, MBA.,MPM

2014 | Skripsi | S1 Extention - Management

Di era pasar kompetitif global, aspek kualitas produk baik barang maupun jasa menjadi hal yang menentukan tingkat daya saing dalam merebut pasar (Tejasari, 2003). Dengan demikian, pengaruh globalisasi telah menempatkan kualitas menjadi suatu keharusan untuk memenangkan kompetisi(Heizer dan Render, 2005). Penelitian ini membahas mengenai evaluasi pengendalian kualitas pada PT. Primissima. Penelitian ini mencoba membuktikan apakah defect pada finished product yang teIjadi selama periode tahun 2006 masih berada dalam batas kendali statistik atau tidak dan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kerusakan produk. Objek penelitian yaitu Loom 3 dengan kode produk yaitu PS217, PS421, danPS430. Metode analisis yang digunakan yaitu dengan analisis secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dengan menggunakan metode Statistical Quality Control (SQC). Analisis data menggunakan metode Statistical Quality Control yaitu metode statistik untuk mengumpulkan dan menganalisis data hasil pengamatan terhadap sampel dalam kegiatan pengawasan kualitas produk. Metode SQC dalam penelitian ini adalah metode p-chart yang sangat efektif untuk melihat besarnya proporsi produk cacat yang dihasilkan perusahaan (Gespersz, 1998). Sedangkan analisis kualitatif menggunakan metode Cause and Effect Diagram (C&E Diagram). Diagram ini digunakan untuk menjelaskan permasalahan mengenai kualitas suatu produk dan menjelaskan sebab-sebab yang dapat mempengaruhi kualitas produk itu sendiri. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa kerusakan produk yang dihasilkan berada di luar batas pengendalian statistikal. Dari Cause and Effect Diagram diketahui bahwa dari keempat faktor utama penyebab cacat yaitu mesin, manusia, material, dan metode, penyebab paling dominan berasal dari faktor mesin. Hal ini teIjadi karena umur mesin sudah tua sehingga banyak spare part yang sudah aus. Penyebab kedua yaitu human error yang diakibatkan oleh pelanggaran Standard Operation Procedur (SOP) oleh para karyawan. Harapan dari penelitian ini bagi perusahaan adalah perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan bidang pengendalian kualitas (Quality Control) untuk semua produk yang dihasilkan khususnya pada Loom 3. Kenyataan yang terjadi, kerusakan produk Loom 3 mengalami out of control. Permasalahan utama yaitu pada mesin yang sudah tua dan aus serta adanya human error. Jika investasi mesin barn sangatlah mahal dan sulit dilakukan, sebaiknya perusahaan memperhatikan faktor lain yaitu human error. Penekanan pada faktor manusia ini diharap dapat menekan jumlah produk cacat sehingga kualitas produk Loom 3 bisa meningkat.

Kata Kunci : Pengendalian kualitas,finished product, Statistical Quality Control (SQC), Cause and Effict Diagram.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.