Analisis Konsentrasi Spasial Kemiskinan di Jawa
Ardyanto Ftrady (Pemb : Prof. Dr. Sukanto Reksohadiprodjo, M.Com), Prof. Dr. Sukanto Reksohadiprodjo, M.Com
Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran pola konsentrasi spasial kemiskinan di Jawa secara deskriptif, mengukur ketimpangan antar daerah di Jawa sebelum dan sesudah krisis, membandingkan kesenjangan tingkat yang terjadi antara Pulau Jawa dan luar Jawa di Indonesia dan meneliti sejauh mana konsentrasi spasial kemiskinan dapat dijelaskan oleh dimensi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan dernografi. Mula-mula dipetakan konsentrasi spasial kemiskinan secara geografis dengan membagi tingkat kemiskinan menjadi tiga kategori, untuk memberikan gambaran mengenai pola konsentrasi spasial kemiskinan secara visual. Tiga kategori tersebut adalah daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi (Iebih dari 40 persen), sedang (20-40 persen) dan rendah (kurang dari 20 persen). Ketiga kategori inilah yang kemudian dianalisis dengan alat analisis diskriminan untuk mengetahui variable-¬variabel yang dapat membedakan ketiga kategori tingkat kemiskinan tersebut. Kesenjangan antar kabupaten dan kota sendiri diukur dengan menggunakan indeks ketimpangan Theil.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tingkat kemiskinan kabupaten dan kota di lima pulau besar di Indonesia, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya tahun 1996 sebagai wakil masa sebelum krisis dan tahun 1999 sebagai wakil masa krisis. Data kabupaten dan kota di luar Pulau Jawa digunakan sebagai perbandingan kesenjangan di Pulau Jawa dan Luar Jawa. Data lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel Pendapatan Domestik Regional Bruto, tingkat upah, jumlah bayi kekurangan gizi, pengeluaran pembangunan bidang kesehatan, rata-rata masa pendidikan formal, pengeluaran pembangunan bidang pendidikan, tingkat kepadatan penduduk dan tingkat pengangguran. Data tersebut adalah data tingkat kabupaten dan kota di Jawa pada tahun 1999 yang terutama bersumber dari data BPS Indonesia.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa mengalami tingkat kemiskinan yang lebih tinggi pada tahun 1999 dibandingkan tahun 1996 dan memiliki pola distribusi kemiskinan yang timpang secara geografis karena variasi kemiskinan di Jawa yang memiliki rentang cukup lebar. Perhitungan dengan menggunakan rumus indeks entropi Theil menunjukkan bahwa terjadi penurunan kesenjangan konsentrasi spasial kemiskinan di Jawa pada masa krisis. Baik pada tahun 1999 maupun 1996 diperoleh nilai indeks kesenjangan dalam satu propinsi (within region) yang lebih besar dibandingkan nilai indeks kesenjangan antar propinsi (between region). Ini menunjukkan bahwa derajat kesenjangan spasial kemiskinan antar kabupaten dan kota di Jawa dalam satu propinsi lebih tinggi dibandingkan dengan derajat kesenjangan antar propinsi atau dapat dikatakan bahwa konsentrasi spasial kemiskinan di Jawa cenderung mengelompok di wilayah kota atau kabupaten. Dari hasil analisis diskriminan diambil kesimpulan bahwa kategori tingkat kemiskinan di Jawa dapat dibedakan secara signifikan oleh variabel PDRB perkaplta, tingkat upah, rata-rata masa pendidikan, tingkat kepadatan dan tingkat pengangguran.
The goal of this research was to show a descriptive pattern of spatial concentration of poverty in Java, measure inequalities in the Java regions before and after the economic crisis, compare inequalities in poverty rate between that which happens in the Island of Java and that outside of .Java, within Indonesia, and to examine the extent of spatial concentration of poverty explained by economic, education, health, and demographic dimensions. First, spatial concentration of poverty was mapped geographically by dividing poverty rate into three categories, to show the spatial concentration visually. The three categories were regions with high poverty rate (more than 40 percent), moderate (20-40 percent), and low poverty rate (less than 20 percent). These three categories were then analyzed by Multiple Discriminant Analysis to find the variables that will differentiate between three categories. Inequalities between regions measured using Theil entropy index of inequality.
Data used in the research were the poverty rate data of regencies and municipalities in the five largest islands in 'Indonesia, namely Sumatra, Java, Kalimantan, Sulawesi, and Irian Jaya for the year 1996 as pre-crisis representative and year 1999 as post-crisis representative. Regency and municipality data outside of Java were used as comparison against the equality in Java. Other data used in the research were per capita Gross Regional Domestic Product, minimum wage level, number of undernourished children under age live, development expenditures on health, mean years of schooling, development expenditures on education, population density, and unemployment level variables. These data came from regency and municipality level data in the year 19H9, mainly from BPS-Statistics Indonesia.
The results of this research showed that almost every regency and municipality in Java experienced a higher poverty rate in 1999 than in 1996, and have a geographically disparate poverty distribution pattern because of the wide range of poverty variation in Java during the time of crisis. Both in 1999 and 1996, the disparity index values within region (province) Were calculated to be larger than disparity index value between regions (province). This shows that the spatial concentration of poverty between regency and municipality in Java within one province is higher compared to the spatial concentration between provinces. In other words, the spatial concentration of poverty in Java generally congregates in municipalities or regencies. From the results of the discriminant analysis it is concluded that the poverty rate category in Java can be differentiated significantly by the per capita income, wage rate, average education level, population density, and unemployment rate.
Kata Kunci : Ekonomi, Spasial Kemiskinan, Indonesia, Jawa