Laporkan Masalah

TECHNOLOGY AND INTERNATIONAL TRADE BENEFITS OF SOUTH KOREAN FOREIGN DIRECT INVESTMENT AND JAPANESE FOREIGN DIRECT INVESTMENT IN INDONESIA'S TEXTILES INDUSTRY IN 1990s

Anwar, Ratih Pratiwi (Adv.Prof Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc ), Prof Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc

2001 | Tesis | S2 MEP

Penanaman Modal Asing langsung (PMA) mempunyai beberapa aspek potensial yang penting bagi negara berkembang, termasuk bagi negara-negara di Asia. Karena banyak negara -negara berkembang di Asia dalam pembangunan ekonominya mengadopsi industrialisasi berorientasi ekspor, maka salah satu aspek penting dari PMA adalah keterkaitan antara PMA dengan ekspor. Di sisi lain, transfer teknologi dan dan peningkatan ketrampilan yang dilakukan oleh PMA

dianggap sebagai fungsi pokok PMA. Dengan demikian, diharapkan bahwa PMA Korea Selatan dan Jepang - dimana kombinasi nilai investasi keduanya melebihi 50

persen dari total nilai PMA di industri tekstil - dapat membawa manfaat teknologi dan perdagangan bagi industri tekstil di Indonesia. Manfaat teknologi dan perdagangan ini sangat penting mengingat industri tekstil di Indonesia pada saat ini masih pada tahap awal ekspor dan sebagian besar industri tekstil tersebut merupakan

industri yang intensif tenaga kerja serta mempunyai teknologi yang rendah. Studi ini bertujuan untuk menguji manfaat teknologi dan perdagangan internasional dari PMA Korea Selatan dan Jepang di industri tekstil (termasuk

garmen) di Indonesia pada dekade 1990. Untuk menguji manfaat teknologi dan perdagangan internasional tersebut, penulis menggunakan metode generalized least squares (GLS) dan analisa komparatif. Metode GLS diaplikasikan pada data tingkat industri dan tingkat perusahaan dari 17 PMA Jepang dan 35 PMA Korea Selatan yang disusun dengan metode pooling. Studi ini berlandaskan pada teori-teori yang mengatakan bahwa PMA dari negara maju berbeda dengan PMA dari negara berkembang, serta pada teori Lee tentang 'Extended Dimension of Kojima Hypothesis.' Menurut teori Lee, PMA Jepang saat ini lebih merefleksikan PMA dari negara maju, sedangkan PMA Korea Selatan lebih merefleksikan PMA dari negara berkembang. Mempertimbangkan teori-teori tersebut, studi ini melakukan analisa komparatif untuk melihat perbedaan karakteristik investasi antara PMA Korea Selatan dan PMA Jepang di industri tekstil di Indonesia pada dekade 1990. Hasil yang diperoleh dari analisa regresi GLS adalah: dari sisi manfaat teknologi, PMA Korea Selatan di industri tekstil Indonesia cenderung berpengaruh positif pada produktivitas tenaga keija dan intensitas ketrampilan, sedangkan PMA

Jepang cenderung berpengaruh positif pada intensitas ketrampilan. Dari sisi perdagangan internasional, PMA Korea Selatan di industri tekstil Indonesia cenderung berpengaruh negatif pada proporsi ekspor produk-produk intensif tenaga kerja dan proporsi impor bahan baku intensif tenaga kerja atau intensif modal. Ini

mengindikasikan bahwa PMA Korea Selatan dapat memberi manfaat dalam hal menciptakan kaitan dengan industri input domestik, tetapi juga dapat memberi kerugian karena tidak mendorong ekspor produk-produk tekstil Indonesia yang

mempunyai keunggulan komparatif. Di sisi lain PMA Jepang, berdasar analisa regresi GLS, cenderung tidak berpengaruh terhadap proporsi ekspor dan proporsi impor. Ini

mengindikasikan, PMA Jepang lebih berorientasi pada pasar domestik baik dalam hal pasokan bahan baku maupun pemasaran produk. Analisa komparatif menunjukkan bahwa PMA Korea Selatan dan PMA Jepang di industri tekstil

Indonesia pada dekade 1990 mempunyai perbedaan karakteristik investasi. Perbedaan karakteristik investasi tersebut antar lain pada kontribusi masing - masing PMA

dalam total nilai PMA di industri tekstil, ukuran investasi, distribusi perusahaan dalam industri tekstil, komposisi kepemilikan, penciptaan lapangan keija,

produktivitas tenaga keija, intensitas ketrampilan, intensitas kapital, dan orientasi pada perdagangan luar negeri. Analisa komparatif menunjukkan bahwa PMA Korea

Selatan lebih merefleksikan PMA negara berkembang, sedangkan PMA Jepang lebih merefleksikan PMA dari negara maju.

Foreign Direct Investment (FDI) has several aspects which its potential impacts are important for developing countries, including for Asian countries. Since many

Asia developing countries adopt export-oriented industrialization during their economic development, one of the important aspects of FDI is the linkage between

FDI and export. On the other hand, technology transfer and skill improvement conducted by FDI are assumed as key functions of FDI. Hence, it can be expected that South Korean and Japanese FDI, which the combination of their FDI exceeds 50 percent out of total value FDI in textiles industry in Indonesia, give their advantages to Indonesia. It is owing to Indonesia's textiles industry today, in general, are still in early stage of export and mostly of them can be categorized as low-technology and labour - intensive industry. This present study is aimed to examine the technology and trade benefits of South Korean and Japanese FDI in Indonesia's textiles industry (including garment) in 1990s. To examine technology and international trade benefits, the study applied generalized least squares (GLS) regression analysis to industry level data and firm level data of 17 Japanese FDI and 35 South Korean FDI which have been arranged with pooling method. The study based on theories that FDI FDI from developed

country is different with FDI from developing country, and in tune with Lee's theory of 'Extended Dimension of Kojima Hypothesis'that Japanese FDI today reflects characters of developed country FDI while South Korean FDI reflects characters of developing country FDI. On that account, comparative advantage is used as a means to examine characteristic differences between South Korean FDI and Japanese FDI in Indonesia's textiles industry.

The results from GLS regression analysis show that, in point of view technology benefits, South Korean FDI in Indonesia's textiles industry in 1990s tended to have positive relationship with labour productivity and skill intensity, while Japanese FDI tended to have positive relationship with skill intensity. From point of

view international trade benefits, South Korean FDI in Indonesia's textiles industry in 1990s tended to have negative relationship with export proportion of labour-intensive suggest that South Korean FDI may be more domestic market oriented both in export and import. It implies that South Korean FDI may give benefit to Indonesia's textiles industry in terms of its linkage to domestic supplier of input, but may discourage

export of labour-intensive product which Indonesia has comparative advantage. On the other hand, the presence of Japanese FDI in 1990s tended to not affect export and

import proportions. It indicates that Japanese FDI may has strong domestic market orientation for sourcing input and selling their product. The findings of comparative

analysis on show that there were characteristic differences between South Korean and Japanese FDI in Indonesia's textiles industry. Characteristic differences between South Korean and Japanese FDI can be seen in, among others, FDI contribution, sizes of investment, sub-industry distribution, ownership composition, employment generation, labour productivity, skill intensity, capital intensity, trade orientation and

trade dependencies. This comparative analysis reveal that in Indonesia's textiles industry in 1990s, South Korean FDI characteristics more reflected developing

country FDI while Japanese FDI characteristics more reflected developed country FDI.

Kata Kunci : Extended Dimension of Kojima Hypothesis, PMA Korea Selatan, PMA Jepang, manfaat teknologi dan perdagangan internasional, industri tekstil


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.