Laporkan Masalah

Medical Tourism: An Empirical Study Of Perceived Value As Medical Tourism Driver In Indonesia

Amrullah, Andi Anugerah (Adv : Peter Forte), Peter Forte

2015 | Skripsi | S1 Business

Pertumbuhan industri kesehatan yang tergolong cepat telah membuka berbagai macam kesempatan untuk institusi-institusi kesehatan untuk menarik pasien-pasien potensial dari berbagai penjuru dunia. Banyak negara di Amerika Selatan seperti Meksiko, Argentina, dan di Asia seperti India, Malaysia, Korea Selatan dan Thailand sudah mengambil keuntungan dari banyaknya pengunjung yang datang untuk menghabiskan uang mereka dalam kegiatan medical tourism. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan negara dari industry kesehatan, namun juga dari kegiatan-kegiatan rekreasional yang merupakan dampak dari meningkatnya pengunjung di negara tersebut. Sebab itu, kehadiran medical tourism akan membawa banyak keuntungan pada negara tersebut.

Namun konsep medical tourism ini tidak berlaku bagi negara-negara yang keikutsertaannya dalam medical tourism hanya sebagai eksportir pasien saja. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia menawarkan potensi yang besar sebagai pasar medical tourism untuk Negara-negara tertangganya (contoh: Malaysia dan Singapura). Sebanyak 600,000 penduduk Indonesia berpergian ke luar negeri untuk kepentingan medis pada 2012, menghabiskan lebih dari $1,4 milyar pada prosesnya. Untuk menghentikan arus pasien ini, pemerintah Indonesia bersama dengan ahli-ahli industri kesehatan harus bisa mengetahui faktor-faktor yang memotivasi para pasien untuk terbang ke Negara lain demi mencari pengobatan.

Riset ini berusaha untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memotivasi penduduk indonesia untuk pergi ke luar negeri dengan alasan pengobatan, dan untuk menggunakan model perceived value dari Wang (2012) untuk memastikan signifikansi dari faktor-faktor tersebut.

The rapidly growing healthcare industry has opened numerous opportunities for medical institutions to attract potential patients from around the globe. Many countries in Latin America such as Mexico, Argentina, and Asia such as India, Malaysia, South Korea and Thailand has reap the benefits as many visitors came to spend their money for medical tourism activities. Not only does this increase the countryÂ’s income from healthcare industry expenditures, but also from leisure-based activities due to the increase in visitors to the country. Therefore, the presence of medical tourism would bring multiple benefits to that country.

This concept however, does not apply for countries which involvement in medical tourism industry is only as exporter of patients. Indonesia, as one of the biggest country in the world in terms of population offers a potential market for the medical tourism industry in its neighboring countries (i.e. Malaysia, Singapore). As much as 600,000 Indonesian citizens traveled abroad for medical purposes in 2012, spending over $1.4 billion in expense. In order to stop the lost of patients, Indonesian governments along with experts in healthcare business need to address the factors that motivates their patients to flew to another country to seek for medical treatment.

This research attempts to identify factors that motivate Indonesian people to go abroad for medical purposes, and further test it using Wang (2012) model of perceived value in medical tourism to ensure the significance of the factors.

Kata Kunci : perceived value, medical tourism, industry kesehatan, marketing


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.