Laporkan Masalah

Organized Complexity of Javanese Kampung Heritage.Case study: Surinamese Kampungs

RILANO DASAI, MARCIANO, Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA., Ph.D

2018 | Disertasi | S3 ILMU ARSITEKTUR

Upaya dalam memperbaiki dan membentuk sebuah perkampungan dilakukan melalui beberapa pembuktian logis. Perkampungan secara signifikan berarti suatu bentuk warisan cagar yang didukung oleh kapasitas masyarakat yang elastis dalam sistem sosial �¢ï¿½ï¿½budaya. Ruang lingkup sistem warisan yang kompleks yaitu memperlihatkan karakteristik dalam kompleks misalnya : keterkaitan, saling ketergantungan, kemandirian berorganisasi, namun hal tersebut masih banyak memerlukan pemahaman terhadap potensi dan kritikan yang diperlukan dalam kemandirian berorganisasi berbasis konservasi warisan. Telah terjadi pergeseran pola pikir yang kuat dalam dekade terakhir dari sebuah objek monumental yang berdiri sendiri, yang dianggap memiliki nilai universal bagi masyarakat global, juga bagi entitas warisan yang memiliki unsur warisan yang tidak berwujud dan berwujud yang memiliki keterkaitan dan memiliki nilai yang sangat kuat bagi masyarakat lokal. Kemudian, muncul pemahaman yang sangat buruk, khususnya di negara berkembang, karena mereka masih belum mendapat perhatian dalam pengembangan dan pelestarian warisan budaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kampung-kampung di Suriname sebagai warisan cagar budaya yang berdinamika sebagai suatu sistem yang kompleks. Dengan menggunakan teori kompleksitas, studi ini menjelaskan bagaimana lingkungan hidup sebagai bahan pertimbangan dan memperhitungkan terhadap peningkatan dan terakumulasinya aktivitas kolektif yang terus - menerus dan pertumbuhan wilayah perkotaan. Pendekatan metodologis menggunakan dua metode. Metode pertama terdiri dari studi kasus eksploratif tradisional di mana identifikasi awal atribut warisan cagar dipelajari di Kampung Marienburg, Poerwodadi dan Clevia. Kemudian, terdapat kesinambungan terhadap kondisi keseluruhan warisan cagar dengan perubahan kemampuan pengelolaan di kampung dapat dieksplorasi. Model studi kasus kedua dikombinasikan dengan pandangan ilmu kompleksitas agar dapat memberi pemahaman lebih dalam mengenai organisasi. Pemilihan studi kasus sebelumnya dilakukan berdasarkan kemampuan terbaik dalam hal kemandirian berorganisasi. Penjelasan ini diberikan agar Kampung Marienburg dan Poewodadi memiliki kemampuan mengatur sendiri menuju konservasi warisan cagar dan bagaimana konservasi warisan dapat eksis melalui kemampuan kemandirian organisasi tersebut. Temuan utama dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa perkampungan di Suriname telah dikembangkan berdasarkan peraturan budaya Jawa yang mempromosikan penyatuan aktivitas sosial dan kemampuan kemandirian. Jika model pengembangannya diciptakan oleh penghuninya tanpa adanya gangguan eksternal, maka akan memiliki kekuatan yang potensial terhadap karakteristik ketahanan dan kemampuan kemandirian dalam berorganisasi. Pendekatan secara kompleksitas dalam penelitian ini dapat menggambarkan bagaimana struktur warisan fisik itu dapat muncul dari interaksi sosial dan budaya dalam suatu masyarakat dan bagaimana kelompok etnis tertentu secara kolektif berkontribusi terhadap kompleksitas pemukiman.

The shaping and repairing of kampung settlements follow some proven logic. Kampung settlements contain significant built heritage structures that are supported by an intrinsic socio-cultural system which is crucial for the community because of its resilient capabilities. UNESCO states that the focus of heritage protection has moved from conserving architectural monuments to a broader perspective incorporating a variety of processes addressing a range of diverse values. Due to this shift it is expected that policies should also change. Heritage areas as complex systems show complex characteristics e.g. interconnectedness, interdependence, self-organization, therefore more awareness concerning the potentials and criticalities of self-organization in heritage conservation is needed. There has been a strong paradigm shift in the last decade from standalone monumental objects, being perceived as having a universal value for the global society, to heritage entities containing intangible and tangible heritage elements that are interrelated and have very strong value for the local community. Understanding of the latter is very poor, especially in developing countries, since they are still not receiving attention in heritage development and preservation. Due to this issue the objective of this research is to explore the kampungs in Suriname as built cultural heritage and its dynamics as complex systems in order to show its values to the community and its significance in the total society. By using the complexity theory, the study describes how the living environment is considered accordingly and takes into account the accretion and accumulation of successive layers of collective activity and the growth of the urban area. The methodological approach contains two methods. The first method consisted of a traditional exploratory case study in which a preliminary identification of heritage attributes is studied in kampung Marienburg, Poerwodadi and Clevia. Furthermore, the relationship between the condition of the overall heritage and the capability to manage change in the kampung is also explored. The second case study design was combined with a complexity science perspective in order to provide a deeper understanding of the organization. A selection of the previous case studies is done based on the best and least in self-organization capability. A description is given of the self-organizing capabilities of kampung Marienburg and Poewodadi towards heritage conservation and how the capability of self-organization in heritage conservation is able to exist. The main finding of the research shows that the kampung settlements in Suriname has been developed based on Javanese cultural rules that promote social cohesion and self �¢ï¿½ï¿½sufficiency. If its design and development is created by the inhabitants without external interference, it has the potentials of having strong resilience characteristics and capabilities of self-organization. The complexity approach has enabled the study to describe how physical heritage structures have emerged from social and cultural interactions within a society and how a specific ethnic group collectively contributes to a settlement�¢ï¿½ï¿½s complexity.

Kata Kunci : Complexity theory, urban complexity, cultural heritage, complex urban systems


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.