Perempuan dalam komunitas miskin :: Studi tentang ideologi dan relasi gender dalam komunitas 'Kedungmangu Masjid' di Kota Surabaya
SUSANTI, Emy, Promotor Dr. J. Nasikun
2003 | Disertasi | S3 SosiologiTujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang sistematis dan mendalam tentang ‘kehidupan perempuan miskin’ serta proses dinamis yang menjelaskan ‘mengapa kemadirian sosial ekonomi perempuan miskin tidak secara langsung dapat mengubah relasi sosial atau relasi kekuasaan antara perempuan dan laki-laki’, dengan mengungkap ‘bagaimana ideologi gender dan relasi gender berlangsung’ dalam suatu ‘setting sosial kemiskinan perkotaan’. Penelitian ini menggunakan kombinasi dua pendekatan: fenomenologi (phenomenology) dan perspektif gender. Perspektif fenomenologi mencoba memahami dunia kehidupan perempuan dari sudut pandang perempuan itu sendiri. Perspektif gender menempatkan kehidupan perempuan sebagai fokus analisis dan menekankan arti pentingnya (perbedaan) gender dalam kehidupan sosial. Penelitian ini dilakukan di suatu komunitas miskin ‘perajin tempe’ yang berasal dari etnik Jawa yang tinggal di Kelurahan Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya (dikenal sebagai wilayah ‘Kedungmangu Masjid’). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ‘dimensi kemiskinan’ bagi perempuan ternyata jauh lebih kompleks dan berbeda dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan miskin turut ‘bekerja’ mencari nafkah sebagai hasil ‘interpretasi’ mereka, yang bisa berbeda antara perempuan dan laki-laki, terhadap realitas kemiskinan yang mereka hadapi. Selain itu, kehidupan kota membawa dampak yang jauh lebih berat bagi perempuan dibandingkan perempuan miskin yang tinggal di pedesaan. Hasil penelitian mengungkap ‘realitas kemiskinan’ dalam komunitas Kedungmangu Masjid sebagai suatu ‘realitas subyektif’. Kemandirian perempuan miskin secara sosial-ekonomi sejauh ini tidak berimplikasi pada suatu relasi gender yang lebih egaliter karena tetap berlangsungnya ‘hegemoni patriarki dan terjadinya proses feminisasi kemiskinan. Ideologi gender yang berlaku dalam komunitas miskin ini bukan hanya ideologi gender patriarkis yang ‘konvensional’ (yang memisahkan tanggung jawab perempuan dan laki-laki), tetapi ideologi gender ‘spesifik orang miskin’ (yang membebani perempuan dengan ‘multi burden’) yang dapat disebut sebagai ‘patriarki kemiskinan’. Dalam komunitas miskin ini juga berlangsung 'proses dekonstruksi ideologi gender yang patriarkis' (patriarki kemiskinan) yang dianggap tidak menguntungkan perempuan. Perempuan miskin melakukan rekonstruksi ke arah ideologi gender yang lebih egaliter. Sebaliknya, laki-laki miskin tidak melakukan dekonstruksi tetapi justru lebih menekankan berlakunya ideologi gender yang patriarkis. Dekonstruksi ideologi patriarki yang dilakukan oleh perempuan merupakan suatu proses yang belum selesai, terus mengalami redefinisi dan interpretasi. Pemikiran dari teori fungsional bahwa pembagian tugas dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki adalah saling melengkapi dan tidak mengandung dimensi kekuasaan, ternyata tidak tercermin dalam studi ini. Disini terungkap bahwa relasi gender sangat kental diwarnai dimensi ‘kekuasaan’ laki-laki – patriarki – karena alasan kemiskinan. Secara teoretik, studi ini merefleksikan; (1) penegasan pentingnya posisi perspektif gender untuk memahami realitas kemiskinan dalam konfigurasi analisis sosiologis; (2) tawaran tentang pendekatan fenomenologis, di antara beberapa pendekatan lain dalam kajian sosiologis, yang dapat lebih memberikan nuansa dalam kajian sosiologi gender; (3) suatu penegasan tentang keunggulan perspektif analitis feminis post-strukturalis dalam konfigurasi perspektif feminis lain—yang lebih bernuansa konvensional dan struktural.
This study is aimed to get a systematic, indepth knowledge and analysis of women’s life and the dynamic process which explain why is it the social economic autonomy of poor women do not directly change power relations between men and women’ by understanding ‘how gender ideology and gender relations occur in a social setting of urban poverty.’ The methodology of this study uses two perspectives: phenomenology and gender. The former tries to uncover the reality of women world from their own perspective, while the later underlines women life as a focus of analysis, and focuses on the importance of gender analysis in social life. This study is conducted in a poor community of Kelurahan Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. This community is well-known as the poor Javanese community of ‘tempe’ maker (perajin tempe ), living in ‘Kedungmangu Masjid’. This study concludes that the dimentions of poverty for women is different from those of men. gender ideology and gender relations is coloured by social structure of poverty. Gender ideology and gender relations which exist in a poor community under study is unequal which is manifestation of existing patriarchal structure both as an ideology (social values) and as social system. Duties and responsibilities of women in a poor community seemingly tend to be very hard, although unrecognized, unrealized, and often ‘hidden’. In addition this study uncover that women are not all positioned subordinate to men and obviously have social and economical autonomy in the context of their household. This study indicates that poor women have tried to deconstruct, reproduce, and develop an ideology—a more egalitarian gender relation— and then socialize it to the next generation. Poor women believe that ideology and unequal gender relation (patriarchal) tend to complicate them to get away from their poor trap. This study also shows that poor women autonomy is a starting point to begin a more egalitarian gender relation, even if the autonomy tend not to continue to an effort of ‘deconstructing’ ideology—an unequal gender relation. Poor women does not have social network and access to public world, hence poor women social-economical autonomy discontinue in their household. This study has several theoretical implications as follows: (1) the statement of the importance of gender perspective to understand poverty reality in the configuration of sociological analysis; (2) an offer of phenomenological perspective, amongst other perspectives in sociological studies, being able to give more nuance in the sociology of gender; (3) the virtue of post-structuralist feminism from the configuration of other conventional feminisms which are more structuralistic.
Kata Kunci : Sosiologi,Perempuan Miskin,Relasi Sosial dan Kekuasaan