Laporkan Masalah

Menguak Paradoks Kepemimpinan: Servant Leadership dalam Pengelolaan PAntai Indrayanti

QORINNA IZZATUSH S, Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.

2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Pengamatan terhadap kiprah seorang pendatang, pak Arif, di Pantai Indrayanti menandakan berlakukan model kepemimpinan, yang dalam studi manajemen, disebut servant leadership model. Model ini menjelaskan dengan baik keberhasilannya menggantikan model khas yang dikembangkan birokrasi pemerintahan, yang bersifat top-down. Pemimpin berada dalam posisi lebih tinggi dan harus dipatuhi. Model alternatif tersebut justru membalik logika, bahwa dengan melayani pengikut dengan setulus hati maka pada akhirnya akan mampu memimpin. Jika dicermati dari cara berfikir yang birokratis, gejala ini bersifat paradoksal. Justru dengan merendahkan dirinya, pak Arif justru semakin kuat kapasitasnya memimpin, dan bahkan berhasil mengalang proses untuk mengolah potensi setempat menjadi destinasi wisata yang belakangan ini cukup terkenal. Studi ini bermaksud untuk menelisik, mengapa gejala kepemimpinan ditandai oleh relasi yang bersifat paradoksal. Untuk mendapatkan penjelasan, studi ini mengacu pada tradisi pemikiran neo-institusionalis untuk mencerna lebih lanjut, gejala yang dalam studi manajemen disebut servant leadership. Premis penting yang dijadikan acuan di sini adalah bahwa kepemimpinan adalah relasi kuasa, dan relasi ini tidak terjadi dalam sebuah situasi dan relasi yang hampa. Relasi pemimpin dengan pengikut ditelaah dalam kerangka fikir tersebut, sehingga terlihat gejala yang dalam bahasa ekonomi disebut relasi supply-demand. Bahwa perjalanan pak Arif untuk menggerakkan dinamika masyarakat setempat melibatkan relasi timbal-balik yang pada gilirannya membuat saling ketergantungan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Dengan meminjam cara berpikir neo-institusionalis dapat difahami bahwa yang berlangsung sebetulnya adalah relasi kuasa yang normal. Bahwa kesediaan untuk menjadi servant adalah keniscayaan dalam leadership. Mapannya kepemimpinan justru terjadi manakala relasi kuasa yang berlangsung sifatnya saling menjebak. Itulah yang dimaksud dengan situasi yang institutional, sehinga kedua belah pihak tidak begitu saja bisa meninggalkan. Pemimpin mampu menginvestasikan kekuasaan melalui modal sosial yang telah dikorbankan maka investasi kekuasaan tersebut akan kembali kepadanya melalui legitimasi yang diberikan oleh pengikutnya.

The observation of an immigrant's action, Mr. Arif, at Indrayanti Beach signifies a model of leadership, which in management studies, is called servant leadership model. This model explains well the success of a typical model developed by a top-down government bureaucracy. Leaders are in a higher position and must be obeyed. The alternative model reverses the logic, that by serving the followers with a sincere heart it will eventually be able to lead. When examined from a bureaucratic way of thinking, these symptoms are paradoxical. Precisely by lowering himself, Mr. Arif stronger the capacity to lead, and even managed to rally the process for cultivating local potentials into tourist destinations that lately quite famous. This study intends to investigate why leadership symptoms are characterized by paradoxical relationships. To get the explanation, this study refers to the tradition of neo-institutionalist thought to further digest, a symptoms which in management studies called servant leadership. The important premise made reference here is that leadership is a power relation, and this relationship does not occur in a vacuous situation and relationship. Leaders' relationships with followers are examined in such frameworks, so seen a symptoms that in economic language called supply-demand relations. That Arif's trip to mobilize the dynamics of the local community involves mutual relations which in turn makes the interdependence between leaders and those led. By borrowing neo-institutionalist thinking it can be understood that what actually takes place is a normal power relation. That willingness to be servant is a necessity in leadership. The establishment of leadership actually occurs when power relationships that take place are trap each other. That is what is meant by an institutional situation, so the two sides cannot just leave. The leader is able to invest power through social capital that has been sacrificed then the investment of that power will return to him through the legitimacy given by his followers.

Kata Kunci : paradoks, kepemimpinan, servant leadership, neo-institutionalism, legitimasi

  1. S1-2017-335702-abstract.pdf  
  2. S1-2017-335702-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-335702-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-335702-title.pdf