Laporkan Masalah

Analisis Kegagalan Implementasi Agreement of The Resolution of The Conflict in The Republic of South Sudan (ARCSS) Tahun 2015 Dalam Resolusi Konflik di Sudan Selatan

DOMINICUS SUSENO, Dr. Samsu Rizal Panggabean, M. Sc.

2017 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Dinyatakan sebagai negara baru yang terpisah dari Sudan pada tahun 2011, Sudan Selatan mengalami perang sipil yang terjadi pada tahun 2013 atau dua tahun setelah negara ini dinyatakan merdeka. Aktor utama dalam perang saudara ini adalah faksi Presiden Salva Kiir Maryadit dan Wakil Presiden Riek Machar - yang kedua dituduh melakukan percobaan kudeta. Setelah mengalami beberapa proses perundingan damai, akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk menandatangani Agreement On The Resolution Of The Conflict In The Republic Of South Sudan (ARCSS) pada tahun 2015. Hanya saja, pada tahun 2016 perang saudara muncul kembali ditengah upaya implementasi ARCSS Menggunakan kerangka teori mutual vulnerability dan delapan indikator kesulitan dari lingkungan implementasi perjanjian damai, skripsi ini berusaha menganalisis fenomena munculnya kembali perang saudara di Sudan Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa: pihak-pihak yang menjadi aktor tidak dalam posisi rentan antara satu dengan yang lain; banyak faktor kesulitan implementasi ditemukan di Sudan Selatan - membuat sulitnya untuk menjalankan ARCSS.

Declared as an independent nation from Sudan in 2011, South Sudan descended into civil war in 2013 - two years after its independence. The civil war pitted President Salva Kiir Maryadit against Vice President Riek Machar - the latter were accused to wage a coup. After multiple failed attempt of peace negotiations, the two actors finally agreed to put down their differences and sign the Agreement On The Resolution Of The Conflict In The Republic Of South Sudan (ARCSS) in 2015. However, another civil war errupted in 2016 and indicated the failure of implementation of ARCSS. Using mutual vulnerability theory and eight indicators of difficulties on implementing peace agreement, this study analyses the reemergence of civil war in South Sudan. The results show that: both parties are not mutually vulnerable; multiple indicators of difficulties are found in South Sudan - making it harder to implement ARCSS.

Kata Kunci : Sudan Selatan, implementasi perjanjian damai, mutual vulnerability

  1. S1-2017-299750-abstract.pdf  
  2. S1-2017-299750-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-299750-title.pdf