HUBUNGAN UMUR DAN POSISI RADIAL TERHADAP PENYUSUNAN SKEDUL PENGERINGAN PADA KAYU JATI (Tectona grandis Linn.F.)
DESANO INDRA SAKTI, Tomy Listyanto, S. Hut., M. Env. Sc., Ph. D.
2017 | Tugas Akhir | D3 PENGELOLAAN HUTAN SVKayu jati merupakan salah satu jenis kayu yang diminati dan paling banyak dipakai oleh masyarakat, khususnya di Indonesia. Selain memiliki sifat yang awet dan kuat, kayu jati mudah dikerjakan baik menggunakan mesin maupun menggunakan alat tangan atau alat manual. Upaya untuk meningkatkan kegunaan jati sebagai produk berkualitas tinggi seperti untuk tujuan kayu ekspor adalah dengan menyusun skedul pengeringan yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik cacat pengeringan dan hubungan antara umur, posisi radial kayu dan penyusunan skedul pengeringan. Faktor dari penelitian ini adalah dua macam umur yaitu umur 10 tahun dan 15 tahun, tiga posisi radial batang yaitu dekat hati, tengah, dan dekat kulit. Penyusunan skedul pengeringan mengacu pada metode Terazawa, dengan mengeringkan sampel pada suhu 100 derajat Celcius selama 72 jam. Parameter yang diamati meliputi kadar air awal, cacat retak, kolap, honeycombing, berat jenis, dan persen kayu teras. Analisis chi square digunakan untuk mengetahui hubungan antara umur, posisi radial batang da penyusunan skedul pengeringan. Cacat retak, kolap, dan honeycombing digunakan untuk menyusun skedul pengeringan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 6 variasi skedul pengeringan kayu jati. Posisi radial batang berhubungan nyata terhadap penyusunan skedul pengeringan. Skedul pengeringan kayu jati pada radial dekat hati dan tengah dapat dikeringkan dengan suhu awal 65 derajat Celcius, depresiasi bola basah awal 5 derajat Celcius, dan suhu akhir pengeringan 90 derajat Celcius. Sedangkan posisi radial dekat hati menggunakan skedul dengan suhu awal 70 derajat Celcius, depresiasi bola basah awal 7 derajat Celcius, dan suhu akhir pengeringan 105 derajat Celcius.
Jati is one type of wood that is in demand and most widely used by people, especially in Indonesia. Besides having a durable and strong characteristic, jati easily worked by machine or using hand or manual tool. Efforts to improve usability of jati as a high quality product like for wood product export, proper by develop the right drying schedule. The aims were to determine drying defect characteristics and to investigate the relationship between age of sample, radial position, specific gravity, percentage of heartwood, and development drying schedule of jati. Two types of age, which were 10 years and 15 years, and three radial position, which are near the pith, middle, and near the bark, were used as factors. Development of drying schedule followed Terazawa method, that is drying the samples for 72 hours with temperature in 100 degrees Celcius. Observed parameter were initial moisture content, checks, warping, collapse, honeycombing, specific gravity and percentage of heartwood were observed on each sample. Checks, collapse, and honeycombing were used to develop drying schedules. The results showed that there were 6 variations of drying schedule of jati. The relationship between radial position of jati and developed drying schedule was found. Drying schedule of jati with radial position near the heartwood and the middle position can be dried start at temperature of 65 degrees Celcius, wet bulb depression of 5 degrees Celcius and the final temperature of 90 degrees Celcius, while near the bark position can be dried with initial temperature of 70 degrees Celcius, wet bulb depression of 7 degrees Celcius and final temperature of 105 degrees Celcius.
Kata Kunci : Kata kunci : jati, metode Terazawa, posisi radial, skedul pengeringan, umur.