Laporkan Masalah

Analisis Risiko pada Rantai Pasok Cabai (Capsicum annum) di Daerah Istimewa Yogyakarta

ADINDA BUNGA AZIZAH, Novita Erma Kristanti, STP, MP ; Dr. Nafis Khuriyati, STP, M.Agr

2017 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

Cabai merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia selain padi, jagung, kedelai, daging, bawang merah, dan gula. Permasalahan pada komoditas cabai diantaranya adalah tingginya potensi kerusakan produk akibat hama, sangat rentan terhadap cuaca, dan kerusakan selama distribusi. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi risiko pada rantai pasok cabai sebagai dasar penyusunan rekomendasi. Penilaian risiko rantai pasok cabai dilakukan dengan menggunakan Rapid Agricultural Supply Chain Risk Assessment (RapAgRisk) yang memberikan pendekatan sistem secara luas untuk mengidentifikasi risiko, besarnya risiko, besarnya kemungkinan untuk gagal, dan pilihan untuk pengelolaan risiko baik untuk pelaku rantai pasok maupun pihak ketiga contohnya adalah pemerintah. Kelebihan dari RapAgRisk adalah penerapannya dapat sangat membantu jalannya rantai pasok agroindustri.Risiko-risiko yang memiliki kerentanan tinggi dan sedang kemudian didapatkan mitigasinya dan diurutkan berdasarkan prioritas dengan menggunakan metode analytical network process (ANP) yang mempertimbangkan kategori faktor risiko berupa faktor cuaca, biologis dan lingkungan, dan pasar serta kategori aktor berupa anggota tier pada rantai pasok cabai. Prioritasi mitigasi risiko menghasilkan urutan rekomendasi: perlakuan potongan bobot penimbangan dengan bobot 0,218, pengendalian harga dengan penetapan harga eceran tertinggi dan harga pokok penjualan dengan bobot 0,168, penggiliran tanam dengan bobot 0,143, penyesuaian lahan menurut musim dengan bobot 0,116, penggunaan mulsa dan jerami dengan bobot 0,084, penggunaan bahan pengendali OPT dengan bobot 0,08, penyediaan stok cabai yang lebih di pedagang kecil dengan bobot 0,079, sortasi dan pengepakan secara langsung dengan bobot 0,076, penyediaan bibit unggul oleh pemerintah dengan bobot 0,024, dan pemberian Sekolah Lapang aneka cabai dengan bobot 0,013.

Chili is one of Indonesia's strategic commodities in addition to rice, corn, soybeans, meat, onions, and sugar. Some of chili commodities' problems are product's high potential damage due to pests, very vulnerable to weather, and damage during distribution. The research is needed for identifying the risks in the supply chain of chili as the basis for the recommendations. Rapid Agricultural Supply Chain Risk Assessment (RapAgRisk) is used for assessment. RapAgRisk provides a broad system approach for identifying risks, the exposure of the risk, the possibility of risk to be happen, and the option for risk management for both supply chain and third party actors, example is the government. Highly and moderate vulnerability risks are then mitigated and ranked according to priorities that consider the two categories: (1) risk factor of weather, market, biological and environment, and (2) actors of the tier members in the supply chain. The most vulnerable risks are continuously rain and anthracnose from farmer tier also weight shrinking from wholesaler tier. The prioritizing risk mitigation results in a recommendation order (and weight) are: handling of cutting scales (0.218), proposing to The Ministry of Trade of Republic of Indonesia about the highest retail price determination and main price sales (0.168), shifting cropping (0.143), seasonal adjustment of land (0.116), mulch and straw usage (0.084), the use of pest controlling material (0.08), the provision of more pepper stock in small traders (0.079), direct sorting and packing (0.076), the provision of superior seeds by the government (0.024), and the provision of Field School about chili (0.013).

Kata Kunci : analytical network process, cabai, manajemen risiko, rantai pasok, RapAgRisk

  1. S1-2017-348806-abstract.pdf  
  2. S1-2017-348806-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-348806-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-348806-title.pdf