Menilik Paradoks dari Sebuah Kemudahan (Fenomena tentang Relasi Sosial Mahasiswa di Era Informatika)
PUBA BAYU PRATAMA R, Dana Zakaria Hasibuan, M.A.
2017 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIDewasa ini, segala hal yang berada di dalam lingkup masyarakat telah bersinggungan langsung dengan kehadiran sebuah teknologi yang mempermudah setiap sisi kehidupan. Tak terkecuali mahasiswa yang notabene merupakan seorang digital natives. Teknologi tersebut adalah internet. Hampir setiap dari individu yang berada di dalam masyarakat saat ini selalu terkoneksi dengan internet dan mulai hidup di dalam sebuah dunia digital. Hal ini kemudian membuat mereka seperti telah memindahkan segala tindakan sosial ke dalam sebuah ranah yang maya dan membuat mereka seakan melupakan dunianya yang nyata. Mahasiswa yang seharusnya memiliki kepekaan sosial yang lebih tinggi dan aktif dalam lingkungan masyarakat justru cenderung lebih aktif di dalam ruang sosial yang maya. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk melihat dan mengetahui seberapa jauh mediasi yang di lakukan oleh internet di dalam relasi sosial mahasiswa di Yogyakarta dan juga melihat bentuk-bentuk apa saja yang terjadi dengan adanya mediasi yang terjadi dari keberadaan internet di dalam masyarakat dan mahasiswa. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Dengan metode ini peneliti nantinya akan mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan adanya fenomena mediasi yang terjadi dari keberadaan internet. Deskripsi ini berisi dari hal apa yang mereka alami dan bagaimana mereka mengalaminya. Mediasi yang terjadi dari keberadaan internet ini telah memunculkan dua bentuk dari kehidupan berinternet mahasiswa itu sendiri. Bentuk yang Pertama, adalah Empathyless Life yang terjadi karena adanya Global Village yang melipat dunia nyata dan kemudian memunculkan dehumanisasi di dalam masyarakat. Kemudian bentuk yang Kedua, Munculnya manusia multitasker yang berada di dalam ruang lingkup sosial maya dan juga membentuk sebuah relasi yang maya. Walaupun mereka sudah termediasi dari masyarakat oleh hadirnya internet tersebut namun hal ini belum separah dengan fenomena hikikomori di Jepang yang benar-benar mengekslusi dirinya dari kehidupan bermasyarakat. Koneksi internet yang belum merata dan keberadaann kultur pada masyarakat Indonesia yang menyukai gotong-royong membuat mediasi yang dilakukan internet masih dapat teratasi. Hal ini kemudian menjadikan masyarakat masih tetap dapat menikmati dan menyukai ruang sosial yang nyata dibandingkan dunia maya. Terlebih di dalam sebuah pedesaan.
Nowadays, every single person in the world connected with technology that was made our life easier. No exception for a student who in fact is a digital native. Almost each of the individuals is always connected to the internet and begins to live in a digital world. Then, this makes them feel like it has been moving all social action into a virtual realm, and make them forget the real world. Students who are supposed to have a higher social sensitivity and active in their society, tend to be more active in virtual social space. The aim of the research is for seeing and knowing the form of mediation in a society that is done by internet and also sees the pattern of social relations that occurs with the mediation of the internet. In doing my research, I use a qualitative approach with phenomenology as a method. With this method, I will describe the general meaning of a number of individuals on their life experience. This description contains what they experienced and how they experienced it. The mediation of the internet has led two forms of student surfing life. The first form is an empathyless life that occurs for their global village folding the real world and then led dehumanization in our society. And the second form is the emergence of multitasking man who lives within virtual space and then forming a virtual relation. Even they are has been mediated from the society, but this has not as extreme as a hikikomori phenomenon in Japan. Internet connection was uneven and the existence of culture in Indonesian society who like gotong-royong make internet mediation can still be resolved. Then, this makes people still enjoyed the real world than a cyberspace. Especially in a countryside.
Kata Kunci : Mediasi Internet, Relasi Sosial, Internet, Mahasiswa, Digital Natives