Laporkan Masalah

Pengelolaan prasarana sanitasi lingkungan oleh masyarakat di Kampung Kanalsari, Kota Semarang

SYAHBANA, Joesron Alie, Promotor Prof.Dr.Ir. Sri Harto BR., Dip.H

2003 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Teknik

Masalah sanitasi lingkungan merupakan masalah perkotaan yang tidak pernah terselesaikan secara tuntas dalam proses urbanisasi di Indonesia sejak dari masa Pemerintahan Hindia-Belanda sampai sekarang sehingga menjadi program abadi dan sektor penting dalam pengelolaan perkotaan, khususnya di kawasan perkampungan. Meskipun pendekatan investasi prasarana mempunyai peran besar, bahkan di negara maju telah menuntaskannya, tidak demikian halnya bagi daerah perkotaan di negaranegara berkembang. Banyak tantangan yang dihadapi, berhubungan dengan masalahmasalah ekonomi, sosial-budaya, kepadatan, perilaku, dan peranserta masyarakat. Sulit bagi penduduk kampung yang kekurangan dalam sumber untuk memiliki prasarana sanitasi lingkungan (PSL) secara pribadi sehingga sebagian masih menggantungkan pada sistem penyediaan komunitas. Apalagi kenyataan sosial di kawasan kampung banyak dipengaruhi oleh fenomena kebersamaan yang memungkinkan tumbuhnya sistem tersebut. Sejalan dengan proses urbanisasi, sebagian penduduk mampu mengembangkan kepentingan pribadi termasuk dalam pemilikan PSL. Keberadaan PSL sistem komunitas yang berbaur dengan sistem pribadi telah menumbuhkan fenomena perilaku spesifik dalam kehidupan kampung. Meskipun hanya merupakan salah satu tema perilaku, keberadaannya tidak pernah terlepas dari sistem manusia dan ekologi kampung secara utuh. Artinya, keberadaan fenomena tersebut tidak dapat dipisahkan dari tema-tema perilaku lain. Seperti fenomena gunung es, yang tampak di peimukaan kecil, tetapi yang ada di bawah permukaan belum terkirakan. Oleh karena itu merupakan agenda penelitian yang menarik untuk mengungkapkan pengetahuannya, terutama pengetahuan yang menopang keberadaan tema perilaku ini yang sudah berbaur dengan kehidupan sehari-hari yang wajar dalam tanda-tanda sederhana yang kurang menarik perhatian, tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di komunitas lain. Penelitian berbasis fenomena yang dianalisis secara induktif dan ‘kualitatif di Kampung Kanalsari, Kota Semarang ini menghasilkan suatu pengetahuan substantif pengelolaan PSL oleh masyarakat yang terdiri dari pengetahuan yang ada di atas dan di bawah permukaan. Pengetahuan di atas permukaan bersifat nyata, mudah diukur secara empiris. Konstruksi dan strukturnya terbentuk dari pengetahuan-pengetahuan tentang jaringan PSL dan operasi kelembagaannya. Pengetahuan di bawah permukaan terdiri dari berbagai pengetahuan yang berfbngsi sebagai pilar-pilar dan pondasi. Terdapat tiga pilar pengetahuan yang menopang keberadaan badan pengetahuan di atas permukaan, sesuatu yang abstrak, tidak mudah diukur secara empiris karena berupa pengetahuan tentang konsepkonsep dan teori: (i) mengelola kepentingan bersama, (ii) mengelola kepentingan pribah, dan (iii) mengelola tarik-menarik antara kepentingan pribadi dan bersama. Pondasi merupakan pengetahuan yang terletak dalam struktur terbawah dari bangunan pengetahuan pengelolaan PSL, terdiri dari sistem yang terbangun dari kumpulan nilai-nilai agama dan kepercayaan yang telah berproses dengan nilai-nilai potensi lokal hasil hubungan timbal-balik dari nilai-nilai karakteristik manusia secara individu dan kolektif serta lingkungan

Sanitation has been one of the prolonged and unpresolved problems in Indonesia's urbanization since the Dutch Colonization until recently. This issue even becomes a classic and is regarded as an important sector in urban management, particularly in the traditional urban settlement of kumpung. Investment on urban infrastructures has been adopted and of having a greater role to address the issue. However, unlike in developed countries where the approach has been sucessfdly completed, the implementation of such an approach in developing countries has yet to have a sound impact. This happens as there are many challenges faced by urban government in developing countries, which are associated with economic and socioculture factors, population density, behavior, and community participation. In fact, most of h p u n g dwellers depend on communal sanitation inhtructures as lack of necessary resources has prevented them to have their privately-owned sanitation inhtrutures operated. Collective and social norms live in kumpung have contributed to the growth of the communal system. Meanwhile, as urbanization processes go on, many people living in kumpung have been able to develop their private properties, including sanitation infrastructures. However, the existence of the common facility system mixed with individual system has created a specific behavioral' phenomenon in kampung living culture. Although this phenomenon seems only to be a behavioral theme, it is difficult to separate it fiom the entire kampung humanity and ecological system. This means that the presence of such a phenohenon can not be taken apart fiom other behavior themes. This would appear like iceberg phenomena where those look apparently small at the top and the surfaces but certainly bigger underneath. Therefore, it is an important agenda to disclose what knowledge underpinning the phenomena, especially of the one that supports the existence of the phenomena, which have more or less melted to they daily common lives, the common fabrics that may have appeared as simple, uninteresting, and similar to what would happen in other communities. This phenomena-based research that was inductively analyzed and qualitatively inquired with a case study taken at the Kampung of Kanalsari in the city of Semarang result in substantive knowledge of community based-sanitation infiastructure management. The finding consists of two different levels of knowledge. First, the upper level is real and can easily be measured by empirical senses (tangible). This knowledge is constructed and structured by pragmatic knowledge on sanitation infrastructure network system and its operational institution. Secondly, the lower one is composed of various knowledge that function as pillar and foundation, an abstract concept which are intangible thing since it consists of theoritical and conceptual knowledge, i.e. three pillars of knowledge of (i) managing common interests, (ii) managing private interests, and (iii) managing tug-of-war between common-private interests, in one hand. On the other hand, the foundation is the knowledge lies on the very bottom structure of the knowledge of sanitation infiasructure management. It consists of system that is constructed fiom a set of religious and believes values which have mingled with local potential values as a result of mutual relationships of individual and collective human characteristics and the environment.

Kata Kunci : Teknik,Sanitasi Lingkungan,Pengelolaan,Masyarakat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.