Laporkan Masalah

POLA PERTANAMAN DAN PRODUKTIVITAS KAYU SENGON (Falcataria moluccana) PADA AGROFORESTRI TEGALAN DI DESA WUKIRSARI, CANGKRINGAN

ABDURRAHMAN AL GHAFIQI , Dr. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P.; Widiyatno, S.Hut, M.Sc., Ph.D.

2017 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Agroforestri berbasis sengon merupakan salah satu praktik pengelolaan lahan yang banyak dikembangkan oleh petani. Pertimbangan pemilihan ini dikarenakan waktu panen yang relatif singkat, produktivitas kayu dan peluang dipadukan dengan tanaman lain tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertanaman yang berkembang pada agroforestri berbasis sengon dan produktivitas pada masing-masing pola. Penelitian ini dilakukan di lahan tegalan Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Metode pengambilan data dilakukan secara purposive sampling (tutupan lahan sengon minimal 40%) pada 30 plot tegalan berukuran 20 m x 20 m dengan tanaman pokok berupa sengon. Data yang diambil yaitu pola tanam, jenis tanaman penyusun tegalan, tinggi pohon, tinggi batang bebas cabang, diameter setinggi dada, koordinat pohon, panjang tajuk (utara, timur, selatan dan barat). Analisis data yang dilakukan meliputi Indeks Nilai Penting (INP), Luas Bidang Dasar (LBDS), Volume tegakan dan visualisasi SExI-FS pada masing-masing pola penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertanaman agroforestri tegalan berbasis sengon yang berkembang di Desa Wukirsari adalah pola pertanaman sengon murni (AF1), pola pertanaman sengon-tanaman kayu lain (AF2) dan pola pertanaman sengon-tanaman semusim (AF3). Produktivitas kayu sengon pada AF1, AF2, dan AF3 masing-masing adalah 189,84 m3, 59,61 m3 dan 62,75 m3. Pengelolaan agroforestri tegalan berbasis sengon di Desa Wukirsari tergolong kurang maksimal khususnya pada pola AF2 dan AF3. Hal ini dimungkinkan karena pola pertanman campur, untuk itu perlu dilakukan inovasi pada masing-masing pola pertanaman untuk mendapatkan hasil yang optimal

Sengon-based agroforestry is of the many land management practices developed by farmers. These selection considerations are due to relatively short harvest times, timber productivity and opportunities combined with other plants are high. The aim of this research is to know the growing pattern of cultivation in sengon-based agroforestry and productivity in each pattern. This research was conducted at Wukirsari Village, Cangkringan District, Sleman Regency. The data collection method was done by purposive sampling (minimum 40% of sengon land cover) on 30 plots of dry land measuring 20 m x 20 m with staple plant of sengon. The data taken are planting pattern, plant species of tegalan, tree height, branch free height, diameter at breast height, tree coordinate, crown length (north, east, south and west). Data analysis performed included Importance Value Index (IVI), Basal Area (BA), Stand volume and SExI-FS visualization on each land use pattern. The results showed that the pattern of agroforestry cultivation based on sengon grown in Wukirsari village was the pattern of pure sengon planting (AF1), the pattern of sengon plantation - other wood plants (AF2) and the pattern of sengon planting - the annual crop (AF3). The productivity of sengon wood in AF1, AF2, and AF3 were 189.84 m3, 59.61 m3 and 62.75 m3 respectively. The Management of dry land agroforestry based on sengon in Wukirsari Village was less than the maximum, especially on AF2 and AF3 patterns. This was possible because the pattern of mixed agriculture, for it needs to be innovated in each pattern of cropping to obtain optimal results.

Kata Kunci : Agroforestri, Tegalan, Pola Pertanaman, Sengon, Produktivitas;Agroforestry, Dry Land, Pattern of Plantation, Sengon, Productivity

  1. S1-2017-330429-tableofcontent.pdf