EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (SAK EMKM) DALAM UPAYA PEMBENTUKAN LAPORAN POSISI KEUANGAN ENTITAS (STUDI KASUS TB. ALBA SAKTI)
DHANU TRI KUSWARA, Choirunnisa Arifa, S.E., M. Sc.
2017 | Skripsi | S1 AKUNTANSISemakin pentingnya informasi keuangan dalam dunia usaha menuntut adanya keseragaman dalam pembentukan laporan keuangan. Untuk menjawab tuntutan tersebut, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Meski begitu, ternyata dari pihak UMKM sebagai sasaran utama standar tersebut justru tidak menerapkannya dengan alasan bahwasanya standar yang disediakan terlalu sulit untuk diterapkan. Menanggapi hal tersebut, pada tahun 2016 DSAK IAI mulai menyusun standar yang lebih sederhana yaitu Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi masalah yang muncul dalam pengimplementasian SAK EMKM. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis tingkat signifikansi atas perbedaan dari pengimplementasian SAK EMKM dan SAK ETAP. Penelitian ini bersifat kualitatif melalui pendekatan lapangan (fieldwork approach) berupa participatory action research (PAR). Dalam menganalisis data, teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif komparatif. Hasil dari penelitian ini menunjukan masih adanya masalah dalam penerapan SAK EMKM antara lain terkait perlakuan dalam pengukuran aset yang tidak memiliki dokumen pendukung untuk menentukan biaya perolehan, kurang detailnya contoh penerapan standar, dan isu keseragaman atas kebebasan estimasi yang diperbolehkan. Selanjutnya, disimpulkan bahwa antara SAK EMKM dengan SAK ETAP, tidak terdapat adanya perbedaan yang signifikan dengan catatan bahwa tidak diakuinya nilai residu umumnya akan memberi dampak yang besar terhadap akumulasi penyusutan.
The growing importance of financial information in the business world demands a uniformity in the formation of financial statements. To answer these demands, DSAK IAI (Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia) publishes SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik). Even so, it turns out from the SMEs as the main target of the standard did not apply it with a reason that the standards provided are too difficult to apply. In response to that, in 2016, DSAK IAI began to prepare a simpler standard which now called SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah). This study aims to identify and evaluate problems that arise in the implementation of SAK EMKM. In addition, the study also aims to analyze the significance levels of differences from the implementation of SAK EMKM and SAK ETAP. This research has a qualitative research design through fieldwork approach in the form of participatory action research (PAR). In analyzing the data, the techniques used in this study are comparative descriptive approach. The results of this study indicate that there are still problems in the application of SAK EMKM, which related to the treatment in measuring assets that do not have supporting documents to determine the cost of acquisition, the lack of detail examples of standard implementation, and uniformity issues over the freedom of estimation. Further, it is concluded that between SAK EMKM and SAK ETAP, there is no significant differences with addition that the non-recognition of residual values will generally have a major impact on the accumulated depreciation.
Kata Kunci : SAK EMKM, SAK ETAP, Balance Sheet, Comparison, Level of Differential Significance, Qualitative Research