PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK PEMETAAN KESESUAIAN LAHAN TANAMAN KARET ( Havea brasiliensis ) BERDASARKAN ASPEK AGROKLIMAT DI AFDELING JAMUS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IX JAWA TENGAH
RINA KARTIKA SARI, Dr. Retnadi Heru Jatmiko, M.Si
2017 | Tugas Akhir | D3 PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI SVKesesuaian lahan tanaman karet (Havea brasiliensis) berdasarkan aspek agroklimat di Afdeling Jamus PT Perkebunan Nusantara IX dilakukan untuk mengetahui tingkat kesesuaian lahan tanaman karet sesuai dengan aspek agroklimat. Aspek tersebut menggunakan 2 parameter yang utama, yaitu curah hujan dan suhu. Pemetaan kesesuaian lahan tanaman karet berdasarkan aspek agroklimat untuk mengetahui wilayah yang memiliki tingkat kesesuaian lahan secara spasial sehingga dapat dilakukan penanganan dan monitoring kesesuaian lahan. Beberapa peta yang dijadikan sebagai parameter dalam pembuatan peta kesesuaian lahan tanaman karet tidak pernah dilakukan pembaharuan dan tidak dilakukan pemetaan. Hal tersebut menjadi tujuan untuk pembuatan peta berdasarkan parameter-parameter kesesuaian lahan tanaman karet secara lengkap, sehingga dapat dilakukan pemetaan terkini mengenai kesesuaian lahan tanaman karet berdasarkan aspek agroklimat di Afdeling Jamus. Metode yang digunakan dalam pemetaan Kesesuaian Lahan Tanaman Karet berdasarkan Aspek Agroklimat di Afdeling Jamus dengan menggunakan metode matching dengan mencocokkan syarat tumbuh kembang tanaman karet dengan kondisi lahan yang bervariasi. Parameter-parameter yang digunakan yaitu, curah hujan, suhu, kemiringan lereng, bentuklahan, penggunaa lahan, dan jenis tanah. Luas wilayah Afdeling Jamus sebesar 410 hektar dengan kondisi lahan yang berbeda-beda. Pemetaan Kesesuaian Lahan tanaman Karet dilakukan dengan menggunakan software ArcGIS. Hasil pemetaan kesesuaian lahan tanaman karet Afdeling Jamus memiliki 2 kelas tingkat kesesuaian lahan, yairu sangat sesuai (S1) dengan luas 275 hektar dan cukup sesuai (S2) dengan luas 135 hektar.
This study was conducted to determine the land suitability level for rubber cultivation in accordance with the agroclimatic aspect. This aspect used two main parameters, namely rainfall and temperature. The land suitability mapping was needed to know the spatially suitable area for rubber cultivation in order to manage and monitor the land suitability. Several maps used as parameters in land suitability mapping for rubber cultivation have never been updated. Considering that matter, this study aimed to make the maps based on complete land suitability parameters for rubber cultivation. Therefore, the up to date mapping of the land suitability for rubber cultivation based on agroclimatic aspect in Afdeling Jamus could be done. The method used in land suitability mapping for rubber cultivation based on agroclimatic aspect in Afdeling Jamus is the matching method by matching the requirement for rubber plantation growth according to various land conditions. Parameters used in this study are rainfall, temperature, slope, land-form, land-use, and soil type. Afdeling Jamus has an area of 410 hectares in various land conditions. This study was done by using ArcGIS software. The result of the land suitability mapping for rubber cultivation represents that there are two classes of land suitability; suitable (S1) with an area of 275 hectares, and quite appropriate (S2) with an area of 135 hectares.
Kata Kunci : Penginderaan Jauh, SIG, Pemetaan, Kesesuaian Lahan, Lahan, Karet, Agroklimat,ArcMap /