PRODUKSI KARKAS BURUNG PUYUH YANG MENDAPAT PAKAN DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TEMU GIRING (Curcuma heyneana)
ANISA ROSLEINA, Nanung Danar Dono, S. Pt., MP., Ph. D ; Ir. Rusman, MP., Ph. D.
2017 | Skripsi | S1 ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung temu giring (Curcuma heyneana) dalam ransum terhadap produksi karkas burung puyuh.Materi yang digunakan adalah 120 ekor puyuh jantan umur satu hari yang dikelompokkan dalam 4 perlakuan pakan. Setiap perlakuan diberikan replikasi 6 kali, masing-masing terdiri dari 5 ekor puyuh di setiap kandang replikasi. Puyuh mendapatkan pakan komersial standar starter pada umur 1-21 hari dan pakan perlakuan grower pada umur 22-42 hari yang mendapatkan suplementasi tepung temu giring (TTG). Pakan perlakuan yang diberikan berupa pakan basal tanpa penambahan tepung temu giring (P0; kontrol), pakan basal + 10 g TTG (P1), pakan basal + 20 g TTG (P2), serta pakan basal + 30 g TTG (P3). Variabel data yang diamati adalah: bobot potong, produksi karkas, dan non karkas. Data hasil penelitian diuji statistik menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola Searah dan dilanjutkan dengan Duncan’s new Multiple Range Test untuk data yang berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan TTG dengan dosis 10 g meningkatkan bobot potong (P<0,001), bobot potong (P<0,001), dan bobot non karkas (P<0,01). Upaya peningkatan suplementasi TTG menjadi 30 g justru menurunkan (P<0,01) bobot hidup, bobot potong, bobot karkas, dan bobot bagian non karkas. Disimpulkan bahwa penambahan pakan dengan tepung temu giring dengan dosis 10 g memperbaiki bobot badan yang dihasilkan, namun penambahan dengan dosis lebih dari 20 g tidak disarankan karena dapat menurunkan produksi karkas puyuh jantan.
This study was aimed to determine the effects of diets supplementation with temu giring (Curcuma heyneana) meal on carcass production of Japanese quail (Coturnix coturnix japonica). Materials used in current study were 120 day old male quails that were allocated in 4 feeding treatments. Each treatment was replicated 6 times, with 5 birds in each replicated pen. The birds were fed a starter commercial standard diet on days 1-21 and grower treatment diets on days 22-42. The treatment diets were: a basal diet without temu giring meal (TTG) supplementation (P0; control), basal diet + 10 g TTG (P1), basal diet + 20 g TTG (P2), and basal diet + 30 g TTG (P3). Data variable that collected were: slaughter weight, carcass production, and additional non-carcass production. The data were then statistical analyzed with Complete Randomized Design, and continued with Duncan’s new Multiple Range Test for data with significant difference. Results showed that TTG supplementation with the rate of 10 g improved live weight (P<0.001), slaughter weight (P<0.001), and non-carcass weight (P<0.01). Supplementation with 30 g TTG reduced (P<0.01) live weight, slaughter weight, carcass weight, and non-carcass weight. It might be concluded that diet supplementation with 10 g temu giring meal improved slaughter weight, carcass weight, and non-carcass weight. However, supplementation with more than 20 g is not recommended as it depressed final body weight and carcass production of male Japanese quail.
Kata Kunci : Bobot potong, Produksi karkas, Puyuh jantan, Tepung temu giring / Carcass production, Male Japanese quail, Slaughter weights, Temu giring meal