ADVERSITY QUOTIENT PADA PELAKU STARTUP DI YOGYAKARTA; KEGIGIHAN DI TENGAH MASALAH
AKBAR VEREZHA B I, Sumaryono, Dr., M.Si.
2017 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIJumlah startup di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara, namun tingkat kegagalannya mencapai angka 90%. Kegagalan tersebut dapat disebabkan oleh faktor internal startup dan faktor eksternal. Dampak pada kegagalan tersebut menimbulkan efek negatif, seperti rasa takut, cemas, depresi, bahkan hingga memilih untuk bunuh diri. Dibutuhkan daya juang atau adversity quotient dalam menjalankan startup untuk bisa mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana adversity quotient pada pelaku startup di Yogyakarta. Alasan penelitian dilakukan di Yogyakarta karena merupakan salah satu kota yang menjadi perhatian utama pemerintah dalam membangun ekosistem startup di Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam peneltian ini adalah fenomenologi dan dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur dengan pedoman wawancara yang telah dibuat oleh peneliti. Responden pada penelitian ini terdiri dari tiga pelaku startup yang memiliki kriteria sebagai berikut; 1.) Berusia 18-24 tahun, 2.) Usia startup minimal 1 tahun, 3.) Berdomisili di Yogyakarta, 4.) Bersedia untuk diwawancara. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan dua bentuk adversity quotient pada pelaku startup, yaitu strategi coping dan karakter. Strategi coping dalam menghadapi masalah berupa segera menyelesaikan masalah, memiliki tujuan dan visi, mengambil hikmah, dan mencari solusi. Sementara karakter pada pelaku startup adalah bertanggung jawab, belajar dari pengalaman, teguh pada prinsip, pantang menyerah, dan optimis.
The number of startups in Indonesia is the highest in Southeast Asia, but the failure rate eached 90%. Those failures may be caused by internal factors and external factors of startup. The impact has negative effects, such as fear, anxiety, depression, even suicide. Needed adversity quotient in running startup to solve the problems that occur. The purpose of this research is to know how adversity quotient among startup founders in Yogyakarta. The reason behind the research was conducted in Yogyakarta because it is one of the cities that became main focus of the government in building startup ecosystem in Indonesia. The approach used in this research is phenomenology and analyzed by Miles and Huberman interactive model. The data collection method in this research using semi-structured interview with interview guides that have been made by researcher. Respondents in this study consisted of three startup founders whom meet these followed criterias; 1.) Aged 18-24 years old, 2.) Age of startup at least 1 year, 3.) Based in Yogyakarta, 4.) Willing to be interviewed. This reserach found two forms of adversity quotient on startup founders; coping strategies and characters. Coping strategies consists of immediately to solve the problems, have goals and visions, take lessons from problems, and find solutions. While the characters consists of responsible, learn from experience, has strong principles, never give up, and optimistic.
Kata Kunci : Adversity quotient, karakter, startup, strategi coping