Laporkan Masalah

PENGARUH PENGOLAHAN JINGKING LAUT DENGAN FILTRAT ABU SEKAM PADI DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE (Clarias sp.)

ISNA NURLAILY, Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA. ; Dr. Ir. Murwantoko, M.Si

2017 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan

Tepung jingking laut (Ocypode sp.) sebagai salah satu sumber protein hewani dalam pakan ikan memiliki nilai nutrient pembatas berupa serat kasar terdapat dalam kitin. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Penelitian tahap pertama bertujuan untuk mengetahui perlakuan terbaik dalam pengurangan kitin terhadap nilai nutritif dan kecernaan protein in vitro jingking laut. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial, dengan faktor pertama konsentrasi Filtrat Abu Sekam Padi (FASP) 10, 20, 30 persen dan faktor kedua lama perendaman 0, 12, 24, 36 dan 48 jam. Hasil terbaik hidrolisis pertama dilanjutkan dengan pungukusan selama 15, 30, 45 dan 60 menit. Hasil menunjukkan pengurangan kadar kitin paling baik yaitu mencapai 11,21 persen pada dosis perendaman FASP 20 persen selama 24 jam dan diikuti pengukusan selama 30 menit. Kombinasi perlakuan fisio kimia dapat menurunkan kadar kitin tepung jingking laut dan meningkatkan daya cerna protein in vitro dibanding tanpa perlakuan. Penelitian tahap ke dua bertujuan untuk megetahui perngaruh penggunaan tepung jingking laut dalam pakan terhadap pertumbuhan ikan lele (Clarias sp.). Rancangan perlakuan berupa formulasi pakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 3 ulangan terdiri dari kombinasi subtitusi tepung ikan dengan tepung jingking laut sebesar 0, 10, 20 dan 30 persen dalam pakan. Pakan mengandung rata-rata kadar protein kasar 36 persen dengan energi total 2900 kcal per kg. Perlakuan pemeliharaan ikan menggunakan. Ikan dipelihara menggunakan kolam terpal ukuran 6x8x1 meter kubik. Ikan bobot rata-rata 12,79 g ditempatkan dalam waring ukuran 2x1x1 meter kubik dengan kepadatan 100 ekor pada tiap waring. Ikan diberi pakan sampai kenyang ad satiation 3 kali sehari selama 60 hari pemeliharaan. Hasil pemeliharaan ikan menunjukkan ikan yang diberi pakan perlakuan 0 dan 10 persen memiliki nilai lebih tinggi pada nilai kecernaan pakan dan kecernaan protein (P lebih kecil dari pada 0,05) dibanding dengan perlakuan 20 dan 30 persen. Retensi lemak perlakuan 0 dan 10 persen memiliki nilai lebih tinggi (P lebih kecil dari pada 0,05) dibanding perlakuan 20 dan 30 persen, akan tetapi tidak berbeda pada nilai retensi proteinnya (P lebih besar dari pada 0,05). Kelangsungan hidup, laju pertumbuhan, efesiensi pakan tidak menunjukkan perbedaan (P lebih besar dari pada 0,05). Sekresi Total Ammonia Nitrogen (TAN) sebagai parameter kualitas air tidak menunjukan perbedaan (P lebih besar dari pada 0,05). Data pertumbuhan menunjukkan ikan lele yang diberi pakan mengandung 30 persen tepung jingking laut pertumbuhannya tidak menurun. Hal tersebut menunjukkan tepung jingking laut memiliki kualitas sama dengan tepung ikan dan dapat digunakan hingga dosis 30 persen dalam pakan ikan lele.

Utilization of sea crustacean (ocypode sp.) meal as animal base protein source of fish diet was limited due to the high fiber content presented as chitin. The experiment consisted of two step. The aim of first experiment was to find out the best treatment in reducing chitin on nutritive value and in-vitro protein digestibility of sea crustacean meal. Factorial design as Completely Random Design (CRD) with first factor of concentration water filtrate of rice hull solution 10, 20, and 30 percent and second factor of immersion 0, 12, 24, 36,and 48 hours. The best result of the first hydrolysis is followed by steaming process for 15, 30, 45, 60 minutes. The result showed that the highest crude fiber reduction was achieved in the 20 percent immersion concentration for 24 hours followed by steamed 30 minutes, reaching 11.21 percent. The combination of chemical physio treatment can decrease chitin content of sea crustacean and also increases digested protein in vitro compared without treatment. The aim of second experiment was to evaluate catfish (Clarias sp.) growth performance using sea crustacean meal in diets. The experiment feed formulation consisted combination of fish meal replacement with sea crustacean meal 0,10,20 and 30 percent in feed. Diets contained crude protein of 36 percent at gross energy 2900 kcal per kg. Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatment and 3 replicates was used. Fish were kept using plastic terpal ponds 8x6x1 meter cubic. Catfish with average body weight of more less 12.27 g were kept in net size 2x1x1 meter cubic with density 100 fish each net. Fish were fed at satiation for 60 days of culture period. The result showed that fish fed on diet contained 0 and 10 percent fish meal replacement with sea crustacean meal had higher total feed digestibility and protein digestibility (P less than 0.05) than treatment 20 and 30 percent. Fat retention on treatment 0 and 10% had higher value than another treatments 20 and 30% (P less than 0.05), but no different in their protein retention (P more than 0.05). Survival rate, growth rate, feed efficiency showed no different (P more than 0.05). Total secretion of Ammoniac Nitrogen (TAN) as water quality parameter showed no dereference (P more than 0.05). The growth data showed that fish fed with 30 percent sea crustacean meal as fish meal replacement did not decrease the growth performance of catfish. It is indicate that sea crustacean meal has the same quality as fish meal and might be used until 30 percent on catfish feed.

Kata Kunci : jingking laut, hidrolisis, pakan, pertumbuhan, ikan.

  1. S2-2017-357060-abstract.pdf  
  2. S2-2017-357060-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-357060-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-357060-title.pdf