Laporkan Masalah

PEMBERDAYAAN PASIEN OBSTETRI PASCA BEDAH SESAR DALAM PROGRAM KEBERSIHAN TANGAN DI RUMAH SAKIT UMUM WILAYAH KOTA YOGYAKARTA

LIANA WIJAYANTI, Prof. dr. Adi Utarini, MPH.,M.SC.,PhD; dr. Trisasi Lestari,M.Med.Sc

2017 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Keselamatan pasien menjadi prioritas sistem kesehatan di dunia. Salah satu program keselamatan pasien yang banyak menjadi sorotan adalah cuci tangan. Untuk meningkatkan kepatuhan petugas kesehatan dalam program kebersihan tangan dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan melibatkan pasien dan keluarga sebagai observer. Keterlibatan pasien dalam program kebersihan tangan telah terbukti dari berbagai jurnal penelitian meningkatkan angka kepatuhan secara signifikan. Penelitian ini berusaha mengeksplorasi bagaimanakah keterlibatan pasien dalam program kebersihan tangan di rumah sakit umum di wilayah Kota Yogyakarta yang merupakan kota dengan pelayanan kesehatan yang baik dan masyarakat yang menjunjung tinggi budaya. Tujuan: Mengeksplorasi pemberdayaan pasien obstetri pasca bedah sesar dalam program kebersihan tangan di rumah sakit wilayah Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di 5 rumah sakit umum yang telah terakreditasi dengan cara observasi langsung sarana prasarana yang mendukung program kebersihan tangan dan wawancara dengan pasien dan perawat. Informasi kualitatif didapatkan melalui wawancara mendalam 23 pasien dan 10 tenaga kesehatan. Hasil wawancara ditriangulasi dengan hasil observasi. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian dari kelima rumah sakit umum yang diteliti mayoritas tidak menyediakan tisu untuk pasien, tidak ada ajakan atau dorongan dari tenaga kesehatan untuk memberdayakan pasien dalam program kebersihan tangan. Dari 23 pasien yang diwawancarai, 8 orang bisa memperagakan gerakan cuci tangan dengan baik, 11 orang bisa memperagakan lebih dari 4 langkah cuci tangan dan 4 orang tidak bisa memperagakan gerakan cuci tangan. Sembilan orang pasien bersedia diberdayakan jika sudah ada ajakan atau dorongan dari tenaga kesehatan, 10 orang bersedia untuk diberdayakan dan 4 orang tidak bersedia dengan alasan malu, tidak enak, sungkan. Kesimpulan dan saran: Pemberdayaan pasien di rumah sakit di Indonesia berhenti hanya sebatas edukasi, belum ada pin pengingat atau stiker. Masih banyak pasien yang enggan untuk diberdayakan jika tidak ada dorongan atau ajakan dari tenaga kesehatan.

Background: Patient safety is a priority health system in the world. One of the many patient safety programs in the spotlight is hand hygiene. This cost-consuming program is expected to improve the quality of hospital care. To improve the compliance of health workers in hand hygiene programs can be done in many ways, one of which is to involve the patient and family as an observer. The involvement of patients in hand hygiene programs has been proven from various research journals to significantly increase compliance rates. This research seeks to explore how the involvement of patients in hand hygiene programs in public hospitals in the city of Yogyakarta which is a city with good health services and society that uphold the culture. Objective: To explore the empowerment of obstetric patient after caesarean section in hand hygiene program in hospital of Yogyakarta City area. Method: This research was conducted using descriptive qualitative The study was conducted in 5 public hospitals that have been accredited by direct observation of infrastructure facilities that support hand hygiene programs and interviews with patients and nurses. Qualitative information was obtained through in-depth interviews of 23 patients and 10 health workers. The interview result is triangulated with observation result. Results and Discussion: The results of the five public hospitals examined by the majority did not provide tissue for patients, no invitation or encouragement from health workers to empower patients in hand hygiene programs. Of the 23 patients interviewed, 8 were able to demonstrate handwashing movements well, 11 people could demonstrate more than 4 steps of handwashing and 4 people could not demonstrate handwashing movements. Nine patients are willing to be empowered if there is an invitation or encouragement from health personnel, 10 people are willing to be empowered and 4 people are not willing to shame, uncomfortable, hesitate. Conclusions and suggestions: The empowerment of patients in hospitals in Indonesia stops only on education, there are no reminder pins or stickers. There are still many patients who are reluctant to be empowered if there is no encouragement or invitation from health workers.

Kata Kunci : pemberdayaan pasien, kebersihan tangan, cuci tangan, rumah sakit; patient empowerment, hand hygiene, hand washing, hospital

  1. S2-2017-371437-abstract.pdf  
  2. S2-2017-371437-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-371437-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-371437-title.pdf