HUBUNGAN PRAKTIK BUDAYA PIRE PADA IBU HAMIL DENGAN STATUS GIZI IBU DAN JANIN DI KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR
REGINA ONA ADESTA, DR. Susetyowati, DCN., M.Kes.; Widyawati, S.Kp., M.Kes., Ph.D.
2017 | Tesis | S2 KeperawatanLatar Belakang: Kekurangan gizi ibu hamil mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Praktik budaya pire merupakan larangan bagi seseorang mengkonsumsi jenis makanan tertentu atas penilaian budaya. Tujuan : Membandingkan status gizi ibu dan janin pada ibu hamil yang menjalankan dan tidak menjalankan praktik budaya pire. Metode: Penelitian menggunakan metode Kuantitatif, dengan pendekatan cros sectional study. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 07 sampai 30 Juni 2017, di Puskesmas Boganatar, Tanarawa, Mapitara, Lekebai dan Magepanda. Sampel penelitian berjumlah 87 ibu hamil, dipilih secara consecutive sampling. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan Independent sample T test untuk melihat perbedaan status gizi antara ibu hamil yang menjalankan dengan tidak menjalankan praktik budaya pire. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan pada kenaikan berat badan ibu selama kehamilan antara ibu yang menjalankan dengan tidak menjalankan praktik budaya pire, p value 0,0001 (p<0,05). Terdapat perbedaan signifikan pada ukuran Lingkar Lengan Atas antara ibu yang menjalankan dengan tidak menjalankan praktik budaya pire, p value 0,0001 (p<0,05). Terdapat perbedaan signifikan pada kadar hemoglobin antara ibu yang menjalankan dengan tidak menjalankan praktik budaya pire, p value 0,0001 (p<0,05). Terdapat perbedaan signifikan pada tafsiran berat janin antara ibu yang menjalankan dengan tidak menjalankan praktik budaya pire, p value 0,029 (p<0,05). Kesimpulan: Studi menunjukkan terdapat hubungan antara praktik budaya pire dengan status gizi ibu dan janin. Status gizi ibu dan janin lebih baik pada ibu hamil yang tidak menjalankan dibandingkan dengan yang menjalankan praktik budaya pire. Perlu adanya kerja sama antara perawat dengan tokoh masyarakat serta tua-tua adat setempat untuk melakukan Accomodation dan/atau Negotiation serta Repatterning dan/atau Restructuring pada praktik budaya pire.
Background: Nutritional deficiency on pregnancy affects fetals growth and development. Pire culture practice is prohibition for a person to consume certain foods on cultural assessment. Objective: To compare maternal and fetal nutritional status on pregnancy who perform pire culture and who did not. Methods: The study used quantitative methods, with cross sectional approach. Data collection was conducted on June 7th and 30 th 2017, in Boganatar, Tanarawa, Mapitara, Lekebai and Magepanda Primary Health Center. These samples included 87 pregnant women, selected by consecutive sampling. Data processing and analysis was by Independent sample t test to see the difference of nutritional status between pregnant women who perform pire culture with those who did not. Results: There was significant differences in maternal weight gain during pregnancy among the who perform pire and who did not, p value 0.0001 (p <0.05), significant differences in the size of the Upper Arm Circumference between who performed pire and who did not, p value 0.0001 (p <0.05), significant differences in hemoglobin levels between who performed pire and who did not, p value 0.0001 (p <0.05), significant differences in the interpretation of fetal weight among who performed pire and who did not, p value 0.029 (p <0.05). Conclusion: The study shows that pire culture practice in pregnancy affect the nutritional status of both mother and fetus. Maternal and fetal nutritional status was significantly better in pregnant women who did not perform pire culture practice. Need for cooperation between nurses, community and local indigenous elders to do Accomodation and / or negotiation and Repatterning and / or restructuring the cultural practices pire.
Kata Kunci : Praktik Budaya Pire, Status Gizi, Ibu Hamil, Pire tradition practice, nutritional status, pregnant women.