KELOMPOK MINORITAS DAN KONFLIK SOSIAL Studi Tentang Strategi Perlawanan Rausyanfikr Dalam Menghadapi Ancaman Kekerasan di Yogyakarta
SITI NOOR 'AINI, Dr. M. Iqbal Ahnaf
2017 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaSyi'ah dalam sejarah Islam selalu mengalami dinamika yang tidak menyenangkan. Dengan akidah dan pemahaman yang berbeda Syi'ah selalu mendapatkan tentangan dan tekanan. Hal ini juga berlaku dan terjadi di Yogyakarta, di mana kelompok Syi'ah yang ada di Yogyakarta yang direpresentasikan oleh Rausyanfikr mengalami tekanan dari kelompok Penekan. Kelompok penekan ini sendiri adalah mereka yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) dan Front Jihadis Islam (FJI) dan juga beberapa aktor yang konsisten dalam menekan Syi'ah. Hal ini disebabkan karena kelompok penekan menganggap kelompok Syiah yang di wakili Rausyanfikr menyebarkan ajaran sesat yang bertentangan dengan akidah mayoritas Sunni. Dalam menanggapi persoalan tersebut Rausyanfikr memilik strategi agar mereka mempertahankan eksistensi mereka di tengah maraknya tekanan sosial yang muncul. Rausyanfikr membangun gerakan untuk melawan sebagai respon terhadap gerakan kelompok penekan. Bagi Rausyanfikr, isu-isu yang dilontarkan oleh kelompok penekan yang menyatakan Syi'ah sesat, kafir dan bukan bagian dari Islam dengan mendasarkan pada persoalan teologi dan akidah, menurut mereka tuduhan tersebut tidak relevan dengan konteks Rausyanfikr yang memiliki fokus pada pengembangan filsafat dan pemikiran yang tidak ada kaitannya dengan masalah teologi dan akidah. Strategi Rausyanfikr dalam melawan tekanan sosial yang muncul dari kelompok penekan memiliki beberapa strategi. Memperkuat kajiannya untuk melawan dari kelompok penekan. Mereka mengembangkan dan mempopulerkan kajian filosofis, Islam Fitrah, dan kajian kenegaran sebagai alternatif dari pandangan teologi dan akidah yang dikembangkan kelompok penekan. Rausyanfikr berusaha untuk selalu mempertahankan eksistensinya di masyarakat sehingga mereka menyebarluaskan berbagai kajian terkait dengan gerakan mereka. Di samping itu, Rausyan mengembangkan aktivitas yang dapat mendukung gerakan mereka seperti membangun gerakan intelektual yang berfokus pada wilayah kelimuandan filsafat dan melakukan pembauran dengan masyarakat sekitarnya sebagai bentuk partisipasi sosial kemasyarakatan dalam rangka untuk menghindari pengucilan dari masyarakat.
Shi'ism in Islamic history has always experienced unpleasant dynamics. With different creeds and understandings Shi'a always gets opposition and pressure. This is also true and happened in Yogyakarta, where the Shi'i group in Yogyakarta represented by Rausyanfikr under pressure from the pressure group. The pressure groups themselves are those who are members of the Islamic Ummah (FUI) Forum and the Islamic Jihadist Front (FJI) as well as some actors who are consistent in suppressing Shi'ism. This is because the pressure group considers the Shiite group represented by Rausyanfikr spreading heresy as opposed to the Sunni majority faith. In response to the problem, Rausyanfikr has a strategy to maintain their existence in the midst of the emerging social pressures. Rausyanfikr builds a counter-movement in response to the movements of pressure groups. For Rausyanfikr, the issues raised by pressure groups that declare Shi'ite misguided, unbelievers and not part of Islam by basing on theological and aqeedah issues, they argue are irrelevant to the context of Rausyanfikr which focuses on the development of philosophy and thought has nothing to do with theology and aqeedah. Rausyanfikr's strategy of resisting social pressure arising from pressure groups has several strategies. Strengthen his studies to fight off pressure groups. They developed and popularized philosophical studies, Islamic Fitrah, and kemanian studies as an alternative to the theological and aqeedah views developed by pressure groups. Rausyanfikr strives to always maintain its existence in society so that they disseminate various studies related to their movements. In addition, Rausyanfikr develops activities that can support their movements such as building intellectual movements that focus on your maritime territory and philosophy and mixing with the surrounding community as a form of social participation in order to avoid exclusion from society.
Kata Kunci : Kelompok Minoritas, Kelompok Penekan, Ancaman Kekerasan