DIAGNOSIS BABESIOSIS PADA ANJING SECARA MIKROSKOPIS, MOLEKULER, GAMBARAN KLINIS, HEMATOLOGI DAN FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIANNYA DI YOGYAKARTA
ISMUDIYANTO, Prof. Dr. drh. Ida Tjahajati, M.P ; Dr. drh. Dwi Priyowidodo, M.P
2017 | Tesis | S2 Sain VeterinerBabesiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit darah Babesia sp. dan telah menyebar keseluruh dunia terutama di Negara tropis dan subtropis. Babesiosis dapat ditularkan melalui gigitan caplak, donor darah, transplasenta dan kontak antar luka. Gejala klinis tidak terlihat nyata karena infeksi dapat berlangsung secara subklinis. Gambaran darah dapat mengalami perubahan seiring adanya infeksi parasit ini. Faktor yang ikut berperan terhadap infeksi parasit ini antara lain umur, jenis kelamin dan ras anjing. Penelitian ini bertujuan mendeteksi Babesia sp. pada anjing secara mikroskopis dan molekuler, mengetahui gejala klinis dan gambaran hematologi anjing yang terinfeksi Babesia sp., dan mengetahui faktor yang mempengaruhi kejadian babesiosis anjing di Yogyakarta. Koleksi sampel berupa darah anjing dari Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi, Klinik Hewan, Puskeswan, Dokter Hewan Praktek Mandiri serta pemilik anjing di Yogyakarta berdasarkan riwayat adanya infestasi caplak dan gejala klinis. Data identitas anjing dan manajemen pemeliharaan diperoleh dari kartu rekam medis atau ambulatoir. Sampel yang diambil berjumlah 134 sampel darah anjing. Metode yang digunakan untuk deteksi Babesia sp. secara mikroskopis dengan preparat ulas darah tipis. Metode molekuler dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer genus spesifik 18S ribosomal RNA (18S rRNA) dengan sequence forward (5-GCTACCACATCTAA GGAAG-3) dan sequence reverse (5-CTAAGAATTTCACCTCT GACAG-3). Pemeriksaan hematologi dilakukan dengan vet hematology analyzer Mindray BC-2800 Vet. Hasil penelitian menunjukan 51 sampel positif terinfeksi Babesia sp. atau 38,06 % (51/134). Gejala klinis yang tampak adanya kelemahan, lesu, nafsu makan turun, terlihat membran mukosa pucat dan adanya infestasi caplak. Hasil rata-rata pemeriksaan hematologi anjing yang positif terinfeksi Babesia sp. yaitu kadar hemoglobin 10,91 kurang lebih 4,09 (gr/dl), PCV 34,24 kurang lebih 11,95(%), eritrosit 5,11 kurang lebih 1,82(x106/mikroliter), trombosit 158,79 kurang lebih 151,59 (x103/mikroliter), total leukosit 16,19 kurang lebih 11,91 (x103/mikroliter), MCV 67,60 kurang lebih 7,94 (fl), MCH 21,26 kurang lebih 1,68 (pg), MCHC 31,63 kurang lebih 2,47 (%). Gambaran hematologi anjing yang terinfeksi Babesia sp. mengalami anemia dan trombositopenia. Faktor umur,ras, pengobatan ektoparasit, adanya kandang anjing tersendiri dan adanya anjing lain disekitar kandang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kejadian babesiosis pada anjing di Yogyakarta.
Babesiosis is a disease caused by blood parasites Babesia sp. and had spread throughout the world, especially in tropical and subtropical countries. Babesiosis can be transmitted through the bite of tick, blood transfusion, transplacenta and contact between the wounds. Clinical symptoms do not look real because the infection can take place subclinically. Blood condition may change as parasitic infections develop. Factors that contribute to this parasitic infection include such as age, sex and dog breed. This study aims to detect Babesia sp. in dogs microscopically and molecularly, to know the clinical symptoms and haematological features of infected dogs Babesia sp., and to know the factors that influence the occurrence of dog babesiosis in Yogyakarta. Collection of samples of dog blood from Animal Hospital Prof. Soeparwi, Animal Clinic, Puskeswan, Veterinary Practice and dog owners in Yogyakarta based on history of ticks infestation and clinical symptoms. Dog identity data and maintenance management are obtained from medical record cards or ambulatoires. The samples taken amounted to 134 blood samples of dogs. The method used for detection of Babesia sp. microscopically with thin blood smear preparations. The molecular method with Polymerase Chain Reaction (PCR) uses a specific primer genus 18S ribosomal RNA (18S rRNA) with forward sequence (5-GGCTACCACATACAAGGAAG-3) and reverse sequence (5-CTAAGAATTTCACCTCTGACAG-3). Hematologic examination was performed with a vet hematology analyzer Mindray BC-2800 Vet. The results showed 51 positive samples infected Babesia sp. or 38.06% (51/134). Clinical symptoms that appear to be weakness, lethargy, decreased appetite, visible pale mucous membranes and the presence of a tick infestation. The average result of positive dog hematology examination infected Babesia sp. that is hemoglobin levels of 10.91 more or less 4.09 (gr/dl), PCV 34.24 more or less 11.95 (%), erythrocytes 5.11 more or less 1.82 (x106 / microliter), platelets 158.79 more or less 151.59 (x103 / microliter), total leukocyte 16,19 more or less 11,91 (x103 / microliter), MCV 67,60 more or less 7,94 (fl), MCH 21,26 more or less 1,68 (pg), MCHC 31,63 more or less 2,47 (%). Haematological of infected dogs Babesia sp. have anemia and thrombocytopenia. Factors such as age, breed, ectoparasit treatment, the presence of a separate dog cage and the presence of other dogs around the cage have a significant effect on the occurrence of babesiosis in dogs in Yogyakarta.
Kata Kunci : Anjing, Babesia sp, hematologi, mikroskopis, molekuler, Yogyakarta