FORMULASI SEDIAAN ORAL FAST DISINTEGRATING TABLET (FDT) EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb.) (Kajian terhadap Proses Ekstraksi, Penetapan Aktivitas Antiagregasi Platelet dan Optimasi Formula Sediaan FDT)
AGATHA BUDI SUSIANA , Prof. Dr. Achmad Fudholi, DEA., Apt.; Prof. Dr. Akhmad Kharis Nugroho, M.Si., Apt.; Dr. Erna Prawita Setyowati, M.Si., Apt.
2017 | Disertasi | S3 Ilmu FarmasiDi Indonesia, penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu penyakit dengan angka kematian yang cukup tinggi. Berbagai jenis obat kardiovaskuler, salah satunya adalah antiagregasi platelet, banyak digunakan untuk terapi pencegahan dan menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler. Seiring dengan kecenderungan penggunaan obat dari bahan alam, dilakukan eksplorasi untuk mencari dan mengembangkan bahan alam yang memiliki aktivitas antiagregasi platelet, di antaranya adalah pegagan atau kaki kuda (Centella asiatica (L.) Urb.). Ekstrak herba pegagan sudah dibuktikan memiliki aktivitas antioksidan, yang dapat menghambat terjadinya proses oksidasi karena adanya radikal bebas. Adanya aktivitas antioksidan ini memungkinkan herba pegagan untuk dimanfaatkankan dalam mencegah agregasi platelet yang dapat mengarah ke stroke atau penyakit jantung. Sebagai upaya untuk meningkatkan penggunaannya, ekstrak herba pegagan dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan fast disintegrating tablet (FDT), yaitu sediaan tablet dengan keunggulan disintegrasi yang cepat di dalam rongga mulut tanpa bantuan air. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menghasilkan suatu formula sediaan FDT dengan bahan aktif ekstrak herba pegagan dengan khasiat sebagai antiagregasi platelet. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kegiatan penelitian dibagi menjadi 3 tahap, yaitu proses ekstraksi herba pegagan, penetapan aktivitas antiagregasi platelet ekstrak herba pegagan, dan optimasi formula sediaan FDT ekstrak herba pegagan. Dalam tahap ekstraksi, serbuk herba pegagan dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan, kelompok pertama yaitu serbuk herba pegagan yang melalui tahap penyederhanaan komponen kimia dengan n-heksana (EPH), dan kelompok kedua yaitu serbuk herba pegagan tanpa melalui tahap penyederhanaan komponen kimia dengan n-heksana (ETPH). Kedua kelompok serbuk tersebut kemudian dimaserasi menggunakan pelarut campuran etanol-air dalam beberapa perbandingan, yaitu 100%:0%, 75%:25%, 50%:50%, 25%:75% dan 0%:100%. Parameter yang digunakan untuk menyatakan kualitas ekstrak herba pegagan yang dihasilkan adalah kadar asiatikosida sebagai marker constituent, kadar polifenol total dan kemampuan penangkapan radikal bebas. Dalam tahap kedua, dilakukan uji agregasi platelet terhadap ekstrak herba pegagan menggunakan metode turbidimetrik menurut Born, yang didasarkan pada LTA (light transmission aggregometry). Uji turbidimetrik ini dilakukan untuk menetapkan kemampuan ekstrak herba pegagan dalam menghambat terjadinya agregasi platelet, menggunakan darah tikus putih jantan galur Sprague-Dawley (SD). Parameter yang digunakan adalah persen (%) inhibisi atau penghambatan agregasi platelet. Dalam tahap optimasi formula, ekstrak herba pegagan diformulasikan menjadi sediaan FDT dengan teknik kempa langsung (direct compress) menggunakan metode optimasi simplex lattice design, dan variabel yang dioptimasi adalah mannitol sebagai bahan pengisi, crospovidone sebagai bahan penghancur dan povidone sebagai bahan pengikat. Parameter sifat fisik yang digunakan untuk menyatakan formula sediaan FDT yang optimum adalah kekerasan tablet, kerapuhan tablet, dan waktu hancur tablet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap ekstraksi, adanya tahap penyederhanaan komponen kimia dengan n-heksana terhadap serbuk herba pegagan tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar asiatikosida, namun dapat mempengaruhi parameter kadar polifenol total ketika serbuk herba pegagan tersebut diekstraksi menggunakan pelarut campuran etanol-air dengan perbandingan 75%:25%, 50%:50%, dan 25%:75%. Adanya tahap penyederhanaan komponen kimia ini juga mempengaruhi kemampuan penangkapan radikal bebas ketika serbuk herba pegagan tersebut diekstraksi menggunakan pelarut campuran etanol-air dengan perbandingan 100%:0%, dan 0%:100%. Secara umum, terdapat tren yang sama, bahwa ekstrak herba pegagan yang dihasilkan dari proses maserasi menggunakan pelarut campuran etanol-air dengan perbandingan 75%:25% dapat menghasilkan ekstrak herba pegagan dengan kadar asiatikosida, kadar polifenol total, dan kemampuan penangkapan radikal bebas yang paling tinggi. Pada tahap penetapan aktivitas, ekstrak herba pegagan hasil maserasi menggunakan pelarut campuran etanol-air dengan perbandingan 75%:25% sudah dibuktikan memiliki kandungan flavonoid, dan memiliki aktivitas penghambatan (inhibisi) agregasi platelet yang sama pada konsentrasi 200, 400, 800 dan 1600 mikrogram per mililiter. Secara statistik, aktivitas antiagregasi platelet ekstrak herba pegagan pada konsentrasi tersebut sama dengan aktivitas antiagregasi platelet yang dihasilkan oleh ekstrak ginkgo biloba pada konsentrasi 50, 100, 200, 400 dan 800 mikrogram/mL dan asetosal 1 mM. Pada tahap optimasi formula sediaan FDT, ditemukan area komposisi yang optimum antar eksipien yang dioptimasi, yaitu mannitol sebagai bahan pengisi, crospovidone sebagai bahan penghancur dan povidone sebagai bahan pengikat, yang dapat menghasilkan sediaan FDT yang memenuhi persyaratan kualitas ditinjau dari parameter sifat fisik tablet meliputi kekerasan tablet, kerapuhan tablet, dan waktu hancur tablet. Kadar asiatikosida dalam sediaan FDT ekstrak herba pegagan dapat ditetapkan menggunakan metode KLT densitometri.
The antioxidant activity of Centella asiatica (L.) Urb. extract has been proven, and some studies reports that it can be used to prevent many degenerative diseases. The aim of this study was to determine the prototype formula of fast disintegrating tablet (FDT) of Centella asiatica (L.) Urb extract, and to achieve the aim, this study was divided into 3 stages, the first was the Centella asiatica (L.) Urb extraction process, the second was the measuremet of antiplatelet activity of Centella asiatica (L.) Urb extract and the third was the formula optimation of Centella asiatica (L.) Urb extract in FDT dosage form. In extraction process, Centella asiatica (L.) Urb powder was divided into 2 groups, the first was treatment with n-hexane purificated, and the second was not. After that, the Centella asiatica (L.) Urb powder was extracted with ethanol-water as solvents in different proportion. Parameter that was used to assess the quality of the extract were asiaticoside content, total phenolic content and radical scavenging activity. Antiplatelet activity of Centella asiatica (L.) Urb extract was evaluated using turbidimetry method. Ginkgo biloba extract and acetosal were used as positive control. In formula optimation, the Centella asiatica (L.) Urb extract has been formulated in fast disintegrating tablet using simplex lattice design, and the excipients that were optimised such as mannitol as a diluent, crospovidone as a superdisintegrant, and povidone as a binder. The asiaticoside content in the FDT was measured using TLC densitometry method. The result showed that n-hexane treatment before the ethanol-water extraction process could affect the quality of the Centella asiatica (L.) Urb. extract. The combination of 75% ethanol and 25% water can produce the Centella asiatica (L.) Urb extract that fulfill the requirement, which are asiaticoside content, total phenolic content and radical scavenging activity. Gotu kola extract have the antiplatelet activity in concentration of 200, 400, 800 and 1600 microgram/mL. The optimum composition between excipients in fast disintegrating tablet formula could be reached. In the assay, asiaticoside peak could separated well, and the resolution and the linierity of the method were fulfilled the requirement.
Kata Kunci : ekstrak herba pegagan, aktivitas antiagregasi platelet, formula optimum, sediaan FDT