Laporkan Masalah

KONSEP SAFE CITY BERDASARKAN PERSEPSI IBU DI KOTA PALU

RAHMAH, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D. ; 3. Widyasari Her Nugrahandika, S.T., M.Sc.

2017 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan Daerah

Sekitar 70 persen populasi dunia pada tahun 2030 akan tinggal di wilayah perkotaan. Peningkatan jumlah penduduk yang menempati kota telah membuka wacana penting dalam pemenuhan kebutuhan akan rasa aman di kota. Padatnya penduduk yang tidak selalu diimbangi dengan perencanaan kota yang selaras dengan kebutuhan penduduk kota dapat menyebabkan ketidakharmonisan antara manusia (penduduk kota) dan lingkungannya. Salah satu yang sedang menjadi fokus utama adalah meningkatnya kriminalitas di perkotaan sedangkan kebutuhan akan rasa aman di kota merupakan hal yang butuh untuk dipenuhi agar mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif induktif eksploratif melalui observasi, survei, dan wawancara dalam mengeksplorasi mengenai konsep safe city di Kota Palu. Dalam penelitian kualitatif ini, terdapat dua bentuk data yaitu, data primer dan data sekunder. Analisis yang digunakan adalah analisis interaktif yang terbagi dalam tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi ibu terhadap aman (rasa aman) lebih diasosiasikan dengan tidak adanya kriminalitas dan tidak adanya ketakutan terhadap tindak kriminal itu sendiri. Beberapa kawasan yang diwaspadai dan rawan menurut para ibu merupakan kawasan yang ternyata mayoritas penggunaannya homogen atau memiliki fungsi yang hampir seragam seperti kawasan perkantoran, perdagangan, pendidikan, pemukiman dan wisata. Penelitian ini mengidentifikasi aspek kota aman yaitu aspek ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan fisik. Konseptualisasi yang disarikan dari hasil penelitian yaitu Kataba, Sintuvu, Nilinggu Mpo Taboyo, dan Mompajoko Belo.

About 70 percent of the world's population by 2030 will live in urban areas. The increasing number of residents who occupy the city has opened an important discourse in fulfillment the requirement for security in the city. The density of the population that is not always balanced with city planning in harmony with the needs of the urban population can lead to disharmony between humans (city dwellers) and the environment. One of the main concerns is the rising crime in urban areas while the need for security in the city is something that needs to be met in order to support sustainable development. This research uses qualitative inductive explorative approach through observation, survey, and interview in exploring the concept of safe city in Palu City. In this qualitative research, there are two forms of data namely, primary data and secondary data. The analysis used is interactive analysis which is divided into three activity flow that happened simultaneously, that is data reduction, data presentation, and conclusion. In this study shows that the mother's perception of the safe (security) is more associated with the absence of crime and the absence of fear of the crime itself. Some areas that are wary and vulnerable according to the mother is the area that turns out the majority of its use is homogeneous or has almost uniform functions such as office area, trade, education, settlement and tourism. This study identifies aspects of safe city that are economic, social, cultural, technological, and physical aspects. The conceptualization extracted from the research result is Kataba, Sintuvu, Nilinggu Mpo Taboyo, and Mompajoko Belo.

Kata Kunci : safe city, kriminalitas, persepsi

  1. S2-2017-376783-abstract.pdf  
  2. S2-2017-376783-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-376783-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-376783-title.pdf