PENINGKATAN KINERJA DRAINASE UNTUK PENANGANAN BANJIR MENGGUNAKAN SUMUR RESAPAN (STUDI KASUS KELURAHAN TEMINDUNG PERMAI KOTA SAMARINDA)
EZRA H. PONGTULURAN, Dr. Ir. Rachmad Jayadi, M.Eng. ; Prof. Dr. Ir. Sunjoto, Dip.HE, DEA.
2017 | Tesis | S2 Teknik SipilSamarinda merupakan kota yang tengah berkembang pesat namun masih sering mengalami masalah banjir termasuk pada kawasan Kelurahan Temindung Permai. Salah satu penyebab terjadinya banjir adalah dampak dari perubahan tata guna lahan, apabila terjadi hujan dengan intensitas besar maka saluran drainase akan meluap memenuhi ruas jalan di beberapa bagian kota. Oleh sebab itu, penanganan efektif akibat padatnya pemukiman yang ada yaitu melalui konservasi air menggunakan metode sumur resapan pada setiap bangunan. Tahap analisis diawali menghitung perubahan tata guna lahan selama 10 tahun (2006-2015) pada kawasan penelitian menggunakan program ArcGIS 10.2 dan menentukan beberapa tipe bangunan dominan yang terdapat pada kawasan tersebut. Tahap analisis selanjutnya adalah menghitung kedalaman efektif sumur resapan pada setiap tipe bangunan dengan analisis intensitas hujan menggunakan metode intensitas-durasi-frekuensi (IDF) Mononobe dan pola distribusi alternating block method (ABM). Penggunaan sumur resapan pada setiap bangunan permukiman dan perkantoran akan merubah besar debit limpasan yang akan masuk pada saluran drainase dikarenakan aliran dari atap bangunan tersebut akan masuk pada sumur resapan sehingga berpengaruh terhadap kapasitas tampungan drainase yang telah ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 10 tahun luas permukiman telah meningkat dengan persentase sebesar 2,38% sedangkan daerah vegetasi menurun sebesar 4,17%. Dimensi sumur resapan pada tipe rumah kecil menggunakan intensitas hujan metode IDF Mononobe memerlukan kedalaman efektif sebesar 1,06 meter, sedangkan metode ABM memerlukan kedalaman efektif sebesar 1,97 meter. Perubahan debit puncak limpasan permukaan akibat adanya sumur resapan pada kawasan cukup signifikan, penurunan dapat mencapai 70,67%. Penurunan debit limpasan permukaan mempengaruhi kapasitas suatu saluran drainase dimana dimensi saluran drainase yang sudah ada masih mampu menampung aliran debit yang akan masuk.
Samarinda is a thriving city but still has some flooding problems including the region of Temindung Permai Sub-district. One of the major causes of flooding is land use change, in when high intensity of rain occurs, drainage canal will overflow in some parts of the city. Due to the density of existing settlements, therefore the most effective soluiton is through water conservation using recharge wells method for each building. Analysis phase begins from calculation of the alteration of land use for 10 years (2006-2015) using the program ArcGis 10.2 and deterimining the dominant building type in that region. The next analysis phase is calculating the effective depth of recharge wells on each building type using intensity-duration-frequency (IDF) Mononobe method of rainfall and alternating block method (ABM) of rainfall distribution. The use of recharge wells on each settlement and office building will change the amount of rain water going into the drainage system because a certain amount of rain water will flow into the recharge wells. The results show that in 10 years the number of settlement areas has increased by 2,38%, while vegetation area decreased by 4,17%. The use of recharge wells in small houses using the IDF Mononobe method, requires an effective depth equal to 1,06 meter, while using ABM method requires an effective depth equal to 1,97 meter. The changes of maximum surface runoff discharge due to the recharge wells in the area are quite significant with a reduction can reach 70,67%. The decrease of surface runoff discharge will affect capacity of drainage canal where the dimension of the existing canals can still able to accommodate the discharge.
Kata Kunci : Tata guna lahan, IDF, ABM, sumur resapan, kapasitas drainase.