Laporkan Masalah

MODEL PENGEMBANGAN KEHUTANAN MASYARAKAT BERKELANJUTAN BERBASIS DAERAH ALIRAN SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BABAK, PULAU LOMBOK

RYKE NANDINI, Dr. Ir. Ambar Kusumandari, M.ES.; Prof. Dr. Totok Gunawan, M.S.; Dr. Ir. Ronggo Sadono

2017 | Disertasi | S3 Ilmu Kehutanan

Pengembangan kegiatan kehutanan masyarakat pada lingkup daerah aliran sungai (DAS) merupakan salah satu upaya untuk mengatasi lahan kritis yang mengganggu keberlanjutan fungsi DAS sebagaimana DAS Babak, salah satu DAS strategis di Pulau Lombok. Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui kondisi kualitas lingkungan (biofisik, sosial dan ekonomi) di DAS Babak; (2) mengetahui perubahan kualitas lingkungan (biofisik, sosial dan ekonomi) pada HKm dan Hutan Rakyat di DAS Babak dalam kurun 2007-2015; (3) mengevaluasi status keberlanjutan kegiatan kehutanan masyarakat (HKm dan Hutan Rakyat); (4) menentukan luas optimal kawasan kegiatan kehutanan masyarakat (HKm dan Hutan Rakyat) yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan (biofisik, sosial dan ekonomi) dan indeks keberlanjutan kegiatan kehutanan masyarakat (HKm dan Hutan Rakyat); serta (5) menyusun model pengembangan kehutanan masyarakat (HKm dan Hutan Rakyat) berkelanjutan yang mendukung pengelolaan DAS Babak. Analisis yang digunakan berupa: (1) model hidrologi Soil and water analysis tool (SWAT) untuk kondisi biofisik, (2) deskriptif kualitatif untuk kondisi sosial ekonomi, (3) pendekatan multidimensi (MDS) dengan Rapfish untuk menilai keberlanjutan HKm dan Hutan Rakyat, serta (4) program linier untuk menentukan luas lahan optimal bagi HKm dan Hutan Rakyat. Kualitas lingkungan di DAS Babak pada kondisi cukup baik kecuali nilai KRS dan kesuburan tanah. Keberadaan kehutanan masyarakat mampu memperbaiki kualitas biofisik, ekonomi dan sosial masyarakat. HKm berada pada status cukup berkelanjutan (nilai indeks 54,08%), sedangkan Hutan Rakyat kurang berkelanjutan (nilai indeks 48,53%). Luas lahan optimal untuk HKm adalah 0,5 ha/petani dengan pola kombinasi MPTS dan HHBK, sedangkan pada Hutan Rakyat adalah 1,73 ha/petani dengan pola penanaman satu jenis kayu. Model HKm berkelanjutan disusun dengan perbaikan penutupan lahan, tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan, kegiatan kelompok tani dan teknik pemanenan. Model Hutan Rakyat berkelanjutan disusun dengan perbaikan konservasi tanah dan air, tingkat kemiskinan, persepsi masyarakat, pengambilan keputusan, serta pemeliharaan tanaman.

Watershed based of community forestry development is one effort to reduce critical land which is ruin the sustainability of watershed performance as in Babak watershed, one of strategic watershed in Lombok Island. This research aim were to: (1) study the environmental quality in Babak watershed; (2) study the change of environmental quality in community forestry area in 2007-2015; (3) evaluate the community forestry sustainability status; (4) determine the optimal area of community forestry which can increase the environmental quality and sustainability index of community forestry; and (5) arrange the community forestry development model which is support of Babak watershed management. The analysis that were used: (1) Soil and water analysis tool (SWAT) modeling hydrology for biophysics, (2) descriptive qualitative for social and economic, (3) multidimensional scaling with Rapfish approach to determine the sustainability of community forest (HKm) and private forest (HR), and (4) linear programming to determine the optimal area of HKm and HR. This research resulted that the environmental quality of Babak watershed was on moderate condition except of river regime coefficient and soil fertility. The community forestry was affordable to improve the environmental quality. The HKm was on moderate sustainable, while HR was on less sustainable. The optimal area of HKm was 0.5 ha/farmer with the MPTS and HHBK pattern, while HR was 1.73 ha/farmer with the planting of one type of wooden plant. The sustainable of HKm model can developed by improving of land cover, poverty level, education level, farmer groups activities, and harvesting technique; while in HR by improving the soil and water conservation, poverty level, farmers perception, decision-making, and also plant maintenance.

Kata Kunci : Kehutanan masyarakat, hutan kemasyarakatan (HKm), hutan rakyat, SWAT, pendekatan multidimensi, Rapfish / community forestry, community forest, private forest, SWAT, multidimensional scaling, Rapfish