Evaluasi Kerentanan Bangunan Rumah Masyarakat Terhadap Gempabumi di Desa Wisata Bugisan Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten
INTAN PUTRA PERDANA, Prof. Ir. Iman Satyarno, M.E., Ph.D.; Ashar Saputra S.T, M.T.,Ph.D.
2017 | Tesis | S2 TEKNIK PENGELOLAAN BENCANA ALAMGempabumi yang terjadi pada 27 Mei 2006 di Provinsi Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah mengakibatkan korban meninggal di Kabupaten Klaten sebanyak 1154 jiwa termasuk 212 jiwa terdapat di Kecamatan Prambanan. Sebagian besar korban gempa bumi diakibatkan karena tertimpa reruntuhan bangunan rumah. Salah satu desa di Kecamatan Prambanan yang berada di kawasan rawan bencana adalah Desa Bugisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kerentanan bangunan rumah masyarakat yang roboh, rusak berat, dan rusak ringan terhadap gempa bumi, yang dibangun kembali atau diperbaiki secara swadaya pasca gempa bumi tahun 2006 di Desa Wisata Bugisan. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data kondisi bangunan rumah masyarakat di Desa Wisata Bugisan. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui pemeriksaan secara cepat (Rapid Visual Screening), wawancara, dan studi dokumentasi. Pemeriksaan secara cepat dilakukan secara proporsional kepada 9 padukuhan di Desa Bugisan dengan sample 454 bangunan rumah masyarakat. Hasil evaluasi kerentanan bangunan rumah masyarakat di Desa Bugisan menunjukan kondisi bangunan rumah secara umum memiliki tingkat kerentanan sedang yang dapat dilihat dari hasil evaluasi kerentanan untuk tingkat kerentanan sedang (skor 33,4-66,3%) yaitu sebanyak 63% atau 287 rumah. Untuk hasil evaluasi kerentanan yang menunjukkan tingkat kerentanan tinggi (skor 0-33,3%) sebanyak 35 % atau 159 rumah dan tingkat kerentanan rendah atau paling aman (skor 66,4-100%) sebanyak 2% atau 9 rumah. Berdasarkan identifikasi kinerja bangunan baru, terdapat 24 rumah roboh pada gempa bumi tahun 2006 di Padukuhan Dengok Kulon yang mengalami kerusakan roboh dan tetap memiliki kerentanan bangunan paling tinggi sehingga diperlukan adanya pendampingan dari pemerintah dalam pembangunan kembali rumah masyarakat pasca gempa bumi. Faktor yang dapat menentukan tingkat kerusakan berat dan ringan pada bangunan rumah adalah perbedaan jenis kontruksi yang digunakan. Sebagian besar bangunan rumah tradisional dengan struktur kayu tidak mengalami roboh meskipun memiliki skor kerentanan rendah. Oleh karena itu, bangunan jenis ini sebaiknya tetap dipertahankan bentuk aslinya sekaligus untuk mendukung Desa Bugisan sebagai desa wisata.
Earthquake that happened on May 27, 2006 in Yogyakarta Province and Central Java Province effected 1154 people died in Klaten Regency, including 212 people died in Prambanan District. Almost earthquake victims were caused by stricken building collapse. One of the villages in Prambanan District where located in disaster prone areas is Bugisan Village. The purpose of this research is to evaluate building vulnerability of community houses which were collapsed, severe damaged, and slight damaged that rebuilding or repairing houses through people initiative (nongovernment) post 2006 earthquake in Bugisan Tourism Village. This research is conducted by qualitative descriptive method based on data of community house buildings condition in Bugisan Tourism Village. Collecting data method was conducted by observing building through rapid visual screening (RVS), interview, and study documentation. Rapid visual screening (RVS), has been done proportionally to 9 districts (padukuhan) in Bugisan Village with 454 houses as a sample. The result of the research shows the community houses condition in Bugisan Tourism Village that has medium vulnerability level, using the result of vulnerability evaluation at medium vulnerability level (score 33,4-66,3%) for 63% or 287 houses, high vulnerability level (score 0-33,3%) for 35% or 159 houses, and low vulnerability level (score 66,4-100%) for 2% or 9 houses. Based on new building performance indicator, there are 24 houses in Padukuhan Dengok Kulon that being collapsed during the earthquake in 2006 and having the highest vulnerability so that required assistance from the government in rebuilding homes after earthquake. Factor that determine high and low damage to the house buildings is the differences in the type of construction used. Almost traditional houses with wooden structure have not experienced total collapse although they had low vulnerability level. Hence, this building type should be kept at the original form and also to support Bugisan Village as tourism village.
Kata Kunci : evaluasi, gempa bumi, kerentanan, bangunan, rumah, desa wisata /building, earthquake, evaluation, house, tourism, village, vulnerability