Laporkan Masalah

Pembacaan Dekonstruktif Terhadap Memoar Filep Karma Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua

NASABUDDIN NOHO, Dr. Sugeng Bayu Wahyono

2017 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Memoar Filep Karma yang berjudul Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua adalah sebuah teks yang cukup menarik untuk dikaji dalam ranah cultural studies khususnya dengan menggunakan pendekatan tekstual. Kajian ini menjadikan pembacaan dekonstruktif sebagai cara membaca teks yang tidak biasa. Dengan menggunakan kerangka teori dekonstruksi dari Derrida serta meminjam konsep doxa, orthodoxy dan heterodoxy dari Bourdieu, kajian ini mendapati bahwa kata kitorang yang juga tertera pada judul besar memoar tersebut memiliki makna yang polisemi, selain merujuk sebagai kata ganti orang (pronomina persona), juga merupakan ruang permainan bahasa dan ruang pergulatan identitas. Doxa orang Papua yang harus hitam dan berambut keriting yang selama ini berusaha distabilkan dan diteguhkan oleh orthodoxy, pada akhirnya diruntuhkan oleh heterodoxy bahwa orang Papua tidak harus yang hitam dan berambut keriting. Persoalan logika biner juga tidak luput dari kajian ini yang mana ditemukan bahwa oposisi-oposisi biner tersebut oleh Filep Karma diperlakukan tidak sampai pada tahap displacement, melainkan hanya berhenti pada tahap pembalikan (reversal). Temuan lainnya yang sangat mengejutkan ialah terkait fenomena deitalikisasi, yakni hadirnya kata kitorang (tanpa cetak miring) yang merupakan momen bermakna. Dari keseluruhan hasil kajian ini, dapat disimpulkan bahwa kitorang selain sebagai alter ego dari orang Papua dan Filep Karma, kitorang juga adalah differance. Kata kunci : Derrida, dekonstruksi, differance, Papua, Filep Karma

A memoir entitled Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua written by Filep Karma is truly fascinating to be studied in the area of Cultural Studies, especially by using textual approach. This study generate deconstructive reading as a way of unusual text reading. This study also conduct theoretical frameworks of deconstruction by Derrida and Bourdieu concepts about doxa, orthodoxy and heterodoxy. This study found that, the word kitorang which is also appear in the memoir title have polysemic meaning. In addition as pronoun, it is also a languange game and identity wrestling. Papuans doxa that orthodoxy has been tried to stabilized as must be black and curly hair that, then untilamtely undermined by heterodoxy that, Papuans do not have to be black and curly hair. Binary logic issue is also does not escape from this study which it found that binary opposition appears in the text by Filep Karma does not reach at the stage of displacement, but it was stopped at the reversal phase. Another things that is the most suprising part of findings related to the deitalicization, namely the presence of the word kitorang (without italic as visual distinction in character of typhography/linguistic) which is it may resisting the logic of difference in Linguistics system. Then, the result of this study, it could be concluded that kitorang beside as an alter ego of Papuans and Filep Karma, it also Differance. Keywords : Derrida, deconstruction, differance, Papua, Filep Karma

Kata Kunci : Derrida, dekonstruksi, differance, Papua, Filep Karma

  1. S2-2017-389641-abstract.pdf  
  2. S2-2017-389641-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-389641-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-389641-title.pdf