EFEK TRANSPORTASI MENGGUNAKAN KAPAL TERNAK SELAMA 108 JAM TERHADAP GAMBARAN HORMON KORTISOL DAN TIROID PADA SAPI BALI JANTAN
SRI WIDAYATI, Dr. drh. Irkham Widiyono; Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, M.P.
2017 | Tesis | S2 Sain VeterinerTransportasi ternak merupakan salah satu upaya distribusi ternak dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging dan peningkatan populasi ternak. Beberapa faktor transportasi dapat menyebabkan stres seperti bongkar muat, kepadatan, suhu ekstrim, gelombang, kekurangan pakan dan minum, lama perjalanan dan fasilitas alat angkut yang tidak memenuhi kesejahteraan hewan. Stres dapat berpengaruh pada metabolime ternak dan mengakibatkan penurunan bobot badan yang berakibat kerugian ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh efek transportasi menggunakan kapal khusus ternak terhadap profil kortisol sebagai indikator stres dan hormon tiroid sebagai indikator perubahan metabolisme pada sapi bali jantan. Penelitian ini menggunakan enam ekor sapi bali jantan umur 2-3 tahun yang ditransportasikan dari pelabuhan Tenau Kupang menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta selama kurang lebih 108 jam. Pengambilan sampel darah melalui vena jugularis dilakukan pada pra-transportasi (IKH pagi, IKH sore, muat dan rest di kapal) dan selama transportasi (jam ke-14 dan ke-38) serta saat transportasi berakhir (jam ke-108). Pengujian kortisol, T3 dan T4, menggunakan metode ELISA. Serum kortisol meningkat secara signifikan setelah pengangkutan dan pemuatan ke kapal dari 33,81 ng/ml (IKH) menjadi 138,41 ng/ml (P<0,05). Pada tahap selanjutnya kortisol mengalami penurunan pada saat rest (41,54 ng/ml) dan pada saat transportasi jam ke 14 (33,28 ng/ml), sedikit meningkat pada jam ke-38 (59,17 ng/ml) dan kembali ke level basal saat transportasi berakhir (27,19 ng/ml). Pada penelitian ini tidak ditemukan perubahan signifikan pada hormon tiroid (T3 dan T4). Konsentrasi T3 dan T4 selama di IKH pada pagi hari (1,10 ng/ml dan 139,03 ng/ml) dan pada sore hari (1,17 ng/ml dan 157,14 ng/ml), T3 cenderung naik dan T4 turun saat muat (1,48 ng/ml dan 104,81 ng/ml), kembali ke level basal pada saat rest (T3: 1,10 ng/ml, T4: 163,92 ng/ml) dan pada saat transportasi jam ke-14 (T3: 1,20 ng/ml, T4: 167,75 ng/ml). Pada jam ke-38 T3 mengalami sedikit peningkatan (1,50 ng/ml) sampai akhir transportasi (1,65 ng/ml), sedangkan T4 mengalami penurunan jam ke-38 (143,40 ng/ml) dan sedikit meningkat pada akhir transportasi (151,93 ng/ml). Kesimpulan dari penelitian ini adalah transportasi laut dengan kapal khusus ternak dari Kupang ke Jakarta selama 108 jam tidak menyebabkan perubahan signifikan terhadap konsentrasi hormon kortisol dan tiroid. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa transportasi ini tidak mengakibatkan stres dan gangguan metabolisme. Kata kunci : kortisol, kapal ternak, transportasi, T3, T4.
Cattle transportation is one of the distribution methods used to fulfill the meat demand and increase cattle population. Several of transportation factors can affect stress such as loading and unloading, density, extreme temperatures, waves, deficiency of feed and drink, length of travel and transportation facilities that are not appropriate for animal welfare. Stress can affect cattle metabolism and cause a decrease in body weight which has an impact on economic losses. This study aims to know the effects of transportation using cattle ship on cortisol profile as an indicator of stress and thyroid hormones as an indicator of metabolic change in male Bali cattle. Six male Bali cattle, 2-3 years old were selected for the study and transported from Tenau Sea Port, Kupang to Tanjung Priok Sea Port, Jakarta during 108 hours. Blood samples were collected from the jugular vein at pre-transport (in IKH at the morning and afternoon, loading and rest on board), during transportation (14th and 38th hours) and at the end of transportation (108th hour). Concentrations of cortisol, T3 and T4 were measured by ELISA method. Serum cortisol increased significantly after loading to the cattle ship from 33.81 ng/ml (IKH) to 138.41 ng/ml (P<0.05). Next period, cortisol decreased at rest time (41.54 ng/ml) and at the 14th hour of transportation (33.28 ng/ml), cortisol increased slightly at the 38th hour (59.17 ng/ml) and returned to the basal level at the end of transportation (27.19 ng/ml). In this study there were no significant changes in thyroid hormones (T3 and T4). The concentrations of T3 and T4 at the IKH in the morning (T3: 1.10 ng/ml; T4: 139.03 ng/ml) and in the afternoon (T3: 1.17 ng/ml; T4: 157.14 ng/ml) were not significantly different. Concentration of T3 is tended to increase and T4 is tended to decrease during loading (1.48 ng/ml and 104.81 ng/ml) and returned to basal level at rest (T3: 1.10 ng/ml; T4: 163.92 ng/ml) and at 14th hour of transportation (T3: 1.20 ng/ml; T4: 167.75 ng/ml). T3 slightly increased at the 38th hours (1.50 ng/ml) and at the end of transportation (1.65 ng/ml), while T4 decreased at the 38th hours (143.40 ng/ml) and slightly increased at the end of transportation (151.93 ng/ml). The conclusion of this study is that transportation using cattle ship from Kupang to Jakarta during 108 hours does not cause significant changes in cortisol and thyroid hormones concentration. Based on these finding this method of transportation does not cause stress and metabolic disorders.
Kata Kunci : kortisol, kapal ternak, transportasi, T3, T4.