Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kawasan Wisata
Hanyfa Rahmawati, Silverius Djuni Prihatin
2015 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)INTISARI Pariwisata kini menjadi sebuah industri andalan yang mampu membawa perekonomian masyarakat dalam taraf yang lebih baik. Peningkatan ekonomi ini disinyalir sebagai salah satu keunggulan industri parwisata yang multidimensial. Cakupan bidang dalam industri parwisata terindentifikasi cukup luas, sehingga mendorong kemajuan di bidang-bidang yang „masih‟ berhubungan dengan parwisata. Kemapanan industri pariwisata juga dinilai sebagai industri yang mumpuni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Bahkan seiring dengan berjalannya waktu banyak perspektif pembangunan yang kemudian dikaitkan dengan pengembangan dan pengelolaan kawasan wisata. Salah satunya dengan perspektif pemberdayaan masyarakat. Perspektif ini merupakan jelmaan perspektif pembangunan yang mengikutsertakan masyarakat dalam pembangunannya, dengan kata lain perspektif ini mendorong partisipasi masyarakat untuk mewujudkan sebuah pembangunan. Pengelolaan dan pengembangan yang kemudian dilirik dengan perspektif pemberdayaan masyarakat menjadi sebuah prestasi besar karena kecakapannya yang membawa masyarakat mampu mengelola potensi wisata menjadi lebih baik. Salah satu obyek wisata yang menggunakan perspektif pemberdayaan masyarakat dalam basis pengelolaannya adalah obyek wisata Nglanggeran. Obyek wisata Nglanggeran merupakan obyek wisata yang dikelola masyarakat yang bersinergi dengan stakeholder-stakeholder lainnya. Dalam pengelolaan dan pengembangannya, obyek wisata ini selalu dilakukan dengan kerjasama yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Hingga sekarang pemberdayaan masyarakat yang diterapkan dalam pengelolaan obyek wisata Nglanggeran menghasilkan sebuah kemandirian didalam masyarakat tersebut. Kemandirian yang tercipta dari usaha pemberdayaan masyarakat yang dilakukan tersebut tertuang dalam wujud keberhasilan individu dalam meningkatkan kesejahteraannya dan terwujud dalam kemandirian masyarakat dalam membangkitkan fungsi organisasi masyarakat yang telah lama tidak berfungsi. Untuk mengupas hasil penelitian, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitiatif deskriptif. Analisis data yang diperoleh dari beberapa informan dipilih secara purposive sampling yaitu sampel bertujuan, dengan menguji kredibilitas menggunakan triangulasi dan diskusi untuk teknik keabsahan datanya. Data untuk memperkuat informasi peneliti lakukan dengan wawancara baik terstruktur maupun tidak, dokumentasi, dan observasi lingkungan obyek wisata. Dari hasil penelitian, diperoleh bahwa pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam basis pengelolaan dan pengembangan kawasan wisata membutuhkan proses manajerial yang panjang, dimana proses tersebut menyatu dalam proses pemberdayaan. Proses tersebut berhubungan dengan tahapan-tahapan khusus dimana tahapan tersebut yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, serta tahap monitoring dan evaluasi. Kesemua tahapan diperankan oleh masyarakat berkerjasama dengan stakeholder lainnya. Untuk menjalankan proses yang begitu panjang tersebut, terdapat strategi khusus didalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, strategi tersebut diperoleh dari hambatanhambatan yang sering muncul dalam pengelolaan kawasan wisata. Kesemua proses dilakukan juga akan menghasilkan sebuah kemandirian didalam masyarakat tersebut, baik secara ekonomi, sosial, kebudayaan, dan aspek kehidupan lainnya. Kata Kunci : Pemberdayaan Masyarakat, Proses, Strategi Pemberdayaan, Peran Stakeholder
Kata Kunci : Pemberdayaan Masyarakat