Trend Pengangguran Terbuka Terdidik di Daerah Istimewa Yogyakarta
ARUMNINGTYAS, Riska, Andreas Soeroso
2014 | Skripsi | SosiologiABSTRAK Selama tahun 2007 hingga 2011 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) bagi kelompok berpendidikan SMP ke bawah mengalami penurunan, sementara TPAK bagi kelompok berpendidikan SMA ke atas mengalami peningkatan. Namun ternyata selama lima tahun tersebut, pengangguran terbuka dari kelompok berpendidikan SMA ke atas (pengangguran terbuka terdidik) selalu lebih tinggi dari pada kelompok berpendidikan SMP ke bawah. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui trend pengangguran terbuka terdidik di DIY dan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari hasil survai yang dilakukan oleh BPS, yaitu raw data SAKERNAS tahun 2007 hingga 2011. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kelamin, daerah tempat tinggal, kelompok umur dan pendidikan tertinggi pengangguran terbuka. Teknik analisis data yang digunakan adalah crosstab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trend pengangguran terbuka terdidik di dominasi oleh laki-laki, berdasarkan teori nurture dari John Stuard Mill hal ini menunjukkan bahwa terdapat ideology patriarkhi yang dominan di masyarakat. Trend pengangguran terbuka terdidik yang lebih tinggi di perkotaan menunjukkan bahwa kesenjangan antara desa dengan kota masih tinggi sehingga arus pencari kerja dari desa banyak yang menuju kota. Trend pengangguran terbuka terdidik juga didominasi pemuda yang berada pada kelompok umur 20-24 tahun, ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang ada kurang mampu memenuhi kebutuhan pencari kerja. Pendidikan formal masih mencetak lulusan yang “siap tahu” untuk selanjutnya dilatih bekerja, bukan “siap kerja”. Faktor yang mempengaruhi trend pengangguran terbuka terdidik yang dominan pada laki-laki adalah adanya konstruksi bahwa laki-laki merupakan pencari nafkah utama dalam keluarga, sementara perempuan hanya sebagai pencari nafkah sekunder, perempuan juga memiliki beban ganda jika mereka bekerja, selain itu masih ada konstruksi bahwa “kodrat perempuan” adalah bekerja dalam sektor domestik. Faktor yang mempengaruhi trend pengangguran terbuka terdidik dominan di perkotaan adalah urbanisasi, terdapatnya sektor modern atau sektor formal di kota, dan kuatnya solidaritas di desa yang menyebabkan orang desa saling bantu-membantu mencarikan pekerjaan sanak saudaranya. Sementara trend pengangguran terbuka terdidik dominan pada pemuda kelompok umur 20-24 tahun dipengaruhi oleh faktor tunjangan dari keluarga berupa uang bulanan maupun pangan, belum adanya tanggung jawab terhadap keluarga, kelangkaan sumber daya dan hambatan institusi sosial. Hal ini dikarenakan kurangnya pengalaman kerja dan ketrampilan, ketidaksesuaian antara pendidikan formal yang memproduksi ketrampilan dengan kebutuhan pencari kerja, adanya kebijakan dari perusahaan yang menuntut banyak persyaratan dan keahlian khusus untuk memasukinya, serta adanya harapan untuk mendapatkan pekerjaan berstatus sosial tinggi. Kata Kunci : pengangguran terbuka, pengangguran terdidik
Kata Kunci : Sumber Daya Manusia