Kepentingan Perusahaan dalam Pemilihan Bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Studi Managemen CSR PT. Sinarmas Agribusiness and Food Technology (SMART), Tbk. Refinery Tarjun dalam Pengelolaan CS
YUNIARSIH, Dini Prima, Suparjan
2014 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)ABSTRAK Isu-isu CSR yang berkembang pada saat ini mengarah pada bentuk pemberdayaan sebagai bentuk CSR paling baik untuk dilakukan. Ditambah lagi adanya penilaian mengenai CSR dalam peningkatan kinerja perusahaan dan pengelolaan lingkungan hidup (PROPER) terkait dengan aspek-aspek sosial, yang mengedepankan aspek pemberdayaan pada lingkup pembangunan sosial. Sayangnya, penialaian ini tidak diikuti oleh semua perusahaan, yang terpenting bagi perusahaan adalah melakoni peraturan mengenai tanggung jawab sosial pada UU No 40 Tahun 2007 Pasal 74 tentang perseroan terbatas. Menjalankan peraturan dalam undang-undang bagi perusahaan adalah hal yang wajib, tetapi pada kasus ini belum semua melakukan bentuk pemberdayaan. Masih saja ada perusahaan yang melakukan CSR dengan bentuk charity dan fisik. Bentuk CSR charity dan fisik dipandang dengan sebelah mata, dan secara implisit dinilai tidak baik. Namun, penilaian ini belum dikaji lebih dalam pada persepsi, pengalaman, dan kepentingan yang membentuk habitus setiap individu atau kelas yang bersangkutan, baik di dalam perusahaan, masyarakat, dan stakeholder. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai “Kepentingan Perusahaan dalam Pemilihan Bentuk Corporate Social Responsibility (CSR)” dengan contoh kasus pada perusahaan ekstraksi kelapa sawit yaitu PT.SMART, Tbk Refinery Tarjun. Penyajian hasil penelitian ini diawali dengan persepsi perusahaan, masyarakat, dan stakeholder mengenai bentuk CSR yang saat ini dilakukan. Kemudian menganalisis persepsi dengan proses implementasi yang dijalankan oleh perusahaan. Hasilnya bentuk CSR yang saat ini dilakukan terlihat seperti terjebak pada eteriokrasi; pelimpahan fungsi negara kepada perusahaan untuk menangani hajat hidup orang banyak. Namun hal ini, dikarenakan persepsi perusahaan yang memandang diri sendiri, masyarakat dan stakeholder. Selain itu juga dilihat dari persepsi masyarakat dan stakeholder terhadap gerak CSR. Sehingga peneliti dapat menyimpulkan bahwa penerapan bentuk CSR didasarkan pada persepsi dan pengalaman yang disebut habitus, dari perusahaan, masyarakat, dan stakeholder yang ada. Persepsi-persepsi yang dibentuk bersinggungan dengan modal yang dimiliki oleh setiap kelas dan bekerja pada ranah pembangunan interaksi sosial antara masyarakat dan perusahaan. Akhirnya dari interaksi sosial yang terbangun itu, terciptalah sebuah pemilihan tindakan yang dilakukan oleh CSR sebagai agen yang menghubungkan antara perusahaan dengan masyarakat maupun stakeholder. Kata Kunci: CSR, charity dan fisik, habitus kelas, kepentingan perusahaan, perusahaan ekstraksi kelapa sawit.
Kata Kunci : CSR