Laporkan Masalah

Pengambilan Keputusan PKBL PT. Angkasa Pura II Kantor Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta

SANTOSO, Ivan Dwi, Bahruddin

2013 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

Intisari Welfare Pluralism atau Pluralisme Kesejahteraan menjadikan perusahaanperusahaan mulai melakukan konsep tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) kepada masyarakat sekitar perusahaan. Perusahaan BUMN melakukan tanggungjawab sosial dan lingkungan dengan nama PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) yang diatur melalui Peraturan Menteri BUMN No.5/MBU/2007. Salah satunya PT. Angkasa Pura II melalui Unit SME-CD (Small and Medium Enterprise – Community Development) di Bandara Soekarno-Hatta (BSH), Kota Tangerang, Banten. Pada tingkatan internasional, CSR berkembang hingga melahirkan ISO 26000. Didalamnya terdapat hal-hal pentig yang dalam implementasi CSR, seperti Prinsip-prinsip Tanggungjawab Sosial yang mengandung tujuh hal penting. Ketujuh hal tersebut menjadi acuan standar dalam tata kelola CSR yang baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk melihat metode yang digunakan dalam pengambilan keputusan kegiatan PKBL Monumental di SMECD PT. Angkasa Pura II. Unit analisis yang digunakan adalah Unit SME-CD, dimana data dikumpulkan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah dianalisis, data disajikan, dan diambil kesimpulan. Pada tahun 2012 Kementerian BUMN menyatakan prioritas PKBL pada bidang kesehatan. Sesuai intruksi dari Direksi PT. Angkasa Pura II BSH, Unit SME-CD melalukan tugasnya yang bersifat monumental (bantuan fisik secara utuh) atau disebut PKBL Monumental. Dimana bertujuan untuk membangun citra baik perusahaan di masyarakat sekitar perusahaan. Kegiatan PKBL Monumental tersebut adalah penyaluran ambulan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Pengambilan keputusan (Decision Making) perencanaan kegiatan PKBL Monumental penyaluran ambulan tidak sesuai prinsip tanggungjawab sosial ISO 26000 karena menggunakan pengambilan keputusan Model Elit. Pengambilan keputusan yang hanya melibatkan aktor-aktor elit atau kelompok minoritas yang disisi oleh kelompok yang memiliki kekuasaan dan otoritas tinggi, sedangkan kelompok mayoritas masyarakat sekitar perusahaan sebagai Stakeholder tidak ikut berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan PKBL Monumental. Keputusan menjadi sangat dekat dengan permainan politik pemerintah, sehingga makna kegiatan PKBL Monumental penyaluran ambulan menjadi tidak sesuai dengan tujuan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan tersebut hanya menjadi preferensi elit dalam mencari keuntungan kelompok penguasa, tanpa melihat tuntutan kelompok lemah yang tidak memiliki kekuasaan. Dimana kelompok lemah tersebut adalah masyarakat sekitar perusahaan PT. Angkasa Pura II Bandara Soekarno-Hatta yang seharusnya menjadi Stakeholder dan turut berperan dalam menentukan kegiatan PKBL Monumental. Padahal menurut ISO 26000, Stakeholder menjadi sangat pentingdalam ketepatan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang tepat akan menjamin hasil kegiatan yang tepat sasaran pada masalah yang sebenarnya menjadi tuntutan masyarkat untuk meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan sesuai dengan idelaisme CSR. Keywords: CSR, PKBL Monumental, ISO 26000, Decision Making, Model Elit

Kata Kunci : Kemitraan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.