Politisasi Identitas Etnis dalam Pilkada :(Studi tentang Politisasi Identitas Betawi oleh Kandidat Beretnis Betawi dalam Pemilihan Gubernur DKI JakartaTahun 2012).
KAMALIA, Tri Suci, AAGN Ari Dwipayana
2013 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)ABSTRAKSI Identitas merupakan ciri khas yang dimiliki oleh suatu individu maupun kelompok yang menjadi pintu gerbang bagi orang lain mengenal mereka. Rupanya, saat Orde Baru runtuh, identitas menjadi alat ampuh bagi elite-elite politik yang bersaing di pemilihan kepala daerah. Unsur primordial yang saat Orde Baru kian dipendam menjadi suatu euforia tersendiri. Politisasi identitas nampak muncul dari berbagai cara, seperti pemakaian atribut-atribut identitas daerah yang bersangkutan. Nampaknya di Jakarta tidak mau ketinggalan. Saat pilkada langsung tahun 2012, kandidat asli kian menunjukkan identitas mereka sebagai orang asli Jakarta dan asli Betawi. Dari sini muncul pergeseran makna identitas sebenarnya. Identitas kerap dipolitisasi oleh anggota mereka sendiri dengan menampakkan diri mereka sebagai bagian dari identitas tersebut. Sehingga penelitian ini berfokus pada bagaimana politisasi identitas yang dilakukan oleh kandidat asli Jakarta/Betawi di pilkada Jakarta tahun 2012? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Untuk mendapatkan data, peneliti mewawancarai langsung dan tatap muka dengan narasumber, yakni tim sukses pasangan Foke-Nara. Timses merupakan orang yang paling tahu mengenai seluk beluk strategi kampanye, sehingga penelitian ini merupakan perkataan dari timses yang dipadukan dengan dokumen-dokumen sebagai literatur. Didalam penelitian ini, digunakan beberapa kerangka berpikir, yaitu mengenai identitas, politisasi identitas, serta penggabungan kedua konsep yakni politisasi identitas di pilkada. Politisasi identitas dipakai untuk melihat bahwa identitas dijadikan instrumen bagi elite-elite politik untuk merebut kekuasaan. Konsep mengenai politisasi identitas di pilkada untuk memfokuskan bahwa arena politisasi identitas adalah pilkada, sedangkan elite yang bermain merupakan kandidat yang maju dalam pilkada. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pasangan Foke-Nara tidak hanya menggunakan identitas di permukaan saja, seperti pemakaian atribut maupun pelemparan isu identitas. Foke-Nara juga memakai jaringan-jaringan identitas yang mereka miliki untuk menggarap massa Betawi khususnya. Mereka memanfaatkan Bamus Betawi yang merupakan organ induk organisasi Betawi. Bamus dengan kandidat saling bersinergi satu sama lain dengan membentuk organ taktis selama pilkada. Penggalangan secara underground tersebut menghadirkan relawan-relawan dari ormas Betawi yang nantinya akan terjun langsung ke masyarakat Betawi. Nara pun ikut terjun langsung baik saat pendirian, strategi penggalangan, hingga pelaksanaan. Dari sini, peneliti dapat menarik adanya politisasi identitas yang dilakukan oleh Foke-Nara. Kata Kunci: Identitas, Politisasi Identitas, Pilkada.
Kata Kunci : Pemilihan Kepala Daerah