Laporkan Masalah

Kuasa dan Anti Kuasa Sistem Pendidikan :(Studi tentang Peran Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah dalam Mengkritik Penerapan Sitem Pendidikan Nasional).

AINUROFIQ, Hahib, Abdul Gaffar Karim

2013 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)

INTISARI Sistem pendidikan modern di Indonesia dengan manifestasi institusi berupa sekolah lahir dan dikonstruksi pada masa penjajahan. Melalui sistem ini, dijanjikan bagi pelajar masa depan yang lebih baik. Tetapi sekolah ternyata juga melahirkan berbagai masalah yang sangat kompleks. Bahruddin seorang masyarakat dari desa Kalibening, Salatiga membaca berbagai masalah struktural dari rezim pendidikan persekolahan. Melalui berbagai gagasannya ia mencoba mengembangkan berbagai gagasannya sendiri dan menciptakan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Dalam proses tersebut muncul pergulatan gagasan yang melahirkan sebuah relasi kuasa dan sebentuk perlawanan dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah terhadap Sistem Pendidikan Nasional. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pola relasi kuasa dan kritik Bahruddin dan Qaryah Thayyibah terhadap sistem Pendidikan Nasional. untuk menjawab itu penulis menggunakan konsep Kekuasaan dan Perlawanan yang dirumuskan oleh Michael Foucault. Penelitian Etnografi digunakan untuk menangkap berbagai makna budaya dalam praktik pendidikan yang dikembangkan di Qaryah Thayyibah. Penulis melakukan observasi dengan tinggal langsung di rumah Bahruddin mengamati berbagai aktivitas anak-anak komunitas setiap hari. Hal tersebut diperdalam dengan melakukan wawancara ke beberapa pihak yang terlibat di KBQT. Bahruddin mengadopsi teori konstruktivis yang menempatkan anak sebagai subyek pembelajar serta gagasan Paulo Freire dan Ivan Illich dalam praktik pendidikannya. Berbagai tradisi sekolah dikritik seperti pola relasi guru-murid, kegiatan belajar dalam kelas, sampai pada birokrasi persekolahan yang terlalu kaku. Indikator keberhasilan di Qaryah Thayyibah adalah produksi sementara sekolah adalah konsumsi. Lebih jauh, pendidikan di Qaryah Thayyibah menempatkan masyarakat dan lingkungan sebagai basis material pembelajaran. Berbeda dengan sekolah yang kadang anti-realitas dan berorientasi pada prestasi individu. Proses konstruksi yang membentuk cara berpikir masyarakat yang menganggap sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan yang harus diikuti membuat gagasan Bahruddin tidak mudah untuk diterima. Melalui jaringan aktor seperti akademisi, praktisi pendidikan, media, dan berbagai pihak yang tertarik dengan gagasannya Qaryah Thayyibah mulai dikenal dan dipertimbangkan eksistensinya. Negara tidak diam melainkan tetap hadir dalam konstruksi berpikir masyarakat. Proses perlawanan terhadap kekuasaan melahirkan kontestasi. Kontestasi tersebut melahirkan kompromi dimana Qaryah Thayyibah tetap menggunakan beberapa logika sekolah dengan posisi formal mereka sebagai Pendidikan Kesetaraan dan mempersilahkan anak untuk mendapatkan ijasah (kata kunci: Sistem Pendidikan Nasional, Bahruddin, Qaryah Thayyibah, Kuasa,

Kata Kunci : Pendidikan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.