Laporkan Masalah

Dibalik Retorika Pemberdayaan : (Sebuah Analisis Kritis Atas Rehabilitasi Vokasional Sebagai Bentuk Pemberdayaan Ekonomi Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat YAKKUM

FEBRIANI, Ajeng Diah Noor, Arie Sujito

2013 | Skripsi | Sosiologi

ABSTRAKSI Penelitian “Dibalik Retorika Pemberdayaan: Sebuah Analisis Kritis Atas Rehabilitasi Vokasional Sebagai Bentuk Pemberdayaan Ekonomi Pusat Rehabilitasi YAKKUM”, melihat program pengembangan ekonomi di sebuah panti rehabilitasi difabel, sebagai respon atas isu penyediaan kesempatan kerja difabel. Meluasnya peran lembaga rehabilitasi kedalam ranah ekonomi difabel membuat program pengembangan ekonomi lewat pelatihan ketrampilan ditawarkan oleh panti-panti rehabilitasi. Tidak jarang, pelaksanaan rehabilitasi vokasional yang diklaim sebagai proses pemberdayaan difabel oleh lembaga rehabilitasi, pada kenyataannya tidak sepenuhnya mampu memberdayakan difabel, terutama dalam hal mendorong difabel memasuki lapangan kerja. Untuk itu, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui apa saja program pengembangan ekonomi yang diselenggarakan Pusat Rehabilitasi YAKKUM guna mendorong difabel memasuki lapangan kerja, bagaimana konsep pemberdayaan berdasarkan sudut pandang PRY dan anak didik difabel dan bagaimana difabel binaannya merespon pengembangan ekonomi yang dilakukan dalam rangka memberdayakan mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pengumpulan data-data primer berbasis observasi dan wawancara mendalam kepada informan, yaitu perwakilan lembaga rehabilitasi YAKKUM sebagai pelaksana dari program pengembangan ekonomi, dan 6 orang anak didik rehabilitasi vokasional sebagai kelompok sasaran kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi vokasional yang diklaim oleh lembaga rehabilitasi sebagai bagian dari pemberdayaan difabel pada kenyataannya tidak menjadi jaminan atas terbentuknya kemandirian difabel dalam ranah ekonomi. Konsep rehabilitasi di dalam rehabilitasi vokasional itu sendiri juga menunjukkan indikasi kontrol terhadap berbagai aspek dari difabel oleh lembaga rehabilitasi, tidak hanya pada ranah tubuh difabel, namun juga termasuk ranah sosial dan ekonomi. Kondisi tersebut diikuti oleh sikap pasif dari difabel, yang memilih menerima segala bentuk treatment dari lembaga rehabilitasi. Pada akhirnya, pemberdayaan menjadi sebuah janji-janji kosong karena gagalnya konsep pemberdayaan ditangkap oleh lembaga yang semestinya dapat menjadi agen pemberdaya, serta dikesampingkannya posisi difabel sebagai aktor utama dalam program pemberdayaan. Tidak ubahnya seperti komoditas yang semakin ramai diperdagangkan, pemberdayaan mulai kehilangan makna dan nilai fungsionalnya. Sementara itu, difabel terjebak pada dilema ketidakberdayaan yang berkepanjangan dalam meningkatkan derajat hidup mereka.

Kata Kunci : Difabel ; Pemberdayaan Masyarakat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.