Laporkan Masalah

Gerakan Tarbiyah Kammi dalam Kontestasi Politik Kampus : (Studi Kasus di UGM DIY).

MUHYIDDIN, Muhammad, Muhammad Najib

2012 | Skripsi | Sosiologi

ABSTRAKSI Berbicara tentang perubahan sosial dalam masyarakat, peranan pemuda terdidik (mahasiswa) dan institusi kampus akan senantiasa disinggung. Para mahasiswa dari era Boedi Oetomo (1928) hingga kemunculan era reformasi 1998 melakukan kerja-kerja intelektual untuk menciptakan perubahan di berbagai tatanan. Kendati demikian, gerakan mahasiswa sebenarnya bukanlah sebuah entitas yang utuh, padu, dan terikat oleh satu pandangan visi ideologi yang langgeng dari masa ke masa. Gerakan mahasiswa dan institusi kampus yang dicitrakan sebagai agen utama dari perubahan justru menjadi daya tarik tersendiri bagi berbagai kekuatan sosial untuk beradu memperebutkan pengaruh. Mendapatkan sejumlah kader di universitas adalah sama dengan melakukan investasi besar di masa depan untuk memperluas gagasan-gagasan tertentu. Pertaruhan ini juga terjadi lebih-lebih antar kelompok intelegensia Muslim—di mana pemeluk agama Islam di Indonesia adalah mayoritas—yang memiliki pandangan hidup tertentu dalam menyikapi isu modernisasi dan sekularisasi (Latif, 2005). Di UGM, di antara berbagai organisasi kemahasiswaan ekstra, KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) memiliki pengaruh yang besar. KAMMI mampu secara massif mewacanakan ideologinya di ruang publik kampus. Lembaga strategis semacam BEM, AAI (Asistensi Agama Islam) dan Jamaah Shalahuddin (JS) menjadi lahan persemaian KAMMI memperbanyak kuantitas. Karena menduduki posisi strategis di lembaga pemerintahan kampus level mahasiswa, KAMMI pun mendapat resistensi. HMI, PMII, dan IMM pun melakukan koalisi taktis untuk mengimbangi kekuatan KAMMI, termasuk dengan memakai isu pluralisme. Namun upaya ini tidak cukup berhasil karena KAMMI membangun simbiosis mutualisme (Patronase) dengan kelompok yang sangat kuat dari luar kampus. Walhasil, agar tetap eksis, anggota koalisi memilih berekspresi di luar lembaga BEM, AAI, dan JS. Dengan memakai pisau analisis Mark Weber tentang kuasa (authority) dan legitimasi; serta Pierre Bourdeu dengan habitus-nya , penulis melihat politik di ranah struktural dan post-struktural. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif-historis. Wawancara mendalam dilakukan terhadap para aktor kunci melalui metode snowball untuk menggali informasi sedetail mungkin.

Kata Kunci : Gerakan Mahasiswa


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.